Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Tafsir Aktual: Al-Fatihah (4)

Rojiful Mamduh • Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:12 WIB
Rubrik opini KH Mustain Syafii. (Radar Jombang)
Rubrik opini KH Mustain Syafii. (Radar Jombang)

SEMUA ulama sepakat, jumlah ayat dalam surah al-Fatihah tujuh, tak ada khilaf.

Bagi yang memasukkan basmalah sebagai satu ayat, maka maklum.

Sedangkan bagi ulama yang tidak menganggap basmalah sebagai bagian dari al-Fatihah, seperti mazhab Maliky, maka ayat pertama adalah ’’al-hamd lillah rabb al-alamin’’.

’’Shirath al-ladzina an’amt ‘alaihim’’ sebagai ayat nomor enam dan ayat nomor tujuh ’’ghair al-maghdub ‘alaihim wa la al-dallin’’.

Baca Juga: Mampiro Explore Jombang Resmi Diluncurkan, Informasi Destinasi Wisata Kini dalam Satu Klik

Kini ada pertanyaan, imam salat di al-Masjid al-Haram Makkah, masjid Nabawi Madinah kok tidak membaca basmalah, atau tak kedengaran membaca basmalah, langsung ’’al-hamdu lillah rabbil ‘alamin..’’ benarkah..?

Jawaban paling hati-hati: Beliau membaca basmalah, tapi dengan suara lirih.

Baru dikeraskan ketika membaca ’’al-hamdu lillah rabb al-‘alamin’’ dan seterusnya. Ini lebih mengkompromi dua pendapat di atas, Allah a’lam.

Perkoro dasar, masing-masing punya. Meski begitu masing-masing juga punya kelemahan.

Bagi yang mengatakan basmalah sebagai ayat dari al-Fatihah, cacatnya ada pada pengulangan kalimat ’’al-rahman al-rahim’’ yang diulang dua kali dalam jarak pendek, dalam surah pendek. Yakni pada ayat pertama dan ketiga.

Model begitu itu, dalam sastra Arab dianggap bukan kalam berkualitas baligh, padahal Aluran bahasa wahyu yang bernilai sastra terbaik.

Berekspresi ijaz (bahasanya singkat, artinya luas) dan indah.

Apa Tuhan kehabisan bahan sehingga mengulang dalam jarak pendek begitu..?

Dikritik demikian, kelompok pertama gak terimo. Lalu melihat ada sisi lemah pada paparan kelompok kedua yang memenggal ayat terakhir al-Fatihah menjadi dua.

Baca Juga: Tabrakan Motor dan Truk di Perempatan Ploso Jombang, Satu Remaja Tewas di Lokasi

Pada ayat keenam berbunyi ’’Shirath al-ladzin an’amt ‘alaihim’’ yang berakhir huruf mim yang disukun, sehingga bacaan putel dan putus, tak mengalun lentur seperti lainnya.

Ini cacat qafiyah. Cacat pada bunyi akhir yang sejak ayat pertama hingga akhir berujung pada bacaan Mad ‘Aridl li al-Sukun.

Bacaaan ini membuat setiap ujung ayat teralunkan indah, berirama serasi dan panjang lebih dari satu alif.

Lha kok ditugel ’’shirath al-ladzin an’amt ‘alaihim’’. Iki model opo..? Gak selaras blas dengan ujung ayat yang lain.

Dari sisi sastra tentu saja, pemenggalan ini merusak qafiyah sehingga kalam tidak memenuhi standar ilmu Badi’ yang menjadi andalan dari ketinggian sastra Alquran.

Dialog ini dikedepankan sekedar sebuah unggahan akademik, di mana keilmuan Alquran sungguh tak terbatas.

Selanjutnya, dari kedua kelompok juga punya alasan lain yang kurang pas disajikan di koran ini. Contohnya jawaban kelompok pertama terhadap kelompok kedua.

Bahwa pengulangan tersebut bukanlah karena Tuhan kehabisan bahan, melainkan pengulangan demi pemantapan.

’’Al-takrar li al-ta’kid’’. Bahwa sifat Tuhan yang Maha Rahman dan Maha Rahim itu sungguhan dan serius serta terbuktikan di kehidupan nyata ini. (bersambung, in sya’ Allah). (*)

Penulis

KH Mustain Syafii

Editor : Ainul Hafidz
#opini #KH Mustain Syafii #al fatihah #Jombang #Tafsir Aktual