Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Setitik Cahaya yang Mulai Padam

Rojiful Mamduh • Minggu, 17 Mei 2026 | 06:49 WIB
Ilustrasi cerpen cahaya yang mulai padam. (Ainul Hafidz/AI/Radar Jombang)
Ilustrasi cerpen cahaya yang mulai padam. (Ainul Hafidz/AI/Radar Jombang)

DI sebuah desa terpencil di antara dua gunung raksasa, terdapat sebuah desa yang disebut Desa Kabut. Sesuai namanya, desa ini diselimuti oleh kabut abadi.

Cahaya hanya bertahan dalam waktu empat jam dalam dua hari. Warga desa sudah terbiasa oleh kehidupan yang dipenuhi bayang-bayang dan cahaya yang redup. Bergerak seperti hantu.

Menggunakan indra pendengaran dan peraba yang lebih tajam dari pada penglihatan. Mereka tidak takut pada kegelapan. Hanya saja kegelapan di luar lebih mengerikan dari yang mereka kira.

Baca Juga: Dramatis! MTsN 1 Jombang Raih Gelar Juara Turnamen Futsal GFC 2026

Suatu hari desa ini mengalami kegelapan total, karena sumber energi satu-satunya yang dimiliki desa (sebuah generator tua bertenaga air terjun) rusak. Desa itu diselimuti oleh kegelapan.

Harapan para warga desa agar bisa keluar dari tempat ini pun hilang. Lampu-lampu minyak yang mereka andalkan mulai kehabisan bahan bakar karena pasokan dari luar tak kunjung datang.

Seorang gadis bernama Lumie teringat  cerita kakeknya tentang kristal embun.

Kristal yang berada di gua tertinggi yang konon bisa menyerap sinar matahari. Lalu memancarkan cahaya saat kegelapan menyelimuti wilayah tersebut.

’’Lumie, jangan pergi…’’ ucap salah satu tetua. Namun Lumie melihat adik adik nya mulai sakit karena kurangnya sinar matahari.

Berbekal lentera yang apinya mulai meredup, Lumie mendaki. Perjalanan itu sunyi dan menakutkan. Setiap kali angin bertiup, api lenteranya bergoyang hebat, mengancam akan padam.

Di tengah jalan, lenteranya benar-benar mati. Lumie terduduk di tanah yang dingin, dikelilingi kegelapan total. Lumie merasa cahaya harapan dalam dirinya ikut padam.

Dalam keheningan itu, ia melihat sesuatu. Bukan di atas, tapi di bawah kakinya.

Seekor serangga kecil, mungkin sejenis kunang-kunang yang tersesat mengeluarkan cahaya kuning pucat yang sangat lemah. Lumie menatap kunang-kunang kecil itu tanpa berkedip.

Cahaya yang dipancarkannya sangat redup, bahkan hampir tenggelam oleh kabut pekat di sekitarnya. Namun di tengah kegelapan total, cahaya sekecil itu terasa seperti bintang.

Kunang-kunang itu terbang perlahan, berputar di depan Lumie seolah mengajaknya bangkit. Lumie mengulurkan tangan gemetar.

Baca Juga: Calon Siswa Sekolah Rakyat Jombang Mulai Diverifikasi, Ini Progres Terbaru Pembangunan Gedungnya

’’Apa kau… menunjukkan jalan?’’ Serangga kecil itu kembali terbang maju menyusuri jalur pegunungan.

Lumie ragu sesaat, tetapi akhirnya berdiri dan mengikuti cahaya kecil tersebut.

Dalam hatinya ia sadar, kadang harapan tidak datang sebagai matahari besar yang terang, melainkan hanya secercah cahaya kecil yang menolak padam.

Kunang-kunang kecil tadi hinggap di bahu Lumie sebelum perlahan berubah menjadi cahaya dan menyatu dengan lentera.

Dengan hati penuh harapan, Lumie turun dari gunung membawa lentera bercahaya baru.

Setitik cahaya itu seolah berkata padanya; ’’Kegelapan tidak pernah benar-benar ada untuk selamanya, selama ada kehidupan’’.

Lumie mengikuti cahaya yang menuntunnya ke sebuah gua. Di sanalah Lumie menemukan kristal embun.

Lumie kembali ke desa dalam keadaan tubuh yang penuh luka dan di sanalah setitik cahaya harapan mulai tumbuh. (*)

Penulis:

Shafa' Lathifah Kayyisah, Kelas 8 SMPT Al-Chodidjah Tebuireng, Jombang

Editor : Ainul Hafidz
#cahaya mulai padam #Tebuireng #Santri #cerpen #Jombang