Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Siswa di Jombang Meninggal Dunia Karena DBD, Sekolahnya Segera Difogging

Wenny Rosalina • Jumat, 27 Desember 2024 | 20:52 WIB
PENCEGAHAB: Petugas melakukan fogging untuk mencegah wabah penyakit DBD di Jombang, beberapa waktu lalu.
PENCEGAHAB: Petugas melakukan fogging untuk mencegah wabah penyakit DBD di Jombang, beberapa waktu lalu.

JombangBanget.id – Satu siswa SDN Rejoagung 2 Kecamatan Ngoro, Jombang meninggal dunia karena demam berdarah dengue (DBD), Senin (23/12).

Yakni ZFA, 11, yang duduk di kelas 3. Bakal dilakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan fogging di lingkungan sekolah, Jumat (27/12).

’’Baru besok (hari ini) kita lakukan PSN dan fogging di lingkungan SDN Rejoagung 2 Kecamatan Ngoro,’’ kata Kepala Puskesmas Pulorejo Kecamatan Ngoro, dr Siwi Indria Susilowati.

Karena dua hari libur, pemeriksaan jentik di SDN Rejoagung 2 Kecamatan Ngoro belum dilakukan.

Pemeriksaan bakal dilakukan langsung dengan PSN hari ini, sekaligus fogging.

Fogging hanya dilaksanakan di lingkungan SDN Rejoagung 2 saja.

’’Fogging ada syarat dan ketentuan, tidak langsung semua fogging karena bahan baku utama fogging adalah racun. Jadi harus sesuai SOP (standar operasional dan prosedur). Obat yang diberikan juga harus jelas,’’ urainya.

Di waktu yang bersamaan dengan ZFA sakit hingga meninggal, ada beberapa siswa lain yang mengalami demam.

Tapi setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, ternyata bukan DBD melainkan gondongan.

’’Sampai hari ini (kemarin) yang dinyatakan positif DBD hanya ZFA,’’ terangnya.

Puskesmas Pulorejo telah melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) di lingkungan tempat ZFA tinggal, pada Senin (23/12).

Hasil pelacakan menyebutkan, kematian tidak hanya disebabkan oleh DBD tapi juga dehidrasi berat yang disebabkan gastro enteristis (diare berat).

’’Yang bersangkutan juga tidak pernah diperiksa di Puskesmas,’’ jelasnya.

Di Puskesmas Pulorejo hingga Kamis (26/12) tidak merawat pasien DBD. ’’Ada yang dirawat di puskesmas tapi bukan DBD,’’ ucapnya.

Pasien DBD bisa dirawat di puskesmas. Tapi jika trombosit sudah menurun, puskesmas akan merujuk ke rumah sakit. ’’Biar tidak sampai shock,’’ ujarnya.

Menjelang musim hujan, Siwi sudah meminta kepada desa, dan sekolah-sekolah untuk aktif melakukan PSN seminggu sekali setiap Jumat. Kader jumantik yang ada di desa-desa dan sekolah juga sudah diaktifkan.

’’Kami juga minta ada siswa pemantau jentik di semua sekolah yang memeriksa kamar mandi sekolah,’’ tegasnya. (wen/jif)

Editor : Ainul Hafidz
#meninggal #fogging #Sekolah #siswa #Jombang #dbd