Jamiyah Nahdlatul Ulama (NU) sejak didirikan di Surabaya pada 31 Januari 1926, hingga saat ini telah melaksanakan muktamar sebagai forum tertinggi, sebanyak 34 kali.
Terakhir, Muktamar NU yang ke-34 dilaksanakan di Lampung Tengah, 22 – 25 Desember 2021. Sedangkan Muktamar NU ke-35 yang akan datang, direncanakan digelar di Jombang, 27 – 31 Agustus 2026.
Di antara yang menarik dicermati dari puluhan kali penyelenggaraan muktamar tersebut pendokumentasian foto-fotonya.
Pendokumentasian foto kegiatan Muktamar NU di era kolonial dan dua tahun awal kemerdekaan Indonesia, masih sangat minim.
Baca Juga: RS Muhammadiyah Jombang Siapkan Layanan Stem Cell, Hadirkan Terapi Kedokteran Regeneratif
Bahkan, tercatat 15 kali muktamar yang sampai sekarang belum ditemukan satupun fotonya. Pada muktamar dari tahun 1926 hingga 1947, hanya ada dua kali muktamar yang bisa ditemukan dokumentasi fotonya.
Yaitu muktamar di Malang (1937) ada lima foto koleksi duriyah KH Nachrowi Thohir dan muktamar di Magelang (1939) ada tiga foto milik duriyah KH Siroj Payaman dan PCNU Magelang.
Sementara yang sama sekali belum didapatkan fotonya dari muktamar di Surabaya (1926, 1927, 1928, 1940), Semarang (1929), Pekalongan (1930), Cirebon (1931), Bandung (1932), Jakarta (1933), Banyuwangi (1934), Surakarta (1935), Banjarmasin (1936), Pandeglang (1938), Purwokerto (1946) dan Madiun (1947).
Merujuk kota-kota yang pernah menjadi penyelenggara Muktamar NU, bisa didapatkan data sebagai berikut.
Kota Surabaya sebagai tempat kelahiran NU menjadi kota yang terbanyak pernah menjadi tuan rumah muktamar sebanyak enam kali (1926, 1927, 1928, 1940, 1954, 1971).
Menyusul Jakarta tiga kali (1933, 1950, 1959) dan Surakarta juga tiga kali (1935, 1962, 2004). Kemudian ada tiga kota yang pernah menggelar muktamar sebanyak dua kali.
Rinciannya, Bandung (1932, 1967), Semarang (1929, 1979) dan Jombang (2015 & 2026). Lainnya hanya pernah sekali menjadi tuan rumah muktamar.
Pekalongan (1930), Cirebon (1931), Banyuwangi (1934), Banjarmasin (1936), Malang (1937), Pandeglang (1938), Magelang (1939), Purwokerto (1946), Madiun (1947), Palembang (1952), Medan (1956), Situbondo (1984), Bantul (1989), Tasikmalaya (1994), Kediri (1999), Makassar (2010) dan Lampung Tengah (2021).
Sejak 2019 lalu, saya mulai mengumpulkan arsip dan foto dokumentasi pelaksanaan Muktamar NU dari masa ke masa. Pengarsipan saya batasi hanya pada muktamar tahun 1926 hingga 1999 saja.
Sebab setelah era reformasi dan seiring kemajuan teknologi, foto dokumentasi di atas tahun 2000 sudah lebih mudah dan lebih banyak jumlahnya.
Baca Juga: Profil dr Iwan Hartono, Direktur RS Muhammadiyah Jombang yang Utamakan Layanan Humanis
Dari proses pengarsipan yang saya lakukan dalam tujuh tahun terakhir ini, ada beberapa cara untuk mendapatkan sumber foto muktamar yang dicari.
Misalnya dari koleksi pribadi yang kemudian boleh diakses publik. Seperti foto muktamar di Malang (1937) dan Magelang (1939).
