Limbah Tahu Mayangan Jombang Ditangani, IPAL Dapat CSR Rp 7,5 Miliar

Anggi Fridianto • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 06:47 WIB
PENUH LIMBAH: Saluran Sekunder di Desa Mayangan, Jogoroto, Jombang, penuh limbah, (23/9). (Anggi Fridianto/Radar Jombang)
PENUH LIMBAH: Saluran Sekunder di Desa Mayangan, Jogoroto, Jombang, penuh limbah, (23/9). (Anggi Fridianto/Radar Jombang)

JombangBanget.id – Penanganan limbah tahu di Desa Mayangan, Kecamatan Jogoroto, Jombang, mulai memasuki tahap realisasi melalui pembangunan IPAL komunal.

Fasilitas yang ditargetkan dibangun tahun ini tersebut mendapat dukungan CSR Pertamina sekitar Rp 7,5 miliar.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Ruang Terbuka Hijau (RTH) DLH Jombang Menis Agus Muttaqin mengatakan, pembangunan IPAL komunal di Desa Mayangan, Kecamatan Jogoroto saat ini masih dalam tahap koordinasi dengan sejumlah pihak.

Baca Juga: Kebakaran, Rumah Warga Keras Jombang Ludes Dilalap Api

Rencana tersebut juga telah dibahas bersama Pertamina dan kementerian terkait.

”Insya Allah IPAL komunal siap dibangun tahun ini. Pembangunannya didukung dana CSR dari Pertamina,” kata Menis.

Terkait nilai anggaran, Menis menyebut dana CSR yang disiapkan berada di kisaran Rp 7,5 miliar.

”Kalau tidak salah, kisarannya sekitar Rp 7,5 miliar. Untuk detailnya saya kurang ingat,” ujarnya.

Baca Juga: Binrohtal : Tiga Tanda Ini Menunjukkan Anda Makhluk yang Bahagia

Menurut dia, pembangunan IPAL komunal tersebut sebenarnya telah direncanakan sejak tahun lalu.

Namun, proses realisasinya membutuhkan sejumlah tahapan hingga akhirnya siap dilaksanakan.

Dari sisi lahan, tidak ada kendala. Lahan untuk pembangunan IPAL telah dibeli melalui paguyuban pengusaha tahu.

’’Lahannya sudah clear. Paguyuban melakukan urunan untuk membeli lahan dari warga,’’ terangnya.

Dengan lahan yang telah tersedia, pembangunan tinggal menunggu proses eksekusi. Menis menyebut luasan lahan tersebut dinilai memadai untuk kebutuhan pembangunan IPAL.

Keberadaan IPAL komunal diharapkan menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi masuknya limbah tahu ke sungai. Nantinya, fasilitas tersebut akan dikelola paguyuban, termasuk kebutuhan biaya operasionalnya.

”Untuk biaya operasional IPAL selanjutnya akan menjadi tanggung jawab paguyuban. Paguyuban juga sudah membentuk koperasi untuk mengelola operasionalnya,” jelasnya.

Baca Juga: Popkab Jombang 2026 Disambut Antusias SMP Swasta, Ini Buktinya

Sementara itu, DLH Jombang akan berperan sebagai pendamping. Pendampingan dilakukan mulai pembinaan, pengarahan hingga pemilihan teknologi pengolahan limbah.

’’DLH sebagai pendamping. Kita mendampingi, membina dan mengarahkan. Ini bukan persoalan yang baru, sudah cukup lama kita upayakan penyelesaiannya, termasuk dalam pemilihan teknologi,” katanya.

Teknologi yang dipilih nantinya diharapkan memiliki biaya operasional relatif murah sehingga lebih mudah diterapkan dan dikelola secara berkelanjutan.

Teknologi tersebut juga telah diusulkan kepada kementerian untuk dapat digunakan dalam pembangunan IPAL.

’’Harapannya, biaya operasionalnya murah sehingga memudahkan paguyuban dalam menjalankan IPAL tersebut,’’ pungkasnya. (ang/naz)

Editor : Ainul Hafidz
pertamina ipal limbah Mayangan tahu