JombangBanget.id – Penanganan endapan limbah produksi tahu dan sampah rumah tangga di Sungai Sekunder Rejoagung 2, Dusun Murong Santren, Desa Mayangan, Kecamatan Jogoroto, diperluas hingga ke bagian hulu dan hilir. Pemkab Jombang mengerahkan puluhan personel dan alat berat untuk menormalisasi aliran sungai sepanjang sekitar 800 meter.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Ruang Terbuka Hijau (RTH) DLH Jombang Menis Agus Muttaqin mengatakan, normalisasi tidak hanya difokuskan pada titik penumpukan limbah di Mayangan.
Tim juga menyisir aliran sungai secara manual hingga wilayah Desa Ngumpul dan Mancar. ’’Tim manual dari DLH yang kami terjunkan 30 orang. Kemudian dari PU 20 orang dan BBWS juga sekitar 20 orang,’’ ujarnya.
Baca Juga: Sungai Rejoagung Jombang Penuh Limbah, Excavator Dikerahkan
Selain pengerukan, Pemkab Jombang meminta bantuan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) untuk menggelontorkan air ke saluran sekunder.
Langkah tersebut diharapkan membantu membersihkan sisa endapan limbah yang masih menempel di sepanjang aliran sungai.
’’Kami juga minta bantuan ke BBWS untuk ada air. Nanti akan dimasukkan flushing di saluran sekunder agar bisa membersihkan timbunan limbah. Namun, hal itu menjadi kewenangan BBWS,’’ jelasnya.
Baca Juga: Sungai di Jombang Penuh Endapan dan Limbah Berbau Busuk, DLH Jombang Bilang Begini
Dalam proses pengerukan, limbah yang diangkat dipilah berdasarkan jenisnya. Limbah produksi tahu dan material organik tidak langsung dibawa ke tempat pembuangan akhir (TPA), tetapi ditempatkan di lahan yang tidak jauh dari lokasi pengerukan. Sedangkan sampah nonorganik diangkut ke TPA untuk diproses lebih lanjut.
Menurut Menis, pemilahan dilakukan karena limbah tahu yang tergolong organik masih berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pupuk setelah melalui pengolahan.
Limbah tersebut tidak serta-merta dibawa ke TPA karena dikhawatirkan menimbulkan persoalan baru selama proses pengangkutan.
’’Kalau limbah tahu bisa dijadikan pupuk jika nanti sudah diolah. Kalau dibawa ke TPA, bisa-bisa di jalan menjadi polusi karena mencemari lingkungan,’’ pungkasnya.
Menis menegaskan, normalisasi yang dilakukan saat ini hanya bersifat penanganan darurat. Untuk mengatasi persoalan limbah secara permanen, Pemkab Jombang menyiapkan pembangunan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal di kawasan tersebut.
Pembangunan IPAL komunal itu direncanakan mendapat dukungan Pertamina PGN. Keberadaan fasilitas tersebut diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi limbah produksi tahu yang masuk ke aliran sungai.
’’Penanganan yang dilakukan sekarang ini sifatnya darurat. Untuk jangka panjang, akan ada pembangunan IPAL komunal dengan dukungan Pertamina PGN. Diharapkan IPAL tersebut bisa menyelesaikan persoalan limbah ini,’’ terangnya. (ang/naz)
Editor : Achmad RW