PADA tubuh manusia, paru-paru dapat diibaratkan sebagai sebuah spons yang terus-menerus menyaring udara untuk tubuh.
Namun, pada beberapa orang, spons ini perlahan mengeras, kaku, dan kehilangan kelenturannya.
Inilah yang terjadi pada penderita Idiopathic Pulmonary Fibrosis (IPF).
Fibrosis paru idiopatik atau Idiopathic Pulmonary Fibrosis (IPF) merupakan penyakit yang ditandai oleh terbentuknya jaringan parut (fibrosis) pada paru-paru secara bertahap.
Penyebabnya belum diketahui pasti, namun proses ini mengganggu kemampuan paru-paru untuk bekerja dengan optimal.
Gejalanya muncul secara perlahan, meliputi sesak napas saat beraktivitas, batuk kering berkepanjangan, hingga lelah yang tidak kunjung reda.
Diagnosis dini pada IPF akan mempercepat penanganan yang hendak dilakukan.
Seperti pemberian terapi antifibrotik untuk memperlambat progresi.
Sebaliknya, keterlambatan diagnosis dapat memperburuk fungsi paru dan prognosisnya.
Sehingga, HRCT menjadi sebuah modalitas utama yang sering digunakan.
High Resolution Computed Tomography (HRCT) bekerja dengan prinsip pemindaian menggunakan sinar-X yang dipancarkan dalam bentuk irisan 0,6 mm hingga 1,5 mm.
Baca Juga: Peran Teknologi CT Scan Bantu Deteksi Emboli Paru Lebih Cepat dan Aman
Tabung sinar-X dan detektor berputar mengelilingi pasien mengumpulkan data, yang kemudian diproses menggunakan algoritma rekonstruksi dengan frekuensi spasial tinggi yang akan mempertajam detail gambar.
HRCT digunakan untuk menilai struktur halus jaringan paru dan saluran pernapasan kecil, dengan pengambilan gambar pada fase inspirasi dan ekspirasi guna menilai fungsi paru serta perubahan dinamis jaringan.
Mengingat gejalanya non-spesifik, HRCT menjadi sangat penting dalam mendiagnosis IPF dengan menampilkan ciri khas fibrosis paru seperti retikulasi bilateral dan honeycombing.
Dibandingkan rontgen, HRCT menghasilkan citra yang detail dengan proses pemeriksaan cepat dan non-invasif.
Meski demikian, HRCT memiliki keterbatasan karena hanya menampilkan struktur jaringan paru dari luar.
Jika diperlukan, dokter dapat melakukan pemeriksaan lanjutan seperti biopsi untuk memastikan diagnosis.
Dengan memanfaatkan HRCT secara tepat, deteksi dini IPF menjadi lebih memungkinkan, sehingga pasien dapat memperoleh pengobatan yang lebih cepat dan efektif.
Dosen pengampu:
Amillia Kartika Sari, S.Tr.Kes, M.T.
Penulis:
Aura Ayu, Charenina Ningayomi, Ken Mutiara, Halimah Alatas, Maria Carlita, Nabila Sheila, Retno Ika
Mahasiswa Prodi D4 Teknologi Radiologi Pencitraan, Universitas Airlangga
Referensi:
Saeed, S., Mohammed, N., et al. (2023). Idiopathic Pulmonary Fibrosis in a Young Adult: A Rare Presentation and Management Challenges. Cureus, 15(8), e43010. https://doi.org/10.7759/cureus.43010
Zhang, H., Li, X., et al. (2024). Quantitative CT analysis of idiopathic pulmonary fibrosis and correlation with lung function study. BMC pulmonary medicine, 24(1), 437. https://doi.org/10.1186/s12890-024-03254-9
Editor : Ainul Hafidz