Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Tafsir Aktual: Al-Fatihah (6)

Rojiful Mamduh • Sabtu, 4 Juli 2026 | 06:04 WIB
Rubrik opini KH Mustain Syafii. (Radar Jombang)
Rubrik opini KH Mustain Syafii. (Radar Jombang)

Al-hamd li Allah rabb al-‘alamin. Segala puji bagi Allah Tuhan al-alamin. Beberapa hal dibahas pada ayat ini, anatara lain:
Pertama, susunan katanya.

Dalam bahasa Arab, susunan kalimat ini disebut sebagai jumlah ismiyah. Terdiri dari al-mubtada’ dan al-khabar.

Kalam model ini dianggap, isi kandungan dan maknanya lebih dalam, lebih universal ketimbang jumlah fi’liyah, susunan kalam yang terdiri dari fi’il dan al-fa’il.

Digunakan bentuk masdar (al-hamd), tidak bentuk fi’il (kata kerja) baik fi’il madly (hamida) atau fi’il mudlari’ (yahmadu).

Baca Juga: Atlet SD Jombang Raih 5 Medali di O2SN Jatim 2026, Belum Lolos Nasional

Sebab, jika digunakan fi’il madly (hamida, hamidu, hamidna), maka pujian itu memang pernah ada dan dilakukan oleh makhluk dan sudah lewat. Pujian tersebut tidak merambah hingga saat sekarang.

Juga, jika digunakan pola fi’il mudlari’: Nahmadu, ahmadu, yahmadun, maka berarti pujian tersebut ada saat sekarang, sekarang sedang ada dan mendatang terus akan ada makhluk yang memuji Tuhan.

Ya, tapi itu untuk makhluk sekarang dan yang akan datang saja. Sedangkan pemujian kepada Tuhan saat dulu, saat lampau sungguh tidak terkover dalam redaksi mudlari’ tersebut. 

Lagian, pada redaksi berpola fi’il ini, baik yang madly maupun yang mudlari’ membutuhkan keterlibatan pelaku. Pelaku yang melakukan pemujian. Jika tak ada, maka pemujian terhadap Tuhan tak ada.

Bisa jadi, Tuhan tak terpuji karena tak ada yang memuji. Berbeda. Dan sangat berbeda dengan redaksi yang menggunakan bentuk mashdar (hamd, al-hamdu Lillah), maka maknanya lintas dan bebas, sama sekali tak terkait dengan makhluk manapun.

Tak terkait dengan waktu dan pelaku. Artinya, baik ada yang memuji atau tidak, baik dulu maupun sekarang, maupun kapan saja, Tuhan Allah Ta’ala memang terpuji. Dan terpuji itu memang sifat-Nya yang mutlak.

Kayak gadis cuantik tik. Baik ada yang memuji atau tidak, tetap cantik. Berada di manapun, berpakaian sesederhana apapun, tetap cantik dan tetap nampak cantik.

Memang dasarnya sejak kecil sudah cantik. Iku sekedar contoh, itu sekedar tamsilan. Dan Tuhan melampaui itu semua.

Terhadap ’’al”, huruf ta’rif yang masuk pada isim mufrad, tunggal (al-hamdu), selain bermakna lebih jelas, juga bermakna lebih luas, tak terbatas.

Baca Juga: RSUD Jombang Jalani Akreditasi Rumah Sakit, Target Pertahankan Status Paripurna

Tak ada yang pantas dipuji secara hakiki, selain Allah Ta’ala. Semua puji hanya milik Allah semata.

Perkara pujian lain, seperti terhadap sesama manusia itu sekedar ekses dan etika belaka. Bukan pujian sejatinya.

Makanya, ulama ahli lughah membedakan antara ’’hamida, hamdu, mahmud’’ dan ’’madaha, madhu, mamduh’’. 

Untuk yang pertama, hamdu, itu pujian ideal, sesuai dengan obyek yang dipuji. Allah Ta’ala Maha Pengasih. Ya.. memang cocok, pas dan Dia memang benar-benar Maha Pengasih dan sungguhan.

Tidak sama dengan madaha, pujian penghormatan, sanjungan, di mana yang dipuji belum tentu persis dengan materi pujiannya, bahkan tidak persis.

Makanya, kekasih tercinta yang dipuja dan dipuji oleh pasangannya sendiri yang sedang mabok kepayang – dalam sastera arab - diistilahkan dengan ’’mamduh’’, bukan ’’mahmud’’.

Makanya, jika memuji seseorang, anda sebagai muhibbin jangan kebangetan.

Makanya, bila mencintai seseorang jangan kebablasan. Wajar wajar saja, toh dia sekedar manusia, punya banyak kekurangan.

Sikap tersebut berpotensi mengesampingkan Tuhan sebagai Dzat yang Maha terpuji dan Dia bisa tersinggung. Ingat, Nabi Ibrahim alaihissalam yang sangat mencintai anaknya, Ismail dan Tuhan tak suka.

Lalu menyuruh: ’’Sembelihlah..” (bersambung, in sya’ Allah). (*)

Penulis:

KH Mustain Syafii

Editor : Ainul Hafidz
#al-fatihah #KH Mustain Syafii #Jombang #Tafsir Aktual