Maliki Yaum al-Din. Qiraah mutawatirah, lafadh ’’Maliki’’, dibaca qashr, satu alif, artinya memiliki, Sang Pemilik. Malaka, Yamliku, Milka, fahuwa Maalik.
Kedua, dibaca satu harakat, artinya ’’menguasai, Sang Penguasa’’. Dari fi’l yang sama dengan masdar ’’Mulk’’, fahuwa ’’Malik’’.
Dari dua qira’ah ini, kata berikutnya berfungsi idlafah, jadinya: ’’Maliki Yaumi al-din’’.
Baca Juga: Dari Tambakberas Jombang, Khilma Anis Bawa Pesantren ke Panggung Nasional
Qira’ah lain merujuk langsung pada fi’il madlinya, yakni: ’’Malaka’’, tapi kata berikutya berposisi manshub, ala al-dharfiyah. Jadinya: ’’Malaka Yauma al-din’’.
Dari sisi dirayah, qiraah ini lebih mencakup dua makna di atas: ’’memiliki’’ maupun ’’menguasai’’. Tapi tak didukung riwayah.
Lha.. qira’ah Alquran itu lebih pada dasar riwayah.
Lalu, mana yang terunggul dari sisi pemaknaan: Menguasai atau memilki..? Secara lumrah, orang yang memiliki itu lazimnya menguasai. Tapi tak demikian orang yang menguasai.
Baca Juga: Empat Warga Plosogeneng Jombang Jadi Korban Pengeroyokan, Satu Dioperasi
Anda memiliki rumah, maka anda menguasai rumah tersebut. Mau dijual, disedekahkan….
Presiden adalah penguasa negeri ini, kewajibannya mengurus dengan baik. Kalau tidak mampu, ya mundur dengan terhormat.
Jangan sampai dimundurkan. Tak patut mengusir-usir rakyat sendiri sekedar tak sepaham dengannya.
Sepanjang sejarah kepresidenan negeri ini, kayaknya ini presiden and wakil yang agak ’’gimana’’ gitu.
Penulis tidak mengatakan paling ’’bodoh’’, tapi kok sering dibuat bahan tertawaan di medsos.
Sampai emak-emak, anak kecil dan sebagainya. Mbok yo tampil yang elegan, nyontoh sifat Tuhan yang Maha Rahman dan Maha Maliki.
Yaum al-din. Aslinya, kata ’’din’’ itu maknanya ’’agama’’, tapi diterjemahkan dengan hari pembalasan amal, akhirat dan itu benar.
Baca Juga: Lima Proyek Jalan PSD Jombang Rp 9,5 Miliar, Begini Progres Terbarunya
Tafsir ini mengembalikan makna aslinya, Hari AGAMA.
Ya, sebab kebenaran agama baru bisa dibuktikan secaa nyata dan mutlak ketika di harinya nanti (akhirat). Di mana saat di dunia tidak.
Ini hasil salat, ini buah bersedekah, ini pahala kejujuran, ini balasan maksiat, curang, maling, menzalimi orang dan lain-lain.
Bahkan tak ada korelasi posisitif antara ketakwaan dengan besaran rezeki.
Baca Juga: 2.000 Peserta Jalan Sehat, Himpaudi Jogoroto Jombang Perkuat Sinergi
Daftar orang terkaya dunia didominasi wong kafir-kafir. Koruptor triliunan, nyatanya sehat-sehat saja.
Yo tak langsung kualat. Tapi.. untuk mencegah kejahatan itu, ya harus dikualatkan. Hukum mati, selesai.
Dokter saja mengamputasi anggota badan pasien yang membusuk. Bahkan pejabat busuk di organisasi NU, Muhammadiyah dan lain-lain, yang kaya mendadak dan fantastis.
Andai and seumpama: Naliko dadi Rais ‘Am, pengurus besar, atau sekjen, mobillnya biasa dan rumahnya sempit.
Lha kok saiki sederet mobil mewah terparkir di halaman rumah bertingkat, ada lift-nya lagi.. Wow..
Memang sebaiknya kita berhusnudhan, bahwa itulah keberkahan orang yang ikhlash ngurus NU.
Baca Juga: Pendapatan Jombang Turun Rp 141 Miliar, Belanja Naik Rp 59 Miliar
Soal besok pada yaum al-din, itu opo jare Gusti Allah. Ya, tapi, sebagai muslim, kita wajib melakukan yang terbaik menurut syari’ah Islam.
Misalnya, membuat KPK-NU, yang ngurusi ’’korupsi ala NU’’ dengan pembuktian terbalik, kayak zaman Umar ibn al-Khattab dulu.
Ya dihitung dulu: awal menjabat, berapa asetnya dan akhir menjadi berapa.
Harta yang dicurigai langsung dirampas secara paksa.
Baca Juga: Pasca Konvoi Pesilat Berujung Bentrokan di Jombang, Polisi Belum Tetapkan Tersangka
Baru yang bersangkutan disuruh datang ke pengadilan untuk membuktikan kehalalan, menjelaskan asal usul harta tersebut. Kalau terbukti halal, ya dikembalikan.
Kalau tidak, maka yang bersangkutan malah tidak kembali ke rumah. (bersambung, in sya’ Allah). (*)
Penulis:
KH Mustain Syafii
Editor : Ainul Hafidz