JombangBanget.id – Air saluran di Desa Badas, Kecamatan Sumobito, berbuih, berwarna keputihan, dan mengeluarkan bau menyengat saat kemarau.
Sementara DLH Jombang menyiapkan eceng gondok sebagai penanganan awal.
Warga menduga kondisi itu berkaitan dengan masuknya limbah dari aktivitas industri di sekitar saluran.
Baca Juga: 538 Guru di Jombang Jalan Sehat, Lanjut Sarapan Soto
Yanto, salah seorang warga yang melintas, mengatakan kondisi tersebut sudah berlangsung cukup lama. Namun, perubahan kondisi air semakin terlihat ketika musim kemarau.
”Sudah lama, apalagi sudah musim kemarau semakin kuat baunya,” katanya.
Dia menduga buih dan perubahan kondisi air berkaitan dengan aliran limbah dari kegiatan industri yang masuk ke saluran.
Menurutnya, terdapat aliran limbah yang mengarah ke saluran tersebut.
Baca Juga: Menimbun Sampah atau Mengurangi Sampah? Tantangan Pengguna Tas Plastik dan Spunbond
”Ya mungkin dari limbah industri, sama seperti yang di dekat pondok itu,” imbuhnya.
Selain muncul buih dan perubahan warna, bau air juga semakin menyengat saat debit menyusut. Yanto menduga kondisi tersebut diperparah masuknya limbah sisa produksi.
”Kemarau begini, baunya semakin menyengat. Bisa jadi airnya sudah sedikit, ketambahan banyak limbah,” tuturnya.
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jombang Miftahul Ulum mengatakan pihaknya akan melakukan pengecekan langsung untuk memastikan sumber pencemaran.
”Kalau ini biar nanti atau besok (hari ini) dicek lapangan dahulu. Biar bisa dipastikan lebih detail limbah dari mana,” katanya.
Ulum mengakui terdapat sejumlah titik saluran yang kondisi airnya diduga mengalami pencemaran.
Untuk penanganan sementara, DLH Jombang menyiapkan langkah kedaruratan, khususnya untuk persoalan limbah di saluran.
Baca Juga: Muktamar NU di Jombang Dapat Dukungan dari Muhammadiyah
Salah satunya dengan menanam eceng gondok sebagai metode fitoremediasi.
Tanaman tersebut diharapkan membantu mengurangi dampak pencemaran, terutama bau dan perubahan warna air.
”Jadi begini, untuk yang kegiatan penanganan limbah di saluran, kami sudah menyiapkan langkah kedaruratan. Berupa penanaman eceng gondok fitoremediasi. Memang itu tidak menyelesaikan, tetapi cukup mengurangi,” jelasnya.
Menurut Ulum, penanaman eceng gondok setidaknya diharapkan dapat mengurangi bau dari air yang tercemar.
Selain itu, tanaman tersebut disebut memiliki kemampuan menyerap polutan yang terdapat di dalam air.
”Minimal dari bau atau dari warna memang masih ada. Tetapi Insya Allah bau cukup berkurang. Ada jurnal juga menerangkan eceng gondok itu bisa menyerap polutan yang ada di air,” ujarnya.
Untuk sementara, penanaman eceng gondok dilakukan di wilayah saluran di Rejoso. Upaya serupa belum dilakukan di titik saluran lainnya.
”Sementara di Rejoso teman-teman sudah menanam eceng gondok. Memang belum menyelesaikan, tetapi kami sudah menyiapkan langkah kedaruratan. Sifatnya darurat sambil menunggu pembangunan IPAL dari pemerintah pusat,” katanya. (fid/naz)
Editor : Ainul Hafidz