RABU (22/4) di kelas 7 Sains 3 MTs Madrasatul Quran Tebuireng, guru kitab Adabul ‘Alim, Gus Ghali Ihtifazhuddin Achmad Alhafiz, menjelaskan tentang akhlak pelajar dan santri.
’’Santri harus menerima apa adanya (qana’ah),’’ tuturnya.
Qana’ah berarti menerima segala sesuatu yang mudah didapat, baik berupa makanan maupun pakaian.
Seorang santri juga harus bersabar atas kehidupan yang dijalani dalam proses mencari ilmu. Serta menghilangkan kegelisahan hati akibat terlalu banyak angan-angan dan keinginan.
Baca Juga: Student Journalism Jombang: Belajar Jurnalistik
Dengan hati yang tenang, sumber-sumber hikmah akan mudah masuk dan mengalir dalam diri.
Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Ridalah dengan apa yang Allah bagikan kepadamu, niscaya engkau menjadi manusia paling kaya.
Dalam hadis lain disebutkan: Barang siapa berusaha bersabar, maka Allah akan menjadikannya sabar.
Sikap qana’ah dan sabar sangat penting bagi seorang penuntut ilmu, karena kehidupan sederhana dan penuh perjuangan adalah bagian dari proses meraih keberkahan ilmu.
Imam Imam Syafi’i berkata: Orang yang mencari ilmu tidak akan bisa merasakan sukses apabila ketika mencari ilmu disertai dengan hati yang lalai dan kehidupan serba cukup.
KH Hasyim Asy’ari menyatakan; Santri harus menjaga adab, kesederhanaan, dan kesungguhan dalam belajar.
Ilmu tidak akan bermanfaat tanpa akhlak yang baik. Santri hendaknya menjauhi sifat berlebihan dalam dunia, menjaga hati dari kegelisahan, serta bersungguh-sungguh (mujahadah) dalam menuntut ilmu.
Sehingga ilmu yang dipelajari akan menjadi berkah dan bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.
Oleh: Muhammad Ahza, Kelas 7 Sains 3 MTs Madrasatul Qur’an Tebuireng, Jombang
Editor : Ainul Hafidz