Maliki yaum al-din.. Telah maklum, bahwa ’’din’’ itu artinya agama. Lalu, dalam banyak tafsir dimaknai ’’al-jaza’’, pembalasan.
Disebut demikian karena pembuktian dari amal baik dan amal buruk itu paling nyata di Hari Kiamat nanti. Yang baik mendapatkan kebaikan dan yang buruk mendapat siksaan.
Tafsir ini mengunggah kata ’’din’’ bermakna ’’agama’’, hari agama. Tuhan sebagai penguasa dan hakim pada hari agama itu.
Baca Juga: RAPBD Jombang 2027 Tertekan, Pendapatan Turun Rp 441 Miliar
Disebut demikian, karena kisi-kisi agama, ajaran dan syariah baru bisa diunduh hasilnya secara nyata ketika pada Hari-nya nanti, hari akhirat.
Artinya, dunia ini bukan hari agama, bukan hari pembalasan total. Melainkan lebih pada hari beramal saja.
Soal pembalasan..? Ya, gak jelas, kadang ada pembalasan langsung di dunia dan kadang gak ada.
Bajingan-bajingan dan para koruptor yang nyata-nyata merusak negara dan merusak agama yo urip biasa saja, newah-mewah.
Baca Juga: Lahan 4.000 Meter Persegi Disiapkan untuk IPAL Limbah Tahu Jombang
Malah duitnya banyak dan sehat-sehat. Tapi awas nanti pada harinya..? Tapi ada juga yang dikutuk dan terbukti nyonyor saat masih hidup di dunia.
Seperti Abu Lahab yang kebacut memusuhi Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam, mengganggu dan merusak dakwah islamiyah.
Lalu Gusti Allah Ta’ala geregetan dan turun firman-Nya yang mengutuk. Itulah surah al-Lahab atau al-Masad, surat Tabbat.
Abu Lahab, pada akhir hayatnya terserang penyakit super ganas, aneh dan ngeri.
Sekujur tubuhnya membusuk parah, dagingnya rusak dan sangat berbau sehingga tak satupun ada orang yang sudi mendekat, jijik, neg tur mukok kudu muntah.
Lalu mati di pinggir jalan dan tak ada yang mau mengubur. Karena makin berbau dan mengganggu, akhirnya digali lubang secukupnya tepat di dekat jasadnya.
Jasad Abu Lahab didorong-dorong dengan benda hingga nyemplung ke dalam liang kubur. Istri Abu Lahab membantu suaminya dalam memusuhi Nabi dan keduanya terkutuk.
Baca Juga: Motor Terjatuh di Ceweng Jombang, Pemuda-Balita Tewas
Kejahatan para perusak Muktamar NU ke-35 kemarin sangat nyata dan memalukan. Jangankan wong saleh gak kecewao, lha wong awam saja mangkel.
Kok ngono yo kelakoane poro wong pinter sing biasa dipanggil kiai, ulama.
Surbane gede, yo ngerti Alquran, yo ngerti al-Hadis, yo biasa moco kitab kuning..? Otaknya mendalil tapi hatinya ’’buta’’. Apa sih yang dicari..?
Jika dilihat dari ayat studi, maliki yaum al-din, rasanya ini yang diminati, ’’kuoso, mengatur, memimpin.’’
Inilah godaan agama, lebih-lebih ditumpuki dengan kepentingan duniawi, uang dan uang.
Baca Juga: Cukir Jombang Juara 1 Desa Peduli Kamtibmas, Punya 150 Titik CCTV
Justru geragas uang inilah kelamahan umumnya para kiai. Meskipun masih banyak kiai yang bersih. Yang merusak Muktamar itu: KUALAT opo GAK YO ..?
Pasti kualat dan pasti. Lalu, seperti apa bentuk kualatnya..? Allah a’lam.
Mungkin ibadahnya rusak, akhir hayatnya soro dan tersiksa. Keluarganya morat-marit dan yang paling mengerikan adalah mati su’ul khatimah.
Ya, karena kutukan orang banyak, poro wong saleh, utamanya para pendiri NU pasti kecewa berat. (bersambung, in sya Allah). (*)
Penulis:
KH Mustain Syafii
Editor : Ainul Hafidz