Student Journalism: Kisah Juraij

Rojiful Mamduh • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 05:57 WIB
M Harisun Naf
M Harisun Naf'i, Kelas XI-D MA Salafiyah Syafiiyah Tebuireng, Jombang. (Rojiful Mamduh/Radar Jombang)

Minggu (20/9) di Masjid Pondok Pesantren Tebuireng, para santri mengikuti pengajian kitab Riyadus Solihin oleh KH M Syakir Ridwan alhafiz.

Beliau menjelaskan kisah Juraij. ’’Ini pelajaran pentingnya berbakti orang tua,’’ tuturnya.

Juraij selalu beribadah di tempat ibadahnya. Suatu hari, ibu Juraij datang saat Juraij sedang beribadah. Si ibu memanggil tiga kali namun Juraij memilih melanjutkan salat dan tidak menjawab.

Baca Juga: Kebakaran, Rumah Warga Keras Jombang Ludes Dilalap Api

Ibunya marah dan berdoa, ’’Semoga Allah tidak mematikanmu, kecuali jika engkau melihat wajah perempuan-perempuan pelacur.’’

Suatu hari, tiba-tiba, seorang wanita melahirkan anak hasil perzinahan dihadapkan kepada raja. Wanita itu mengaku yang menghamilinya Juraij.

Raja kemudian memerintahkan bawahannya untuk menghancurkan tempat ibadah Juraij.

Dia diikat dan ditarik melewati para wanita pelacur. Juraij lalu minta bayi yang dituduh sebagai anaknya dihadirkan. Juraij lalu bertanya, ’’Siapa ayahmu?’’
Bayi itu menjawab, ’’Penggembala sapi.’’

Baca Juga: Binrohtal : Tiga Tanda Ini Menunjukkan Anda Makhluk yang Bahagia

Setelah itu, sang raja merasa bersalah terlalu gegabah menuduh Juraij. Raja akhirnya membangun kembali tempat ibadahnya.

Juraij kemudia tertawa. Dia ingat doa ibunya yang dikabulkan Allah.

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Terdapat tiga doa yang pasti dikabulkan Allah. Doa orang yang dizhalimi (dianiaya), doa musafir, dan doa kedua orang tua kepada anaknya.

Saat kita salat dan dipanggil, kita dianjurkan mengeraskan bacaan agar yang memanggil tahu kita sedang salat.


Oleh: M Harisun Naf'i, Kelas XI-D MA Salafiyah Syafiiyah Tebuireng, Jombang

Editor : Ainul Hafidz
ma salafiyah syafiiyah juraij kisah Jombang Student Journalism