JombangBanget.id – Curah hujan tinggi membuat petani tembakau di Dusun Sidokaton, Desa Sidokaton, Kecamatan Kudu, Jombang gelisah.
Pasalnya, ratusan tanaman mulai layu dan menguning akibat terendam genangan air.
Pantauan di lokasi Kamis (25/6), menunjukkan beberapa lahan mulai mengering.
Namun di sejumlah titik, air masih menggenangi area tanam dan merendam batang tanaman tembakau muda.
Selain itu, ada juga petak sawah yang tergenang sehingga tanaman mengalami kerusakan.
Baca Juga: Sedekah Desa Karangwinongan Jombang, Gelar Potensi Desa Angkat Budaya Leluhur
Triman, 53, petani setempat mengatakan genangan terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut sejak Selasa (23/6) malam hingga Rabu (24/6) pagi.
Akibatnya, ratusan tanaman tembakau miliknya terendam air selama berjam-jam.
”Tanaman saya mati karena terendam sejak Rabu kemarin. Hujannya mulai Selasa malam sampai Rabu pagi, begitu pagi ya sudah terendam semua,” ujarnya ditemui di sawahnya.
Menurut Triman, tanaman yang terdampak memiliki umur berbeda-beda, mulai dua minggu hingga satu bulan setelah tanam.
Kondisi geografis wilayah Sidokaton yang menjadi tempat berkumpulnya aliran air dari sejumlah sungai membuat lahan pertanian di kawasan itu rawan tergenang saat hujan deras turun.
”Di sini memang tempatnya air. Sungai-sungai kumpulnya di sini semua. Jadi kalau hujan deras ya pasti begini,” ujarnya.
Dari sekitar banon 250 atau 3.500 meter persegi lahan miliknya, sebagian tanaman mati dan sebagian lainnya masih berusaha diselamatkan.
”Yang mati ya harus diganti bibit baru. Kalau yang masih bertahan, paritnya kami perdalam supaya kalau ada air lagi tidak langsung kena tanaman,” tegasnya.
Baca Juga: Rumah Lansia di Jombang Ludes Terbakar, Diduga Dipicu Bara Tungku Kayu
Kerusakan lebih besar dialami Kuswanto, 56. Seluruh tanaman tembakau miliknya di lahan sekitar banon 300 atau sekitar 4.200 meter persegi dilaporkan mati setelah kembali terendam air.
Padahal lahan tersebut baru saja ditanami ulang akibat kejadian serupa beberapa waktu lalu.
”Ini mati semua. Tidak ada yang bisa diselamatkan,” katanya sambil menunjukkan tanaman yang menguning dan roboh di lahannya.
Ia mengaku tanaman yang rusak kali ini merupakan tanam ulang kedua.
“Yang pertama bulan lalu umur dua minggu terendam dan mati. Saya ganti lagi awal bulan ini, sekarang terendam lagi dan mati lagi,” ujarnya.
Menurut Kuswanto, kerusakan tidak hanya terjadi di lahannya. Hampir seluruh tanaman tembakau di Dusun Sidokaton mengalami nasib serupa.
”Kalau total di dusun sini sekitar sembilan hektare. Hampir semuanya terendam dan hampir semuanya rusak,” katanya.
Para petani kini terpaksa kembali membeli bibit dan mengeluarkan biaya tanam.
Kuswanto memperkirakan kebutuhan biaya mencapai sekitar Rp 500 ribu untuk setiap 1.400 meter persegi lahan, meliputi bibit dan tenaga kerja.
Baca Juga: Lelang Mobil Dinas Pemkab Jombang Diulang, Tiga Kendaraan Tak Laku di Putaran Pertama
”Kalau sudah dua kali tanam ya tinggal dikalikan saja. Sekarang masih harus tanam ulang lagi,” ucapnya.
Ia mengaku kondisi cuaca yang sulit diprediksi dalam dua tahun terakhir membuat petani tembakau semakin khawatir.
”Dua tahun terakhir ini berat sekali. Cuaca tidak menentu, jadi petani was-was terus. Tembakau itu tidak mau banyak air, sementara hujan masih sering turun,” pungkasnya. (riz/ang)
Editor : Ainul Hafidz