Jika Alam Tidak Mengenal Sampah, Mengapa Kita Menciptakannya?

Rojiful Mamduh • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 06:26 WIB
Nur Alawi Hudayana, M.Pd (Waka Kurikulum MTsN 9 Jombang). (IST)
Nur Alawi Hudayana, M.Pd (Waka Kurikulum MTsN 9 Jombang). (IST)

Manusia terbiasa dengan satu pola sederhana: mengambil, menggunakan, lalu membuang.

Sesuatu yang tidak lagi dibutuhkan segera kita beri nama “sampah”. Padahal, alam bekerja dengan cara berbeda. Dalam siklus alam, sisa dari satu proses dapat menjadi bagian dari proses kehidupan berikutnya.

Lalu, mengapa manusia menciptakan begitu banyak sesuatu yang disebut sampah?

Baca Juga: Renungan Minggu: Saat yang Sedikit Diserahkan kepada Tuhan Menjadi Mukjizat

Pertanyaan ini menarik untuk dibawa ke dalam pendidikan lingkungan. Anak perlu belajar lebih dari sekedar tidak membuang sampah sembarangan.

Mereka perlu diajak mengubah cara pandang: apakah segala sesuatu yang sudah tidak kita perlukan memang harus dibuang.

MTsN 9 Jombang sedang membangun cara pandang tersebut. Salah satu praktik sederhananya terlihat ketika anak-anak membersihkan rumput di lingkungan madrasah. Rumput yang dicabut tidak serta-merta dipandang sebagai sampah.

Rumput dapat diolah menjadi bahan organik, dan pada waktunya kembali memberi manfaat bagi tanah.

Baca Juga: Binrohtal: Tak Ada yang Melihat, Tapi Allah Tahu

Sesungguhnya ada pelajaran besar di sini, sesuatu yang sudah tidak kita perlukan belum tentu tidak berguna bagi alam.

Sisa tumbuhan dapat menjadi bagian dari tanah. Tanah mendukung pertumbuhan tanaman. Tanaman menghasilkan kehidupan baru. Dan kehidupan kembali menghasilkan sisa. Siklus terus berlangsung. 

Masalahnya, manusia sering memutus siklus tersebut. Kita mengambil dari alam, menggunakan, lalu meninggalkan sisa di tempat yang tidak memungkinkan alam mengolahnya dengan baik.

Sesuatu yang semula bagian dari siklus berubah menjadi persoalan lingkungan.

Karena itu, persoalan sampah bukan terletak pada di mana kita membuang, tetapi bagaimana kita berpikir sebelum membuangnya.

Cara pandang ini juga hadir dalam kegiatan penanaman pohon di lingkungan MTsN 9 Jombang. Menanam pohon mengajarkan bahwa kehidupan membutuhkan proses, waktu, dan tanggung jawab.

Orang yang menanam pohon belum tentu menjadi orang yang menikmati seluruh manfaatnya. Bisa jadi, pohon itu kelak memberikan keteduhan kepada generasi setelahnya.

Baca Juga: 72 Kebakaran Terjadi di Jombang, Sehari Bisa Empat Kali

Gagasan tersebut diperkuat melalui Lab Alam di MTsN 9 Jombang. Di sana, anak-anak belajar dari alam: menanam, mengamati tanaman tumbuh, tanah bekerja, dan sisa tumbuhan kembali menjadi bahan organik.

Anak-anak menjadi tahu dari mana sesuatu berasal, ke mana ia kembali, dan apakah tindakan manusia telah memutus siklus yang seharusnya berlangsung. Inilah yang membuat alam menjadi guru.

Dari sini gagasan tersebut bertemu dengan ekoteologi. Pendidikan lingkungan mengajarkan manusia menjaga alam demi keberlangsungan hidup.

Sedangkan ekoteologi membawa ke arah prinsip mengapa manusia harus menjaga alam.

Baca Juga: Tabrak Lari di Jembatan Kayen Jombang, Pemotor Tewas

Dalam perspektif Islam, alam adalah ciptaan Allah dan bagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya.

Karena itu, cara manusia memperlakukan tanah, air, tumbuhan, dan lingkungan sangat berkaitan dengan amanah dan tanggung jawab. 

Persoalan sampah pun mendapatkan makna yang lebih luas. Membuang sesuatu tanpa memikirkan ke mana ia akan berakhir bukan sekadar persoalan kebersihan. Ia berkaitan dengan cara manusia memperlakukan ciptaan Tuhan.

Sebaliknya, mengolah sisa yang tepat agar kembali menjadi bagian dari siklus alam dapat menjadi bagian dari pendidikan moral dan spiritual.

Ke depan, gagasan ini akan dikembangkan menjadi inovasi ekosistem ekoteologi di madrasah. Kebun, taman, hewan dan tumbuhan, tanah, kompos, air, dan berbagai kehidupan dapat dirancang sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran.

Ekosistem ekoteologi ini juga menjadi ruang untuk belajar tentang kehidupan sekaligus memahami hubungan manusia dengan ciptaan Tuhan.

Baca Juga: 126 Finalis Adu Kreativitas, Berikut Daftar Juara Lomba Mengarsir 2026

Jadi, yang ingin ditanam di MTsN 9 Jombang bukan hanya pohon, melainkan sebuah cara pandang: bahwa tidak semua yang tersisa merupakan sampah yang harus dibuang.

Sesuatu yang tidak lagi berguna bagi manusia belum tentu tidak berguna bagi alam. Mengambil berarti siap merawat. Menggunakan berarti siap bertanggung jawab. Dari sanalah pendidikan lingkungan menemukan maknanya yang lebih dalam.

Pada akhirnya, manusia seperti apa yang lahir setelah ia belajar hidup bersama alam? Dan mungkin, jawabannya dimulai dari satu perubahan sederhana.

Dari kebiasaan membuang begitu saja menuju kesadaran bahwa setiap sisa memiliki tempat dan proses yang tepat dalam siklus kehidupan.
Salam ekoteologi! (*)

Penulis:

Nur Alawi Hudayana, M.Pd (Waka Kurikulum MTsN 9 Jombang)

 

Editor : Ainul Hafidz
opini alam MTsN 9 Jombang sampah