Embung Sumbergondang Menyusut, Begini Cara Petani Jombang Selamatkan Tembakau

Ainul Hafidz • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 12:43 WIB
KERING: Tanah area Embung Sumbergondang, di Desa Sumbergondang, Kecamatan Kabuh, Jombang merekah usai debit air mulai berkurang. (Ainul Hafidz/Radar Jombang)
KERING: Tanah area Embung Sumbergondang, di Desa Sumbergondang, Kecamatan Kabuh, Jombang merekah usai debit air mulai berkurang. (Ainul Hafidz/Radar Jombang)

JombangBanget.id – Penyusutan debit Embung Sumbergondang saat puncak kemarau membuat petani tembakau di Kecamatan Kabuh, Jombang harus mencari cara lain untuk mengairi tanaman.

Sebagian petani memasang mesin pompa, sementara lainnya memanfaatkan sumur di tengah sawah untuk menyiram tembakau secara berkala.

Pantauan di lokasi, embung yang berada di kawasan perbukitan itu masih menyisakan air. Namun, debitnya terus berkurang.

Baca Juga: Pemeriksaan KPRI Sejahtera Berlanjut, Lima Pengurus Bakal Dipanggil Kejari Jombang

Sedikitnya dua mesin pompa air terpasang di sekitar embung. Mesin digunakan untuk menyedot sisa air dan mengalirkannya melalui pipa menuju saluran irigasi yang mengarah ke lahan pertanian.

”Juni dan Juli lalu, air embung masih mengalir. Namun, kini harus di-disel untuk mengairi tanaman,” terang Warno.

Warno, warga sekaligus petani setempat, mengatakan Embung Sumbergondang selama ini tidak pernah benar-benar kering.

Air embung disebutnya berasal dari kawasan hutan Perhutani di bagian atas. Saat kemarau, alirannya tak lagi mampu memenuhi kebutuhan pengairan seperti kondisi normal.

Baca Juga: Gus Irfan Yusuf Boarding Pass Kebangkitan NU

”Kalau kemarau seperti ini airnya menyusut,” imbuhnya.

Seiring debit air yang terus menyusut, sebagian petani mulai beralih ke sumber air lain. Salah satunya Panji, petani tembakau setempat.

Dia kini mengandalkan sumur yang berada di area persawahan untuk menyiram tembakau karena air embung sudah tidak mengalir normal hingga ke lahannya.

”Ini saya pakai sumur di sawah untuk menyiram  tembakau,” ujarnya.

Berbeda dengan petani lain yang menggunakan mesin pompa, Panji mengambil air dari sumur secara manual untuk menyiram tanaman.

Pengairan dilakukan sekitar dua kali dalam sepekan, terutama ketika cuaca panas dan terik.

Baca Juga: Raih Juara Harapan 2 Gerak Jalan ROJO, RSUD Jombang Bicara Teamwork

”Berhubung cuaca sekarang agak terik dan panas. Disiramnya kadang seminggu dua kali. Biar daun semakin bagus,” tuturnya.

Sumur tersebut juga digunakan secara bergantian dengan petani lainnya.

Meski demikian, penggunaan air masih memungkinkan karena kebutuhan air tanaman tembakau tidak terlalu banyak.

Kepala Bidang SDA Dinas PUPR Jombang, Sultoni, menegaskan penyusutan debit saat kemarau tak terhindarkan.

Baca Juga: 550 Pesilat Turun Gelanggang, Jombang Bidik Atlet Nasional

”Kemarau pasti menyusut. Tinggal bulan apa, itu variatif. Sumbergondang agak bertahan, tapi tetap lebih cepat surut,” ujarnya.

Faktor utama ketahanan embung adalah sumber air dan kapasitas tampungan. Jika sumber terbatas dan tampungan kecil, durasi simpanan air makin singkat.

”Sumber terbatas, kapasitas kecil, otomatis daya simpan pendek,” imbuhnya.

Meski begitu, konstruksi Embung Sumbergondang dinilai lebih baik dibanding embung lama. Bangunannya disebut mendekati Embung Grojokan yang dibangun pemerintah pusat era 2000-an.

”Secara konstruksi lebih besar dan sudah memenuhi kaidah teknis,” jelasnya. (fid/naz)

Editor : Ainul Hafidz
embung sumbergondang petani tembakau Sumbergondang Irigasi Sawah Jombang