Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, dinamika mengenai calon ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) semakin menghangat.
Berbagai nama mulai diperbincangkan, masing-masing dengan keunggulan dan basis dukungan yang berbeda. Fenomena ini merupakan hal yang lumrah dalam organisasi besar seperti NU.
Namun, yang seharusnya menjadi perhatian utama bukanlah siapa yang paling kuat secara politik. Melainkan siapa yang paling mampu membawa NU menghadapi tantangan pada abad keduanya.
Baca Juga: Menuju Desa Cerdas dan Berkelanjutan, Pemdes Penggaron Jombang Kolaborasi dengan Akademisi
NU saat ini berada pada fase yang berbeda dibanding beberapa dekade lalu. Persoalan yang dihadapi tidak lagi sebatas penguatan organisasi dan dakwah keagamaan.
Tetapi juga menyangkut kemandirian ekonomi umat, transformasi digital, pengembangan pendidikan, hingga menjaga harmoni sosial di tengah perubahan global yang begitu cepat.
Karena itu, sosok ketua umum PBNU mendatang dituntut memiliki perpaduan antara kedalaman keilmuan, pengalaman organisasi, kemampuan manajerial, serta kapasitas membangun persatuan.
Dalam konteks itulah nama KH Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan mulai banyak diperbincangkan.
Baca Juga: Kasus Rudapaksa Gadis Difabel Jombang, Terdakwa Dituntut 12 Tahun Penjara
Dukungan yang datang dari sejumlah tokoh Nahdliyin menunjukkan bahwa dirinya dipandang memiliki modal yang layak dipertimbangkan.
Pengalaman panjang di lingkungan pesantren, organisasi NU, hingga pemerintahan menjadi nilai tambah yang tidak dimiliki semua kandidat.
Sebagian kalangan memang berpandangan bahwa kader NU yang sedang menduduki jabatan publik sebaiknya tidak memimpin organisasi.
Kekhawatiran terhadap potensi tumpang tindih kepentingan tentu patut dihargai sebagai bagian dari ikhtiar menjaga independensi NU.
Namun, di sisi lain, pengalaman mengelola lembaga negara juga dapat menjadi bekal penting.
Memimpin organisasi dengan jutaan anggota membutuhkan kemampuan administrasi, tata kelola, serta jejaring yang luas.
Pengalaman birokrasi dapat menjadi salah satu modal untuk menjawab kebutuhan tersebut.
Baca Juga: Panen di Musim Kemarau Bawa Kabar Baik, Harga Gabah Petani di Jombang Melonjak Hingga Segini
Selain pengalaman, Gus Irfan juga memiliki akar historis yang kuat sebagai cucu Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari. Tentu garis keturunan tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran kepemimpinan.
Namun, ketika legitimasi historis itu berpadu dengan rekam jejak organisasi dan pengalaman memimpin lembaga publik, hal tersebut menjadi nilai yang layak dipertimbangkan oleh para muktamirin.
Yang tidak kalah penting adalah kemampuan menjadi figur pemersatu.
Muktamar selalu menghadirkan dinamika dan perbedaan pilihan.
Baca Juga: Kasus KPRI Sejahtera Jombang Dilaporkan ke Kejaksaan, Penyelidikan Mulai Berjalan
Perbedaan merupakan bagian dari tradisi demokrasi di tubuh NU yang harus dijaga dengan akhlak para ulama.
Karena itu, NU membutuhkan pemimpin yang mampu merangkul seluruh kelompok, bukan sekadar memenangkan kompetisi.
Organisasi sebesar NU tidak boleh menghabiskan energi pada polarisasi internal ketika tantangan eksternal semakin kompleks.
Pada akhirnya, siapa pun yang terpilih nanti harus mampu menjaga jati diri NU sebagai organisasi keagamaan yang moderat, berakar kuat pada tradisi pesantren, tetapi tetap adaptif terhadap perkembangan zaman.
Muktamar seharusnya menjadi ruang adu gagasan, bukan sekadar pertarungan figur.
Baca Juga: Hakim Tolak Eksepsi Eks Direktur KSU Al-Kahfi Jombang, Kasus Rp 3,5 Miliar Berlanjut
Sebab yang dipertaruhkan bukan hanya kursi ketua umum, melainkan arah perjalanan NU dalam mengawal kepentingan umat, bangsa, dan kemanusiaan pada masa depan.
Itulah sebabnya NU memerlukan nakhoda yang mampu mempersatukan, menggerakkan, sekaligus membawa organisasi tetap relevan di tengah perubahan zaman. (*)
Penulis:
KH Zainul Ibad As’ad (Gus Ulib), Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso Peterongan, Jombang
Editor : Anggi Fridianto