Untuk foto muktamar di Jakarta (1950) saya mendapatkan dari koleksi koran KOMPAS satu lembar dan dari Perpusnas RI dua lembar.
Pada muktamar di Medan (1952) ada tujuh foto, masing-masing dari Perpusnas RI satu lembar. Dari salah satu akun media sosial empat lembar. Serta dari Komunitas Pegon dua lembar.
Sebenarnya ada banyak koleksi foto yang tersimpan di Perpustakaan PBNU hasil kerja dari KH Saifudin Zuhri. Saat muktamar Surabaya (1954) terkumpul foto yang paling banyak, ada 23 lembar.
Yaitu dari Perpusnas RI dua lembar, media sosial satu lembar, buku Manaqib Mbah Ma’shoem Lasem satu lembar serta koleksi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jawa Timur 19 lembar.
Untuk muktamar Medan (1956) sementara ini masih diduga ada satu lembar foto saja yang ditashih oleh salah satu duriyah KH Wahab Chasbullah. Sebenarnya di muktamar Medan (1956) juga dibukukan.
Namun sayangnya dalam buku berjudul Buku Peringatan Mu’tamar Nahdlatul-Ulama ke XXI di Medan itu tidak ada fotonya. Sedangkan muktamar Jakarta (1959) paling banyak terdokumentasi foto-fotonya.
Sebab langsung dibukukan dengan judul Buku Kenang2an Mu’tamar Ke XXII Partai Nahdlatul ‘Ulama. Terdapat 52 foto yang merekam semua aktivitas muktamar di ibukota negara itu. Terutama saat dihadiri Presiden Soekarno.
Di muktamar Surakarta (1962) terdokumentasi delapan foto yang kebanyakan didapatkan dari buku. Sedangkan di muktamar Bandung (1967) ada 11 foto yang dimuat di majalah Pantjaran Ampera edisi No 4 Th. I / 1967.
Baca Juga: Tiga Petinggi PT SGS Jombang Dilaporkan ke Polisi, Diduga Manipulasi Slip Gaji Buruh PHK
Untuk pertama kalinya, Muktamar NU dihadiri oleh Pj Presiden Soeharto. Majalah ini saya beli dengan harga yang tidak terlalu mahal dari pelapak online.
Muktamar Surabaya (1971) terdapat enam lembar foto yang diperoleh dari majalah dan buku. Kemudian muktamar Semarang (1979) yang dihadiri terakhir oleh KH Bisri Syansuri sebelum wafat setahun kemudian. Terdapat 15 foto yang didapatkan dari akun media sosial, koran dan majalah.
Muktamar Situbondo (1984) ada 25 foto berasal dari unggahan akun media sosial, surat kabar dan website kompas.id. Lalu muktamar di Bantul (1989) ada 27 foto berasal dari unggahan akun media sosial dan website kompas.id juga.
Kemudian muktamar di Tasikmalaya (1994) terdapat 26 foto dari unggahan akun media sosial dan media online. Terakhir muktamar di Kediri (1999) ada 15 sekuel foto dari dokumentasi majalah TEMPO.
Namun, sebenarnya jumlahnya lebih banyak yang belum sempat dikumpulkan dari arsip surat kabar lainnya.
Sebagai salah satu penelusur sejarah NU dan kurator foto kiai-kiai muassis NU, saya tentu berharap di masa mendatang akan lebih banyak lagi arsip foto yang bisa ditemukan.
Terutama pada bagian muktamar di masa awal yang belum ada sama sekali dokumentasinya. Saya yakin, sebenarnya ada fotonya, namun masih belum muncul saat ini.
Bisa jadi, foto itu tersimpan menjadi koleksi pribadi yang menunggu waktu saja untuk muncul menyambut abad kedua NU. Selamat bermuktamar ke-35 di Jombang. (*)
Penulis:
Moch. Faisol, Periwayat sanad & kurator foto Tiga Kiai Muassis NU dari Jombang
Editor : Ainul Hafidz