Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) adalah suatu kondisi dimana terjadi aliran balik isi lambung ke kerongkongan yang mengakibatkan peradangan pada dinding kerongkongan.
Biasanya pasien akan mengeluhkan sensasi terbakar di ulu hati (heartburn) disertai perasaan asam di lidah.
Nyeri yang muncul biasanya bermula dari ulu hati dan menjalar hingga ke leher.
GERD bukanlah suatu penyakit turunan, namun risiko menjadi semakin besar pada individu berusia diatas 50 tahun, memiliki body mass index (BMI) >30 atau obesitas, merokok, cemas, depresi, dan berkurangnya aktivitas fisik (olahraga).
Untuk menjawab asumsi publik terkait GERD di saat berpuasa, berikut saya paparkan satu penelitian yang dilakukan oleh salah satu cendekiawan di Arab Saudi (Bohamad, dkk).
Mereka memperoleh data melalui pengisian kuesioner secara konsekutif sampling yang dilakukan dalam dua waktu terpisah. Yakni saat puasa Ramadan dan setelah Ramadan.
Penelitian ini mencapai kesimpulan yang menyatakan, tidak ada keparahan gejala GERD antara sebelum dan sesudah berpuasa.
Ada pula penelitian yang menyatakan manfaat berpuasa bagi tubuh.
Di antaranya, meningkatkan sensitivitas kerja insulin tubuh sehingga mengurangi risiko penyakit diabetes melitus.
Selain itu, puasa juga meningkatkan aktivitas sistem imun tubuh sehingga tubuh akan jauh lebih terlindungi dari penyakit.
Untuk mendapatkan pengalaman puasa yang nyaman dan aman kita perlu melakukan beberapa hal berikut:
(1) Menghindari makanan yang dapat memicu kenaikan asam lambung seperti makanan pedas, asam, dan berminyak serta menghindari minuman berkafein.
(2) Membagi porsi makan menjadi beberapa porsi kecil, dan diusahakan untuk tidak sampai terlalu kenyang.
Seperti yang diajarkan Rasulullah untuk makan secukupnya dan tidak berlebihan. Layaknya pepatah mengatakan makanlah sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang.
(3) Pilih makanan yang ringan dan mudah dicerna serta berserat tinggi. Makanan yang mudah dicerna biasanya memiliki karbohidrat sederhana, rendah protein, dan sedikit lemak.
(4) Menjaga berat badan ideal melalui olahraga dan mengurangi asupan gula.
Asupan gula yang tinggi akan menyulitkan tubuh untuk membakar cadangan lemak dan berujung obesitas.
(5) Hindari berbaring setelah makan, jaga tubuh tetap terhidrasi, dan tidur dengan posisi kepala lebih tinggi.
Penulis:
dr Heri Puguh Widodo
Pelayanan Medis (Yanmed) RSU PKU Muhammadiyah Mojoagung
Editor : Ainul Hafidz