Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Awas! Bercanda Menarik Kursi Bisa Sebabkan Fraktur pada Tulang Ekor

Ainul Hafidz • Jumat, 22 Desember 2023 | 13:00 WIB

Ilustrasi rubrik opini di JombangBanget.id
Ilustrasi rubrik opini di JombangBanget.id

Bercanda bersama teman merupakan sesuatu yang menyenangkan untuk dilakukan.

Namun, bercanda berlebihan juga dapat membahayakan diri sendiri hingga orang lain.

Seperti kasus seorang siswi Z, 18, yang hendak duduk tetapi kursinya ditarik temannya.

Sehingga siswi tersebut cedera dan riwayat keluhannya tidak bisa duduk dan terus menerus kesakitan.

Maka, ketika dilakukan pemeriksaan X-Ray, diketahui terjadi fraktur pada daerah sacrococcygeal siswi tersebut.

Sacrococcygeal merujuk pada segmen atau wilayah yang terkait dengan persambungan antara sacrum (tulang di bagian bawah tulang belakang) dan koksigis (tulang ekor manusia).

Fraktur sacrococcygeal merupakan salah satu jenis trauma yang paling umum terjadi.

Fraktur adalah suatu gangguan dari kontinuitas normal tulang yang timbul ketika tekanan pada tulang lebih besar dari kekuatan tulang itu sendiri.

Untuk melihat ada atau tidaknya fraktur diperlukan pemeriksaan penunjang, yakni pemeriksaan secara radiografi.

Pemeriksaan pencitraan dengan menggunakan sinar-X memiliki peran krusial dalam mendiagnosis kondisi tersebut.

Pemeriksaan pencitraan X-Ray merupakan pemeriksaan dengan menggunakan radiasi sebagai sumbernya.

Sehingga, dalam melakukan pemeriksaan ini radiografer harus menyiapkan beberapa langkah aman untuk pasien.

Baca Juga: Prosedur Pemeriksaan MRI Genu dengan Penambahan Sequence Axial  3D SPGR pada Klinis Osteoarthritis

Persiapan yang dilakukan, yakni persiapan pasien akan diminta untuk mengenakan pakaian yang telah disiapkan dan melepaskan benda-benda logam yang mengganggu citra radiografi.

Pemeriksaan sacrococcygeal sangat tricky karena radiasi yang diberikan ke pasien akan terkena gonad bagi laki-laki dan ovarium bagi perempuan.

Maka dari itu, posisi pasien dan faktor eksposi harus dilakukan sesuai prosedur serta arahan dari radiografer.

Dengan begitu dokter radiologi dapat mendiagnosis ada tidaknya fraktur pada sacrococcygeal siswi tersebut dengan melihat hasil foto rontgen.

Upaya dari diagnosis pemeriksaan adanya fraktur pada sacrococcygeal dapat melibatkan modalitas berupa radiografi konvensional.

Serta modalitas yang lebih canggih dan mampu memberi gambaran anatomis secara cross sectional.

Seperti Computed Tomography (CT Scan) dan Magnetic Resonance Imaging (MRI).

Namun, pada kasus ini, menggunakan radiografi konvensional sudah mendapatkan hasil yang cukup jelas dengan adanya fraktur pada area tulang ekor.

Diagnosa fraktur tulang ekor jika dicitrakan menggunakan radiografi konvensional akan menunjukkan di mana letak klinis yang dialami pasien.

Sehingga kita dapat mengetahui bahwa terdapat beberapa bagian pada area sacrococcygeal yang tampak tidak sempurna.

Pada sebuah kasus menunjukkan seorang pasien siswi Z berusia 18 tahun yang mengalami fraktur pada tulang ekor.

Dari citra tersebut tampak tidak simetris dan terlihat dengan jelas bagian tulang yang fraktur.

Dari kasus ini seorang radiografer menggunakan proyeksi pemeriksaan posisi lateral agar dapat melihat indikasi klinis pasien dengan jelas. (*)


Oleh: Kelompok 4 (Sacrococcygeal) - Radiografi II - Teknologi Radiologi Pencitraan

*) Mahasiswa Prodi D-4 Teknologi Radiologi Pencitraan, Fakultas Vokasi, Universitas Airlangga
Kelompok 4: Andira Ervali Putri (413221024), Dava Rifki Rayhansa (413221025), Faradiba Ratu Parasputri (413221038), Ella Azzahra (413221017), Annisa Putri Salsabila (413221086), Nurul Rahmah (413221081), Ananda Yuliana Putri (413221090), Moch Nova Rahmadhani (413221008).

Editor : Ainul Hafidz
#duduk #mri #tulang #bercanda