Al-Fatihah adalah nama surah dalam Alquran dan kayaknya semua umat Islam mengerti itu. Surah yang paling sering dibaca, paling populer dan paling universal.
Paling sering dibaca karena setiap muslim yang mengerjakan salat, mesti membaca surah ini.
Tinggal dihitung saja, berapa jumlah rakaat dalam salat wajib sehari semalam, kali jumlah orang Islam yang salat dan seterusnya.
Belum yang sekedar wiridan, yang belajar dan mengajar Alquran. Belum yang tahlilan, kirim doa, acara-acara keagamaan lain.
Sesuai namanya, al-Fatihah itu artinya ’’Pembuka’’. Maka, umat Islam mengamalkan pada setiap acara agama, acara ibadah, bahkan acara seremonial dibuka dengan bacaan al-Fatihah.
Baca Juga: Bus Pariwisata Hantam Truk Box di Tol Jombang-Mojokerto, Sopir Truk Meninggal di Lokasi
Begitu juga pada penulisannya di dalam Mushaf Alquran.
Mushaf itu artinya buku, bundel lembaran-lembaran berisikan tulisan Alquran. Kalau shahifah artinya ’’halaman’’.
Penulisan Alquran diawali dengan surah al-Fatihah dan berakhir surah al-Nas. Lho.. kok tidak diawali dengan surah al-‘Alaq, kan wahyu pertama turun al-‘Alaq..?
Tentang penulisan Alquran, terkait urutan surah dalam mushaf digunakan dasar ’’tawqify’’, petunjuk langsung dari Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam.
Wahyu turun memang tidak urut dan acak. Tidaklah satu surah mesti turun utuh. Biasanya, yang begitu itu surah yang pendek-pendek, ’’qishar’’, meski tak semua.
Semisal al-‘Alaq, turun partama hanya lima ayat saja. Lalu turun surah al-Muddassir.
Lalu nyambung al-‘Alaq lagi. Yaitu mulai ayat ke enam dan seterusnya hingga akhir.
Untuk itu, setiap kali ada ayat turun, Rasulullah memberi petunjuk kepada para sahabat pencatat wahyu, seperti Zaid ibn Tsabit, Ubay ibn Ka’b, Abdullah ibn Abbas dan lain-lain: ’’Mas.. ayat ini sambungan dari ayat ini yang dulu.. ’’ Lalu mereka menyusun dan merapikan.
Catatan mereka, semuanya bersifat pribadi dan sak ketemune. Pokok asal bisa dipakai, ya dipakai, entah dari bahan apa.
Baca Juga: Anggaran Dinas PUPR Jombang Dikepras Jadi Segini, Program Jalan dan Infrastruktur Bakal Terdampak
Ada yang dari kulit binatang yang ditipiskan, kain-kain katun, kain sutera, pelepah kurma, serutan kayu halus dan lain-lain.
Harap maklum, teknologi kertas seperti sekarang, waktu itu belum ada. Lagian mereka juga tidak ada yang punya Laptop apalagi HP.
Meski begitu, mereka punya kepedulian tinggi terhadap setiap wahyu yang turun.
Semuanya dihafal dengan baik, selain ditulis. Jadi, dokemen dan pengarsipan wahyu kala itu bersifat ganda dan berlapis. Tidak hanya dilakukan oleh satu dua sahabat, melainkan banyak sahabat.
Memang di kitab-kitab klasik tertulis sedramatis itu. Dan itu sangat mungkin, karena bangsa Arab dikesankan sebagai bangsa sangat primitif dan tertinggal.
Tapi benarkah demikian..? Allah a’lam. (bersambung, in sya’ Allah). (*)
Penulis:
KH Mustain Syafii
Editor : Ainul Hafidz