Jauh sebelum republik ini memproklamasikan kemerdekaannya di atas kertas formal, sebuah simpul kekuatan kultural dan spiritual bernama Nahdlatul Ulama telah lebih dulu meletakkan fondasi kebangsaan, merawat keberagaman, serta menjadi benteng moral bagi jutaan rakyat Nusantara.
Kini, perhelatan besar, hajat akbar, sekaligus forum musyawarah tertinggi bagi warga Nahdliyyin dan jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama tinggal menghitung hari.
Baca Juga: Binrohtal: Kemerdekaan Bukan Hanya Bebas, Ini Cara Mensyukurinya
Sebagaimana yang telah ditetapkan secara resmi, Muktamar ke-35 NU akan diselenggarakan pada 27 hingga 31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Gelaran kali ini tidak sekadar menjadi ajang perantian kepemimpinan rutin lima tahunan, melainkan sebuah peristiwa kebudayaan dan kerohanian yang sangat istimewa serta sarat akan makna historis.
Keistimewaan Muktamar ke-35 ini terpancar kuat dari dua pijakan utama yang melatarbelakanginya.
Pertama, perhelatan ini bertepatan langsung dengan momentum monumental 100 tahun atau satu abad kelahiran Nahdlatul Ulama dalam hitungan penanggalan Masehi (1926–2026).
Baca Juga: Kisah Hindun, dari Mengajar Sambil Berdagang hingga Pimpin Madrasah di Jombang
Satu abad bukanlah waktu yang singkat, hal ini merupakan rentang sejarah yang dipenuhi oleh jejak perjuangan, pengorbanan, serta kesetiaan tanpa batas terhadap agama dan tanah air.
Kedua, keputusan untuk memusatkan muktamar di tanah Jombang, tempat di mana para muassis legendaris seperti Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari, KH Wahab Chasbullah, dan KH Bisri Syansuri melahirkan cita-cita kebangsaan ini membuat muktamar terasa seperti sebuah peristiwa "pulang ke rumah".
Muktamar di Jombang adalah panggilan spiritual dari para pendiri untuk merajut kembali persatuan, memurnikan khittah, serta menegaskan kembali komitmen jam’iyah sebagai pengawal moral bangsa di tengah peradaban dunia yang terus bergejolak.
Sebagai ajang musyawarah tertinggi yang menandai tumpuan abad kedua Nahdlatul Ulama, dinamika jelang muktamar kian terasa hangat, khususnya saat membicarakan suksesi kepemimpinan PBNU masa khidmah 2026–2031.
Di ruang publik maupun lini masa media sosial, nama-nama tokoh dan ulama terbaik Nahdliyyin mulai bermunculan dan ramai diperbincangkan oleh masyarakat luas. Nama pertama yang mencuat, petahana KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang sekaligus mantan Juru Bicara Presiden Gus Dur yang gigih mengusung narasi fikih peradaban di kancah internasional.
Selanjutnya, hadir figur Prof Dr KH Nasaruddin Umar, Menteri Agama RI asal Sulawesi Selatan yang dikenal luas sebagai akademisi, ahli tafsir, dan perekat ukhuwah Islamiyah.
Bursa kepemimpinan juga diperkaya oleh kehadiran tokoh ulama muda, seperti KH Zulfa Mustofa yang menjabat Wakil Ketua Umum PBNU sekaligus cicit ulama legendaris Syekh Nawawi Al-Bantani, yang dikenal sangat produktif mengarang kitab berbahasa Arab dan piawai merajut tradisi keilmuan klasik (turats).
Di samping itu, figur kiai sepuh yang merepresentasikan kepemimpinan lembaga induk dan sarat akan sanad keilmuan mengemuka lewat nama KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Pengasuh Pesantren Tebuireng sekaligus Ketua PWNU Jatim.
Baca Juga: Pensiunan PNS Pemkab Jombang Menangis, Tabungan Puluhan Tahun di KPRI Sejahtera Tak Bisa Dicairkan
Representasi pimpinan muda yang visioner turut hadir lewat nama Dr (HC) KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), Ketua PWNU Jawa Tengah dan Pengasuh PP Maslakul Huda Kajen Pati, yang memadukan tradisi fikih sosial peninggalan ayahnya, almarhum KH MA Sahal Mahfudz, dengan manajemen tata kelola organisasi modern.
