Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Tafsif Aktual: Victory (3)

Rojiful Mamduh • Sabtu, 2 Mei 2026 | 06:53 WIB
Rubrik opini KH Mustain Syafii. (Radar Jombang)
Rubrik opini KH Mustain Syafii. (Radar Jombang)

AL-FATH. Kemenangan. Fataha - yaftahu – fath, artinya membuka. Miftah artinya kunci.

Awalnya, keadaan itu tertutup, terkunci, tak bisa ditundukkan, tak bisa dimanfaatkan dan sebagainya.

Gampangnya, yang dimaksud al-Fath pada surah ini adalah fath Makkah, penaklukan kota Makkah.

Kota Makkah yang angkuh, garang dan melawan umat Islam, mengusir putra daerah sendiri ternyata menjadi terbuka dan tunduk tanpa perlawanan.

Baca Juga: 18 Karateka Jombang Siap Tampil di Kejurnas PB Forki 2026 di Soreang

Jika kata ’’nashr’’ berkonotasi makna ’’ada bantuan dari Tuhan berupa apapun, termasuk alutsista, berperang, al-Fath tidak.

Pokoknya tunduk dan menyerah begitu saja. Fathu, lebih pada kejiwaan yang luluh dan sikap yang pasrah.

Fathu Makkah ini terjadi pada tahun ke delapan Hijriyah.

Pada surah ini tidak menyinggung deretan ekpedisi, peperangan berat, panjang dan melelahkan, seperti Uhud, Badar, Tabuk, Khandaq dan lain-lain, karena sedang berbicara anugerah dan kenikmatan saja.

Pembicaraan difokuskan pada satu arah saja.

Pola ini mengesankan, seolah Tuhan mengajari kita agar kenikmatan bisa dinikmati secara optimal dengan konsentrasi penuh dan melupakan masa lalu meski terasa pahit dan getir.

Kita buka lembaran baru dengan senang dan bahagia, tanpa bayang-bayang masa lalu yang kelam.

Begitu seharusnya menjadi muslim yang bagus, memaaf dan tak dendam.

Memang berat, tapi itulah yang dilakukan oleh Rasululah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam ketika tiba di Makkah dan berada di tengah-tengah mereka.

Baca Juga: Binrohtal: Amal Kecil tapi Istiqamah Lebih Dicintai Allah

Beliau berpidato dengan memaklumatkan tebaran rahmat, antara lain: Barang siapa yang masuk rumah Allah, berarti aman.

Barang siapa masuk rumah Abu Sufwan, maka dia aman. Atau mengunci pintu rumah sendiri dan seterusnya.

Abu Sufyan, adalah penggede kota Makkah yang sangat disegani dan pemimpin kharismatik yang dihormati.

Semula dia ciut nyali dengan kedatangan Nabi dan para sahabat.

Sangat pesimistis dan khawaatir dihabisi, mengingat dosa dan kejahatan yang pernah dia lakukan terhadap umat Islam yang kebacut dan kebangetan.

Maklumat Rasulllah tersebut membuat Abu Sufyan plong dan bangga sekaligus mati kutu, pasrah dan jinak.

Bangga, karena rumah tinggalnya dihormati, ditunjuk sebagai deretan rumah mulia nomor dua setelah rumah Allah, Baitullah, Kakbah.

Begitu pula orang kafir lainnya. Dengan menutup pintu, berarti menerima ajakan berdamai yang ditawarkan umat Islam.

Berbeda dengan mereka yang keluar dan mamanggul pedang.

Tentu itu simbol perlawanan terbuka dan para sahabat sudah siap meladeni. Dan sama sakali tidak ada yang berlagak demikian.

Begitulah keterkaitan makna antara Islam” dan salam. Islam artinya pasrah dan Salam artinya selamat.

Baca Juga: Warga Tembelang Jombang Ditemukan Tewas di Rumah, Diduga Alami Gangguan Kejiwaan

Siapa pasrah pada aturan Tuhan dijamin aman, selamat, baik di dunia maupun di akhirat.

Islam sama sekali bukan agama teroris seperti diftnahkan oleh mulut-mulut non muslim.

Lihat, siapa yang suka menjajah negara orang lain..? Lihat negara mana yang hobi obok-obok negara berdaulat.?

Siapa yang menjajah negeri ini..? Kan Belanda, Jepang. Inggris juga penjajah.  Mereka itu wong kafir opo muslim..?

Lihat penyerangan Israel dan Amerika ke Iran. Tak ada hujan tak ada angin, kok tiba-tiba menyerang negara berdaulat hingga menewaskan pimpinannya.

Begitulah jahatnya orang kafir. Wis jahat, gak rumongso salah.

(bersambung, in sya’ Allah).

Penulis:

KH Mustain Syafii

Editor : Ainul Hafidz
#victory #Tebuireng #KH Mustain Syafii #Jombang #Tafsir Aktual