Iyyak na’bud wa iyyak nasta’in. Sing gawe urip Gusti Allah, yo opo-opo iku opo jare Gusti Allah.
Tentang ’’iyyak na’bud’’ sudah diurai sebelumnya, kini membicarakan ’’wa iyyak nasta’in.’’ Meminta apa-apa itu ya kepada Gusti Allah.
Lho.. apa kita tidak boleh meminta bantuan, meminta sesuatu kepada sesama manusia..?
Baca Juga: Festival Literasi Jombang 2026, Pelajar Didorong Berani Berkarya
Yang dimaksud ’’wa iyyak nasta’in’’ adalah memahami, bahwa yang bisa menyelesaikan segala persoalan adalah, hanyalah Allah Ta’ala saja.
Hanya Dia yang bisa. Meskipun begitu, manusia wajib ikhtiar, usaha sebisa mungkin, termasuk meminta bantuan kepada pihak lain.
’’Na’budu’’ itu simbol ikhtiar, perintah menghamba, perintah berusaha lebih dahulu. Sedangkan ’’nasta’in’’ itu simbol ittikal, berdoa dan pasrah.
Manusia diberi akal dan tenaga, harus digunakan untuk berusaha, sebisa-bisanya.
Baca Juga: Lebih dari Lima Perusahaan Lirik Kawasan Industri Utara Brantas
Tapi tidak liar, melainkan meyakini ada Tuhan sebagai tumpuan akhir. Dan itulah tawakkal, berdoa dan berserah setelah berusaha.
Begitulah panduan agama agar semua gerak-gerik kita bernuansa teologis sehingga membuahkan ibadah berpahala.
Inilah yang membedakan antara orang beriman dan yang tidak beriman.
Tak bisa dipentingkan salah satunya dan diabaikan yang lain. Misalnya anda sedang lapar, tapi tak berusaha, hanya berdoa saja, maka itu tak benar.
Meski mungkin ada makanan datang gratis. Jika tak kunjung ada makanan dan anda mati kelaparan, maka itu mati maksiat.
Sama dengan seseorang yang mengandalkan usaha saja, bahkan membanggakan usahanya yang sukses, maka dia membelakangi Tuhan, tidak mengakui peran Tuhan.
Itu ’’kekufuran’’ tersendiri dan terserah Tuhan, mau diapakan manusia macam begini ini.
Baca Juga: Kapolri Dijadwal ke Jombang, Bakal Disambut Rebana dan Yel-Yel Buruh
Pertama, biasanya dibiarkan saja bahkan ditambah prestasi kesuksesannya. Wow, ini paling berbahaya dan mengerikan.
Orang tersebut makin terpuruk dalam kecongkaan, tenggelam dalam kesombongan dan makin terpental dari rahmat Tuhan.
Kedua, diingatkan dan ditegur dengan cara Tuhan Sendiri, lalu sadar dan tobat. Itu pertanda Tuhan sangat sayang.
Contohnya Qarun, santri nabi Musa alaihissalam yang saleh dan paham kitab al-Taurah.
Baca Juga: P-APBD 2026 Ubah Target Tiga Pajak Daerah Jombang
Tuhan menganugerahinya dengan ilmu pertambangan, khususnya emas, logam mulia. Dengan ilmunya itu dia menjadi kaya raya.
Tapi, makin hari makin sibuk ngurus harta dan berdurhaka kepada gurunya, Nabi Musa.
Qarun makin congkak dan menggalang pengaruh sendiri ke masyarakat dengan uangnya. Akhirnya, Qarun mati sangat mengerikan, ditelan bumi dalam keadaan hidup-hidup.
Beristighfar, bertobat dan mengembalikan uang risywah ke KPK, ke pihak yang semestinya memang terlambat, tapi itu jauh lebih baik dari pada tidak sama sekali.
Mbok yo anggota Ahl al-Hall wa al-‘Aqd menampilkan uswah hasanah.
Jangan biarkan umat terus menerus dalam remang dan rasan-rasan. Semoga diampuni Gusti Allah Ta’ala.
Baca Juga: Tender Sembilan Mobil Listrik Pemkab Jombang Dimenangkan Perusahaan Semarang
Sedangkan yang tidak mengembalikan pasti buruk akibatnya. Uang haram, disedekahkan-pun gak diterimo Gusti Allah.
Tuhan Dzat Yang Maha Suci tak sudi mengapresiasi barang yang tak suci.
Duit haram pasti gak barokahi, gak sampai ke anak cucu, malah melarati.
Yang paling mengerikan, pada masa tuanya nanti biasanya melarat dan sakit-sakitan. Mati tidak dan hidup soro.
Baca Juga: 983 Register Tanah Pemkab Jombang Belum Bersertifikat
Ya, karena dikutuk para pendiri NU yang saleh-saleh, dikutuk warga Nahdliyin, bahkan para malaikat dan semua penduduk langit.
’’Ulaika ‘alaihim la’nah Allah wa al- malaikah wa al-nas ajma’in.’’
Nik wis begini ini, tinggal nelangsane. Tapi percuma, kaseepp.
Bersambung insya Allah.. (*)
Penulis:
KH Mustain Syafii
Editor : Ainul Hafidz