Dinamika kepemimpinan makin berwarna dengan hadirnya KH Muhammad Yusuf Khudori (Gus Yusuf), Pengasuh API Tegalrejo Magelang yang memiliki daya pikat kuat di kalangan generasi muda dan masyarakat akar rumput berkat keluwesan dakwah kulturalnya.
Selain itu, muncul nama KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), Pengasuh PP Mambaul Maarif Denanyar Jombang yang merupakan cucu KH Bisri Syansuri dan dikenal vokal dalam menyuarakan aspirasi kelurusan khittah organisasi.
Serta KH Marzuki Mustamar, mantan Ketua PWNU Jawa Timur dan Pengasuh PP Sabilurrosyad Gasek Malang, yang sangat dicintai jamaah berkat keteguhannya membentengi ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah An-Nahdliyah melalui dakwah keliling pelosok negeri.
Baca Juga: Demi Kuliah di Al-Azhar Mesir, Pemuda Jombang Ini Lepas Beasiswa Maroko
Terkait peluang, elektabilitas, serta kelebihan dan kekurangan dari masing-masing figur calon tersebut, para pembaca dan warga Nahdliyyin tentu sudah dapat mencermatinya secara arif di era keterbukaan informasi digital saat ini.
Kita mengharapkan pemimpin yang tak sekadar pandai menjaga warisan, tetapi mampu melesatkan jam’iyah ini menembus badai disrupsi zaman.
Serta menguasai kedaulatan sains, kecerdasan buatan, dan teknologi masa depan tanpa pernah mencabut akar tradisi dan keilmuan turats yang telah diwariskan para ulama.
Dari tanah Jombang tempat para pendiri bersemayam, gema muktamar ini harus menjadi penanda bahwa Nahdlatul Ulama tidak hanya hadir untuk menjaga pilar kebangsaan Indonesia, melainkan juga siap menjadi penerang peradaban dunia dengan Islam yang rahmatan lil 'alamin.
Siapa pun figur pimpinan yang akhirnya mendapatkan amanah dan kepercayaan terpilih pasca perhelatan akbar ini, kita semua patut menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, segenap keluarga besar, serta seluruh dzurriyyah.
Pesantren Tambakberas beserta seluruh keluarga besarnya telah dengan tulus ikhlas menjadi tuan rumah, khidmah, dan saksi sejarah yang menyediakan tempat miqat spiritual bagi Nahdlatul Ulama untuk menapaki dan memasuki abad keduanya.
Baca Juga: Demi Kuliah di Al-Azhar Mesir, Pemuda Jombang Ini Lepas Beasiswa Maroko
Keikhlasan dan dedikasi seluruh keluarga besar Tambakberas akan senantiasa terukir indah dalam sejarah perjalanan organisasi.
Maka dari itu, mari bersama-sama kita jaga cita-cita luhur pendiri bangsa dan kita rawat persatuan Indonesia, karena keagungan organisasi ini sejatinya adalah cerminan dari kokohnya bangsa kita.
Selamat menyongsong peradaban baru bagi seluruh warga Nahdliyyin, para penuntut ilmu, dan generasi penerus bangsa di mana pun berada.
Baca Juga: 185 Tahun Watudakon Jombang, Karnaval Budaya Semarakkan Desa
Tetaplah teguh melangkah dengan optimisme, karena di bawah naungan kebenaran dan keadilan, cahaya ilmu akan selalu menang dan kegelapan tidak akan pernah bisa bertahan.
Selamat ber-Muktamar! Muktamar Gembira, Muktamar
Berkah!Wallahul Muwaffiq ilaa Aqwamith Thariq
Wallahu a'lam bish-shawab (*)
Penulis:
KH M Syifa’ Malik MPd, Pengasuh PP Al Maliki 2 Bahrul Ulum Tambakberas, Wakil Ketua Panlok Muktamar NU, Wakil Kepala MAN 3 Jombang
Editor : Ainul Hafidz