Sumur Warga Guwo Mengering, Disperta Jombang Pangkas Jam Operasional Irpom

Achmad RW • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 07:51 WIB
Jam operasional irigasi perpompaan (Irpom) di Dusun Guwo, Desa Latsari, Kecamatan Mojowarno, Jombang dibatasi. (Achmad RW/Radar Jombang)
Jam operasional irigasi perpompaan (Irpom) di Dusun Guwo, Desa Latsari, Kecamatan Mojowarno, Jombang dibatasi. (Achmad RW/Radar Jombang)

JombangBanget.id – Disperta Jombang memangkas jam operasional irigasi perpompaan (Irpom) di Dusun Guwo, Desa Latsari, Mojowarno, setelah sejumlah sumur warga terdampak dan mengering.

Pompa yang sebelumnya beroperasi siang dan malam kini dibatasi pukul 07.00–13.00 WIB, sementara kondisi sumur dipantau setiap hari.

Di sisi lain, petani membutuhkan pasokan air untuk mengairi sawah.

Baca Juga: KPRI Sejahtera Masih Diawasi, Berikut Hasil Penilaian Dinkop UM Jombang

Kabid Sarana dan Prasarana Tanaman Pangan, Perkebunan, dan Hortikultura Disperta Jombang Eko Purwanto mengatakan, pihaknya telah berdiskusi dengan sejumlah warga terdampak dan petani pengguna Irpom sebelum menetapkan pembatasan tersebut.

”Kita berlakukan pengurangan jam operasi irpom. Yang kemarin awalnya siang dan malam, yang malam dihapus,” terangnya, Rabu (7/10).

Dengan skema baru itu, Irpom hanya beroperasi selama enam jam pada siang hari. Kondisi sumur warga selanjutnya akan dievaluasi setiap hari untuk melihat dampak setelah jam kerja pompa dikurangi.

”Kemudian sumur warga akan kita evaluasi setiap hari, apakah ada perbaikan, apakah warga terdampak ini bisa menikmati kembali sumbernya,” jelas Eko.

Baca Juga: Binrohtal: Ujian Hidup Tak Hanya Kesulitan, Ini Tiga Kunci Menghadapinya

Dari pemantauan awal, sebagian sumur warga yang sebelumnya kesulitan air mulai kembali bisa digunakan.

Namun, Disperta juga menemukan persoalan lain pada sejumlah sumur lama. Disperta membuka opsi membantu perawatan sumur warga yang membutuhkan.

”Beberapa memerlukan perawatan karena timbunan lumpur atau lempungnya bisa menghambat, menutup sumbernya sendiri,” ujarnya.

Di sisi lain, operasional Irpom belum bisa dihentikan sepenuhnya. Pompa masih dibutuhkan untuk mengairi tanaman padi yang kini memasuki fase pertumbuhan kritis.

Eko menyebut tanaman padi saat ini berusia sekitar 30–40 hari. Memasuki usia sekitar 45 hari, tanaman akan memasuki fase primordia atau pembentukan bakal bunga, kemudian dilanjutkan dengan fase pengisian bulir.

”Itu masa-masa kritis tanaman padi yang tidak boleh kurang air,” paparnya.

Baca Juga: Tak Cukup Bisa Bahasa, Calon Perawat di Jombang juga Harus Paham Budaya Jepang

Setelah bulir terisi penuh, kebutuhan air tanaman kembali berkurang. Terlebih ketika mendekati panen, sawah tidak lagi membutuhkan pasokan air secara terus-menerus.

Karena itu, selama sekitar satu bulan ke depan Irpom tetap beroperasi setiap hari dengan jam kerja terbatas. Pelaksanaannya menyesuaikan hasil evaluasi kondisi sumur warga.

”Berfungsi setiap hari dengan jam kerja 07.00 sampai 13.00, sambil melihat kondisi nanti di sumur warga seperti apa,” pungkas Eko.

Sebelumnya, krisis air bersih dirasakan warga Dusun Guwo. Lebih dari 40 kepala keluarga (KK) di tiga RT disebut terdampak kekeringan yang diduga buntut pengoperasian Irpom bantuan Kementerian Pertanian (Kementan).

Baca Juga: Gladi TKA MA di Jombang Sempat Terkendala, Ini Antisipasi Kantor Kemenag

Kondisi tersebut meluas dari sebelumnya sekitar 22 KK. Warga terpaksa harus bolak-balik mengambil air dari saluran irigasi untuk kebutuhan sehari-hari. 

Sekdes Latsari M Sodiq mengatakan, kondisi saat ini mulai membaik setelah ada kesepakatan dan pengaturan jam operasional pompa.

Sumur warga sempat kembali terisi setelah operasional Irpom tidak lagi berjalan tanpa jeda.

”Jadi setelah kesepakatan dan ada pengaturan jam itu sudah sempat terisi sumur warga, sebelumnya memang menyala loss dan otomatis dampaknya parah,” imbuhnya.

Baca Juga: Hasil Tenis Meja Popkab Jombang, SMPN 1 Mojowarno Juara

Sodiq menyebut dampak paling parah terjadi di RT 6. Selain itu, warga di RT 5 dan RT 7 yang lokasinya berdekatan juga terdampak, meski jumlahnya tidak sebanyak RT 6.

”Untuk yang paling banyak dan parah di RT 6, ada 40 KK, ada juga di RT 5 dan RT 7 yang lokasinya berdekatan dengan RT 6 yang jumlahnya tidak terlalu banyak,” terangnya. (riz/naz)

Editor : Ainul Hafidz
guwo irpom Mengering sumur Jombang