JombangBanget.id - Pengasuh PP Shofwanul Hikmah, Badas, Kecamatan Sumobito, Jombang, KH Moh Roihan Sugondo, menjelaskan pentingnya zuhud.
’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Bersikap zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah mencintaimu. Bersikap zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya manusia akan mencintaimu,’’ tuturnya, saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Rabu (15/7).
Cinta Allah diperoleh dengan tidak menjadikan dunia sebagai tujuan hidup. Sedangkan cinta manusia diperoleh dengan tidak menginginkan apa yang ada di tangan mereka.
Para ulama menjelaskan makna zuhud dengan ungkapan yang berbeda, namun saling melengkapi.
Baca Juga: Terdakwa Divonis 7 Tahun Penjara, Sidang Kasus Pemerkosaan Anak di Jombang
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata: Zuhud terhadap dunia adalah memendekkan angan-angan. Tidak terlena seolah-olah akan hidup selamanya, tetapi selalu mempersiapkan bekal untuk akhirat.
Ketika menerima hadiah dari penguasa yang diragukan sumbernya, Ahmad bin Hanbal memilih tidak menerimanya.
Bukan karena membenci harta, tetapi karena ingin menjaga kehormatan agama dan kebersihan hatinya. Ini bentuk zuhud yang lahir dari ketakwaan.
Imam Al-Junaid al-Baghdadi rahimahullah mengatakan: Zuhud ialah kosongnya hati dari sesuatu yang telah kosong dari tangan.
Ketika kehilangan harta, jabatan, atau kedudukan, hati tetap tenang karena tidak bergantung kepadanya.
Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata: Zuhud bukanlah memakai pakaian kasar atau memakan makanan yang sederhana, tetapi pendek angan-angannya terhadap dunia.
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah menjelaskan, zuhud adalah meninggalkan segala sesuatu yang tidak bermanfaat bagi akhirat. Serta lebih memilih apa yang ada di sisi Allah Ta’ala daripada kenikmatan dunia.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan, zuhud ialah mengosongkan hati dari ketergantungan kepada dunia, bukan mengosongkan tangan dari kepemilikan harta.
Baca Juga: SMPN 1 Megaluh Gelar MPLS Ramah Interaktif, Bangun Karakter dan Percaya Diri Murid Baru
Zuhud bukan berarti meninggalkan pekerjaan atau menolak rezeki. Contoh sikap zuhud, bekerja keras mencari nafkah, tetapi tidak menghalalkan segala cara.
Memiliki rumah dan kendaraan yang layak, namun tidak sombong. Bersedekah ketika memiliki kelebihan harta.
Tidak iri terhadap keberhasilan orang lain. Tidak memaksakan diri berutang demi gaya hidup.
Tetap tenang ketika kehilangan harta karena yakin Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Menggunakan jabatan untuk melayani masyarakat, bukan memperkaya diri.
Orang yang zuhud tetap berusaha, tetapi tidak diperbudak oleh hasil usahanya.
Sahabat Abdurrahman bin Auf radiyallahu anhu saudagar yang sangat kaya. Namun kekayaannya tidak membuat lalai. Sebagian besar hartanya diinfakkan di jalan Allah.
Beliau pernah menyumbangkan ratusan ekor unta beserta muatannya untuk kaum muslimin. Kekayaan berada di tangannya, bukan di hatinya. Inilah salah satu teladan zuhud yang sesungguhnya.
Utsman bin Affan radiyallahu anhu membeli sumur Rumah dan mewakafkannya untuk kaum muslimin.
Ketika perang Tabuk, beliau menyumbangkan harta yang sangat besar hingga Rasulullah bersabda bahwa setelah itu tidak ada lagi yang membahayakan Utsman atas amal yang dilakukannya.
Harta tidak menguasai dirinya, justru menjadi jalan menuju rida Allah Ta’ala.
Baca Juga: MPLS Ramah SMPN 1 Sumobito Jombang Hadirkan Suasana Aman, Nyaman, dan Menyenangkan
Ibrahim bin Adham rahimahullah, seorang raja yang kemudian menjadi ahli ibadah, pernah ditanya; Mengapa engkau meninggalkan kemewahan kerajaan?
Beliau menjawab; ’’Aku meninggalkan sesuatu yang fana untuk memperoleh sesuatu yang kekal.’’
Ini menunjukkan, zuhud bukan membenci dunia, tetapi meletakkan dunia pada tempatnya. Dunia hanyalah kendaraan menuju akhirat. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz