JombangBanget.id - Ketua PCNU Jombang sekaligus Pengasuh Pesantren Putri Tebuireng, KH Fahmi Amrullah Hadzik, menjelaskan pentingnya adab.
’’Terkadang adab lebih utama dibanding syariat,’’ tuturnya, saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Kamis (23/7).
Beliau lalu cerita Imam Syafii rahimahullah. Qunut dalam madhab Syafi’i merupakan salah satu sunah ab’ad dalam salat Subuh.
Baca Juga: Pengurus DPC PKB Jombang 2026–2031 Dilantik, Ini Program Prioritas Anas Burhani
Jika seseorang meninggalkannya, baik secara sengaja ataupun karena lupa, sunah baginya untuk melakukan sujud sahwi sebelum salam di akhir salat.
Kesunahan qunut ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, bahwa Anas bin Malik radiyallahu anhu berkata; Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam selalu membaca qunut pada salat Subuh hingga wafatnya.
Qunut dibaca saat berdiri i’tidal, setelah bangkit dari rukuk. Orang yang qunut disunahkan untuk mengangkat tangan, tanpa mengusapkannya ke dada ataupun wajahnya setelah selesai.
Suatu ketika, Imam Syafi’i pernah tidak melakukan qunut saat melaksanakan salat Subuh di Masjid Agung Abu Hanifah yang terletak di dekat makam Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit atau yang dikenal Imam Hanafi.
Baca Juga: Grand Max Terbalik dan Ringsek di Ploso Jombang, Sopir Tewas, Kernet Terjepit
Imam Syafii sengaja melakukan hal tersebut, tidak dalam keadaan lupa. Imam Syafi’i ditanya perihal alasannya tidak berqunut.
Ulama asal Palestina yang wafat di Mesir itu menjawab; Bagaimana aku mempertentangkannya, sementara aku berada di hadapannya.
Terkadang, kami mengikuti madhabnya penduduk Irak.
Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari menceritakan dalam kitabnya yang berjudul At-Tibyan fin Nahyi ‘an Muqathi’atil Arham, wal Aqarib, wal Ikhwan; Imam Syafi’i menziarahi Imam Hanafi selama tujuh hari dengan membaca Alquran.
Setiap kali mengkhatamkannya, ia menghadiahkan pahalanya untuk Imam Hanafi.
Saat melaksanakan salat Subuh di Masjid Imam Hanafi, ulama bernama lengkap Abu Abdillah Muhammad bin Idris al-Syafi’i itu tidak membaca qunut karena menjaga adab terhadap sosok Imam Hanafi.
Baca Juga: Keamanan Muktamar NU di Tambakberas Jombang Diperketat, 400 CCTV dan Ribuan Personel Disiagakan
’’Karena Imam Hanafi tidak menyebut qunut sebagai suatu sunah pada salat Subuh, maka saya meninggalkannya karena menjaga adab kepadanya,’’ kata Imam Syafii.
Dari kisah ini, kita dapat mengambil beberapa pelajaran. Pertama, kita melihat bahwa betapapun berbeda pandangan dengan Imam Hanafi, Imam Syafi’i tetap menjunjung tinggi adabnya.
Sikap ini merupakan bentuk wujud penghormatan atau penghargaannya terhadap pandangan Imam Hanafi yang merupakan guru dari gurunya, Imam Malik.
Imam Syafii menerapkan; Adab lebih tinggi daripada ilmu.
Baca Juga: Sekolah Rakyat Jombang Masuki Tahap Penentuan, Tim Transisi Segera Cek Kesiapan Gedung dan Fasilitas
Kita sudah sepatutnya mengikuti akhlak Imam Syafi’i, menghormati pandangan orang lain yang berbeda dengan kita.
Tidak malah menghakimi sendiri, membenci, mencaci, atau memakinya.
Perbedaan merupakan rahmat yang patut disyukuri, tidak perlu dipertentangkan dan merasa pandangannya paling benar, sedangkan yang lain salah.
Ulama sekaliber Imam Syafi’i saja bersikap demikian, bagaimana dengan kita? Semoga dapat meneladaninya.
Kedua, perbedaan tidak perlu dihadap-hadapkan dengan menganggap satu pandangan benar. Sedangkan yang lainnya salah.
Baca Juga: 300 Sekolah Ajukan Rehab, Begini Nasib SDN Rusak di Jombang
Kita boleh memilih pandangan siapa saja, baik Imam Syafi’i, Imam Hanafi, ataupun ulama lainnya.
Semuanya memiliki pijakan dalil dan manhaj berpikir sendiri yang dapat dibenarkan secara hukum. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz