JombangBanget.id – Sebagian tanaman tembakau di Kecamatan Kabuh, Jombang mulai terserang penyakit yang diduga disebabkan jamur.
Serangan itu membuat daun tanaman layu sehingga petani diminta meningkatkan kewaspadaan di tengah cuaca yang tidak menentu.
Kepala Bidang Perlindungan Pascapanen dan Pemasaran Hasil Pertanian Dinas Pertanian (Disperta) Jombang Ahmad Jani Masyhudi mengatakan, penyebab pasti penyakit tersebut masih didalami.
Baca Juga: Empat Siswa SMAN Bareng Lolos OSN Provinsi 2026, Terbanyak Kedua di Kategori SMAN Jombang
Sampel tanaman telah dikirim ke laboratorium untuk dilakukan pengujian.
”Untuk pastinya masih di laboratorium. Dugaan sementara memang mengarah ke serangan jamur,” ujarnya, Senin (27/7).
Menurut Jani, serangan penyakit diduga dipicu perubahan cuaca yang cukup ekstrem sejak awal musim tanam. Lahan sempat tergenang air, kemudian disusul cuaca panas pada siang hari dan suhu lebih dingin pada malam hari.
Kondisi tersebut berpotensi memicu berkembangnya penyakit tanaman.
Baca Juga: DPRD Perketat Pengawasan Program Pemkab Jombang, Banmus Soroti Kinerja OPD
”Ada faktor cuaca juga. Awal musim tanam lahan sempat tergenang, kemudian cuacanya sangat panas, lalu dingin. Kondisi seperti ini memang berpotensi memicu serangan penyakit,” jelasnya.
Berdasarkan laporan sementara, serangan ditemukan di areal pertanaman tembakau Desa Tanjungwadung, Kecamatan Kabuh.
Namun, Disperta masih melakukan pendataan sehingga belum dapat memastikan luas lahan yang terdampak.
”Sementara yang terpantau berada di Desa Tanjungwadung, Kabuh. Untuk luasan masih kami lakukan pendataan,” katanya.
Jani menjelaskan, tanaman yang terserang rata-rata berumur 50 hingga 60 hari. Gejalanya ditandai daun yang mulai layu.
Meski demikian, kondisi tersebut masih memungkinkan dikendalikan sehingga petani belum perlu melakukan tanam ulang.
Baca Juga: Binrohtal: Jangan Hanya Rajin Ibadah Ritual, Ibadah Sosial juga Penting
”Masih memungkinkan dikendalikan,” tegasnya.
Sebagai langkah penanganan, Disperta menggandeng Balai Besar Perbenihan dan Pelindungan Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya yang berada di Mojoagung untuk mengidentifikasi penyebab penyakit sekaligus menentukan langkah pengendalian yang tepat.
”Selain penanganan jangka pendek, kita juga mendampingi petani memperbaiki pola budidaya. Petani diarahkan mengurangi ketergantungan terhadap pupuk dan pestisida kimia,” tandasnya. (yan/naz)
Editor : Ainul Hafidz