PIALA Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menyuguhkan ironi yang menarik perhatian dunia.
Di tengah memanasnya hubungan politik antara Amerika Serikat dan Iran, kesebelasan Iran tetap hadir dan bertanding di negeri yang selama ini menjadi lawan politik negaranya.
Bahkan, ketika sebagian anggota delegasi Iran mengalami kendala visa dan Iran menuding adanya perlakuan diskriminatif, para pemain tetap datang untuk menjalankan misi olahraga mereka, meski harus menginap di Meksiko.
Peristiwa ini mengajarkan satu pelajaran penting: manusia yang beradab mampu membedakan antara konflik politik dan nilai kemanusiaan.
Baca Juga: Pilkades Serentak Jombang 2027 Diusulkan Rp 25 Miliar, DPRD Minta Dipangkas
Mereka memahami bahwa perang tidak harus menghapus akal sehat, dan perbedaan tidak harus membunuh penghormatan terhadap sesama.
Dunia modern sering kali terjebak dalam logika hitam-putih. Jika berbeda pandangan politik, maka seluruh hubungan harus diputus.
Jika terjadi konflik, maka semua pihak dianggap musuh tanpa kecuali. Namun sikap yang ditunjukkan kesebelasan Iran memberikan pesan berbeda.
Mereka datang bukan sebagai pasukan perang, melainkan sebagai atlet. Mereka hadir untuk bertanding, bukan untuk memperpanjang permusuhan.
Fenomena ini mengingatkan kita kepada salah satu tokoh besar dalam sejarah Islam, yaitu Shalahuddin al-Ayyubi yang dalam literatur barat disebut Sultan Saladin.
Nama Saladin dikenang bukan hanya karena kemenangan militernya, melainkan karena kemuliaan akhlaknya.
Setelah berhasil merebut Yerusalem pada tahun 1187, ia tidak membalas kekejaman yang dahulu dilakukan pasukan Salib ketika menguasai kota tersebut.
Sebaliknya, ia menunjukkan sikap santun, memberi perlindungan kepada penduduk sipil, dan memperlakukan lawan dengan penghormatan yang layak.
Reputasinya sebagai pemimpin yang murah hati bahkan diakui oleh banyak sejarawan Barat sebagaimana tercatat di Encyclopedia Britannica.
Baca Juga: Efisiensi Anggaran, Dinas Perkim Jombang Pangkas Dana Pemeliharaan Trotoar hingga Segini
Hubungan Saladin dengan panglima perang sekaligus raja Inggris, Richard the Lionheart, sering dijadikan contoh tentang bagaimana kemanusiaan tetap dapat hidup di tengah peperangan.
Walaupun keduanya berada di kubu yang saling berhadapan dalam Perang Salib Ketiga, berbagai catatan sejarah menunjukkan adanya penghormatan timbal balik antara dua pemimpin besar tersebut.
Ketika Richard jatuh sakit Saladin mengirimkan dokter pribadi untuk merawatnya dan buah-buahan segar.
Mendengar kuda Richard terbunuh, Saladin perintahkan adiknya untuk menghadiahkan kuda terbaiknya agar Richard tetap bisa bertempur. Konflik tidak menghalangi lahirnya sikap ksatria.
Pada akhirnya, peperangan mereka berujung pada perjanjian damai yang memungkinkan kedua pihak mempertahankan kehormatan masing-masing.
Apa yang dilakukan kesebelasan Iran tentu tidak dapat disamakan sepenuhnya dengan perjuangan militer Saladin. Ruang dan konteksnya berbeda.
Namun terdapat benang merah yang sama, yakni kemampuan untuk memisahkan pertarungan dengan kemanusiaan.
Dalam tradisi kepahlawanan Islam, kemenangan tidak hanya diukur dari kemampuan mengalahkan lawan, tetapi juga dari kemampuan menjaga martabat manusia.
Ironisnya, pelajaran seperti ini justru sering terlupakan oleh negara-negara yang selama ini mengklaim diri sebagai penjaga demokrasi dan hak asasi manusia.
Nilai kemanusiaan sering kali dikalahkan oleh kepentingan politik sesaat. Standar moral bisa berubah-ubah tergantung siapa yang sedang menjadi kawan dan siapa yang sedang dianggap lawan.
Baca Juga: Curi Motor Honda Vario Milik Tetangga, Dua Remaja Asal Kesamben Jombang Ditangkap Polisi
Perhatikan kesebelasan Rusia yang dilarang bermain di Qatar karena menyerang Ukraina, sementara AS yang menyerang Iran malah tetap jumawa jadi tuan rumah.
Karena itu, kehadiran Iran di Piala Dunia lebih dari sekadar partisipasi sebuah tim sepak bola. Ia menjadi simbol bahwa dunia masih membutuhkan jembatan-jembatan kemanusiaan.
Di saat diplomasi mengalami kebuntuan, olahraga mampu membuka ruang dialog.
Di saat politik membangun tembok, sepak bola justru menghadirkan lapangan tempat manusia bertemu sebagai sesama.
Sultan Saladin pernah mengajarkan bahwa kebesaran tidak lahir dari kebencian, melainkan dari kemampuan mengendalikan kebencian.
Dan kesebelasan Iran, dengan segala keterbatasan dan kontroversinya, seakan mengingatkan kembali pelajaran lama itu: bahwa lawan politik tak seharusnya diperlakukan sebagai musuh kemanusiaan.
Saya berharap, kesebelasan Iran bisa bertanding melawan AS seperti di Qatar 2022 lalu. Soal siapa yang menang, tak penting.
Yang penting, bagaimana dunia tersadarkan bahwa Iran yang selalu distigma oleh Trump sebagai poros teroris ternyata hanya propaganda dari gembong teroris itu sendiri, AS. Wallahu-a’lam bishsawab. (*)
Penulis:
KH Zaimuddin Wijaya As'ad atau Gus Zu'em
Editor : Ainul Hafidz