MINGGU (26/4) di Pondok Pesantren Tebuireng Putri, saya mengikuti pengajian kitab Washoya Aba lil Abna yang diasuh Ustadah Fiqih Muthoharoh. Beliau menjelaskan adab makan dan minum.
’’Makan dan minum harus menggunakan tangan kanan. Tidak boleh dengan berdiri,’’ tuturnya.
Dilarang menelan langsung makanan yang masih utuh. Makanan harus dikunyah sampai lembut baru ditelan.
Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Seburuk-buruknya tempat yang diisi oleh manusia adalah perut mereka sendiri.
Baca Juga: Wanita Jadi Korban Jambret di Perak Jombang, Pelaku Kabur Naik Motor
Kita dilarang makan barang syubhat, apalagi haram. Syubhat itu tidak jelas halal haramnya.
Allah Ta’ala berfirman di Surat Al-Baqarah 168. Wahai manusia, makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik.
Nabi bersabda: Barang siapa menjaga diri dari perkara syubhat, maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya.
KH Hasyim Asy’ari menyatakan; Ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah tidak akan masuk ke hati yang kotor oleh perkara haram atau syubhat.
Memakan barang syubhat apalagi haram membuat santri atau pelajar sulit memahami dan menghafal pelajaran.
Begitu pun orang tua yang memberi uang syubhat apalagi haram pada anaknya. Imbasnya pada sang anak yang kesulitan memahami dan menghafal pelajaran.
Ustadah Fiqih berpesan agar para santri tidak mencuri atau mengambil hak orang lain. Jika tak memiliki uang, bisa pinjam teman dan langsung dikembalikan.
Lebih bagus lagi jika berpuasa agar hidupnya di pondok lebih berkah.
Oleh: Sashi Ayunda, Kelas 9-C SMP A Wahid Hasyim Tebuireng, Jombang
Editor : Ainul Hafidz