Perhatikan sifat Tuhan pada surah al-Fatihah ini. Berjajar sifat-Nya yang memberi dan mensejahterakan lebih dahulu, baru mengadili.
Karena manusia dianugerahi kenikmatan berlimpah, maka perlu diarahkan ke yang lebih baik, bermanfaat dan maslahah menurut Tuhan itu Sendiri.
Amal manusia tersebut dijurnal dan diberi balasan agar beruntung dan tidak sengsara di kemudian hari. Sifat Tuhan itu diawal dari: pertama: Rabbil Alamin, Sang pengasuh dan pembimbing kehidupan.
Baca Juga: Pengadaan 15 Mobil Dinas di Jombang Masuk Tahap Pengadaan
Kedua: al-Rahman, Sang Pengasih yang lintas dan universal. Ketiga: al-Rahim, Sang Maha Pemurah pada hamba-Nya yang terkasih.
Dengan tiga sifat awal ini, baru Tuhan hadir dengan sifat-Nya yang Penguasa, Maliki yaum al-din.
Lha begini ini contohen, menirulah sifat Tuhan yang memberi dan bermanfaat bagi orang lain.
Orang beriman terbaik dan mulia di sisi Tuhan adalah mereka yang bermanfaat bagi umat manusia. Anfa’uhun li al-nas. Jadi hidup itu ’’MEMBERI’’ bukan ’’MENERIMA’’.
Baca Juga: Kontrak Diperpanjang, Ini Pesan Bupati Warsubi untuk PPPK Paruh Waktu Jombang
Kalian yang berkhidmah di agama, di organisasi keagamaan, di NU, maka hidupilah NU dan jangan mencari hidup di NU.
Wis gak memperbaiki NU, tidak membawa NU ke martabat ulya, fitrah thahirah, malah merusak. Sungguh berdosa besar dan susah pertobatannya.
Kalau tidak bisa berbuat baik, lebih baik ’’NOL’’, kosong, tak manfaati, tapi juga tidak menodai.
Lha oknum-oknum di Muktamar kemarin itu tidak begitu. Tidak hadir dengan sifat manfaat lebih dahulu, tidak memberi rahmah, tidak mensejahterakan, tiba-tiba mau ngatur dan menguasai dengan cara yang sangat najis sekali. Begini ini dosa sosial, dosa yang efek buruknya membias ke umat.
Di dalam agama, soal uang itu sangat berat hisabnya nanti, dihitung dan dipertanyakan secara detail. Lalu diadili seadil-adilnya.
Ditanyakan dari mana didapatkan dan dengan cara apa, seterusnya dan seterusnya.
Dan pada Hari Agama tersebut tidak satupun ada orang yang punya belas kasihan kepada orang lain. Walau itu anak kandung atau orang tua sendiri.
Baca Juga: 160 Atlet Dayung Jatim dan Kalsel Sparing di Jombang, Bidik Popda 2027
Sedikit saja anda mendapatkan uang ’’haram’’, ibarat menetesi segelas air mineral dengan setetes racun yang akibatnya tentu merusak kesehatan tubuh.
Ibarat bahan bakar yang tidak besih, kendaraan akan nyendat-nyendat jalannya.
Dan sekarang uang yang diduga haram yang beredar di Muktamar NU kini telah lebih jelas haramnya dan telah diusut oleh KPK ke mana mengalirnya.
Sebagai umat Nahdliyyin, kami sangat mendukung dan memberi support kepada KPK dalam kerja bersih-bersih.
Baca Juga: Lantik Dua Kades Antar-Waktu, Bupati Warsubi Titip Pesan Jelang Pilkades Serentak Jombang 2027
Kalian mendapat pahala dan terpuji di masyarakat langit dan masyarakat bumi yang saleh-saleh. Kalian lebih mulia di hadapan Tuhan ketimbang kiai yang doyan uang haram.
Maka, para syuriyah atau tanfidz daerah yang merasa mendapat uang ’’haram’’ segera dikembalikan. Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali.
Ya dulu panjenengan mungkin tidak mengerti, tapi sekarang kan sudah mengerti.
Apa panjenengan tega memberi makan anak istri dengan bara neraka.
Panjenengan kan muslim, beriman, kiai..? Mosok podo dengan moral preman..?
Dengan adanya seorang kiai yang mengembalikan uang najis, maka hendaknya diikuti oleh yang lain. Umat Nahdliyin lho sudah tahu nama panjenengan Yai..?
Kini sedang nunggu jenengan. Apakah hati panjenengan bercahaya atau buta seperti yang disindir al-Hajj:46. (*)
Penulis:
KH Mustain Syafii
Editor : Ainul Hafidz