Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Tafsir Aktual: Al-Fatihah (3)

Rojiful Mamduh • Sabtu, 13 Juni 2026 | 07:10 WIB
Rubrik opini KH Mustain Syafii. (Radar Jombang)
Rubrik opini KH Mustain Syafii. (Radar Jombang)

Pada edisi ini kita soroti tesis yang mengatakan: Keseluruhan Alquran maknanya disarikan pada surah al-Fatihah. Ini masih mending, karena penyarian tersebut dari Alquran ke Alquran.

Sama-sama kalamullah. Lagian, al-Fatihah sendiri bergelar sebagai Umm al-Kitab, induk al-kitab.

Yang perlu dipikir: al-Fatihah tersebut lantas disarikan ke Basmalah (Bismillah al-Rahman al-Rahim).

Ini mulai barmasalah, karena dalam pandangan ulama, basmalah itu tidak mutlak dianggap sebagai kalamullah.

Baca Juga: Kisah Dwi Khoiruni’mah, Alumni SMK di Jombang yang Sukses Kerja di Industri Sashimi Jepang

Semisal al-Imam Abu Hanifah, Malik ibn Anas tidak memandangnya sebagai Alquran.

Maka, bagaimana mungkin kalamullah yang sedahsyat dan seagung itu disarikan ke kalam yang dipersengketakan dan dianggap sebagai bukan kalamullah.

Kalam yang agung disarikan ke kalam yang hanya terdiri dari beberapa huruf saja, sembilan belas huruf.

Lebih dari itu, isi kandungan basmalah kemudian disarikan ke huruf Ba yang ada pada basmalah tersebut.

Anak kecil yang masih belajar nahwu al-Jurumiyah saja paham, bahwa Ba adalah sekedar huruf yang tak bermakna dan bukan lafad yang mufid, kecuali dirangkai dengan lafad lain dan membentuk kalam.

Lebih menggelikan lagi, isi kandungan huruf Ba disarikan ke titik yang ada pada huruf Ba tersebut. Ini pemikiran model apa..?

Titik adalah simbol identitas sebuah huruf. Ada titik di atas bodi huruf, di bawah, satu titik, dua titik dan tiga titik.

Titik tersebut murni kreasi manusia demi memudahkan pembacaan huruf.

’’Huruf mu’jamah’’, huruf bertitik. Huruf yang tak bertitik disebut huruf ’’muhmalah’’. Ya, agar tidak salah baca yang berakibat perubahan makna secara fatal.

Generasi sahabat dulu, umumnya bisa membaca huruf Arab tanpa ada titik, apalagi harakat. Karena bodi lengkungan huruf Ba, Ta, Tsa, Nun itu tak sama.

Begitu pula postur huruf Fa’ berbeda dengan Qaf. Sin dengan Syin, Tha’ dengan Dha’, Shad dengan Dlad.

Baca Juga: Microsleep, Honda City Tabrak Truk Gandeng di Tol Jombang-Mojokerto, Satu Orang Tewas

Makin lama, generasi berikutnya makin tak bisa membedakan, sehingga salah baca dan menimbulkan tragedi mengerikan. Sebut saja suku A dan suku B sedang bermusuhan.

Suku A menghendaki damai dengan mengirim utusan ke suku B untuk berunding.

Utusan itu dibawai surat tugas resmi agar diberikan kepada kepala suku B.

Begitu surat dibaca, utusan tersebut langsung dibunuh, sehingga menimbulkan polemik besar dan meningkatkan geo politik makin tajam.

Selidik punya selidik, ternyata kepala suku B salah baca.

Yang dimaksud pengirim adalah: ’’In ja’akum Rasul Fa iqBAluh’’. Huruf Ba bertitik satu, bawah, yang artinya: Jika ada utusan kami, maka terimalah.

Oleh kabilah B dibaca ’’fa iqTUluh’’, pakai huruf Ta’ bertitik dua atas, yang artinya ’’bunuhlah’’.

Maklum situasi politik antar keduanya sedang memanas. Bodi huruf tetap, tapi cara bacanya berbeda dan artinya sangat jauh: diterima dan dibunuh. (bersambung, in sya’ Allah). (*)

Penulis:

KH Mustain Syafii

Editor : Ainul Hafidz
#al-fatihah #Tebuireng #KH Mustain Syafii #Jombang #Tafsir Aktual