MENIPISNYA rasa persatuan antar anak bangsa kian terasa. Ditandai dengan memudarnya semangat Kebangkitan Nasional yang diperingati setiap 20 Mei.
Padahal, ancaman yang dulu dihadapi bangsa ini sesungguhnya masih ada, hanya bentuknya yang berubah.
Jika dahulu perpecahan ditimbulkan oleh penjajah yang datang dari bangsa asing, kini perpecahan justru kerap tumbuh dari sesama anak bangsa akibat kebodohan sosial dalam memahami perbedaan.
Maka dari itu, Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Jombang Kamis lalu di Kampus UNIPDU yang inklusif, menyelenggarakan pembinaan dan dialog generasi muda lintas suku dan etnis.
Baca Juga: Pemkab Jombang Mulai Susun Anggaran Pilkades Serentak 2027, Diikuti 286 Desa
Agar para pemuda tidak kehilangan jejak rintisan para pejuang bangsa pendiri republik ini dalam mewujudkan cita-cita luhur mereka.
Dalam kesempatan tersebut disampaikan bahwa lahirnya organisasi Boedi Oetomo pada tahun 1908 itu adalah momentum titik balik penting dalam sejarah bangsa yang membawa kesadaran baru bahwa bangsa Indonesia tidak mungkin kuat bila hanya bergerak atas nama kelompok masing-masing. Keragaman suku harus dipersatukan menjadi energi bersama.
Perbedaan tidak boleh menjadi alasan perpecahan, melainkan modal untuk membangun kekuatan yang utuh dan menggentarkan penjajah.
Karena itu, sangat disayangkan bila semangat persatuan di atas perlahan mulai memudar di tengah generasi sekarang. Hari Kebangkitan Nasional sering kali hanya berhenti sebagai seremoni tahunan: upacara, spanduk, pidato, lalu selesai.
Konflik antar kelompok, pertengkaran berlatar identitas (SARA), hingga permusuhan di media sosial masih sering kali muncul. Perlu dicatat bahwa, orang yang mudah membenci sesuatu karena dia tidak mengenalnya.
Stereotip negatif tumbuh karena minimnya pergaulan dan silaturahmi. Prasangka berkembang karena sempitnya pemahaman. Maka, ketika seseorang tidak memahami budaya suku lain, cara bicara yang berbeda dianggap kasar, tradisi yang tidak sama dicurigai menyimpang, bahkan kebiasaan kecil dapat dipersepsi sebagai ancaman.
Di situlah ketidak-tahuan dan kebodohan menjadi pemicu konflik.
Kebodohan yang dimaksud tentu bukan sekadar rendahnya pendidikan formal, melainkan ketidakmauan memahami orang lain. Sebab, banyak konflik sosial justru dipicu oleh orang-orang terdidik yang merasa paling benar dan enggan mendengar pihak berbeda.
Pengetahuan tanpa kebijaksanaan sering kali hanya melahirkan kesombongan baru.
Indonesia adalah bangsa yang dibangun dari keragaman luar biasa. Ratusan suku, bahasa, adat, dan karakter sosial, hidup dalam satu rumah besar bernama Indonesia. Keragaman sebesar itu dapat menjadi kekuatan dahsyat bila dipersatukan oleh saling pengertian.
Baca Juga: HUT ke-12, Jawa Pos Radar Jombang Bikin Gerakan “Jombang Beratap Buah”
Namun sebaliknya, ia bisa menjadi bahan bakar konflik bila masing-masing kelompok hidup dalam prasangka.
Karena itu, proses saling mengenal antarsuku menjadi sangat penting. Bukan hanya mengenal pakaian adat atau tarian daerah, tetapi memahami cara berpikir, nilai hidup, dan karakter sosial masing-masing.
Orang Madura, Jawa, Bugis, Batak, Dayak, Sunda, Papua, dan suku-suku lain memiliki latar sejarah serta budaya yang membentuk perilaku berbeda. Perbedaan itu bukan untuk dipertentangkan, melainkan dipahami agar tidak mudah melahirkan salah tafsir.
Sayangnya, perkembangan teknologi informasi justru sering mempersempit ruang pemahaman tersebut. Media sosial membuat orang hidup dalam kelompoknya sendiri.
Algoritma mempertemukan orang dengan pikiran yang sama, lalu menjauhkan mereka dari perbedaan. Akibatnya, masyarakat menjadi mudah marah terhadap pandangan yang tidak sesuai dengan keyakinannya. Sedikit perbedaan langsung dianggap ancaman.
Di tengah situasi seperti itu, semangat Hari Kebangkitan Nasional semestinya dihidupkan kembali. Kebangkitan hari ini bukan lagi melawan kolonialisme fisik, melainkan melawan kebodohan sosial yang memecah belah bangsa.
Kita membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang dalam memahami keberagaman.
Baca Juga: Jelang Wukuf Arafah, Jemaah Haji Jombang Jalani Pemeriksaan Intensif di Makkah
Sebab bangsa besar bukanlah bangsa yang tidak memiliki perbedaan, melainkan bangsa yang mampu mengelola perbedaan menjadi kekuatan persatuan.
Dan sejarah telah membuktikan: ketika bangsa ini bersatu, penjajah yang berkoalisi pun dibuat gentar untuk datang kembali. Saya jadi teringat pesan pada pidato terakhir Bung Karno “Jas Merah”, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Merdeka.! (*)
Editor : Ainul Hafidz