JombangBanget.id - Pendeta GPdI House Of Prayer Sawahan, Jombang, Petrus Harianto STh, menyampaikan renungan menarik tentang pentingnya beribadah dengan sukacita.
’’Beribadahlah kepada Tuhan dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai!,’’ tuturnya mengutip Mazmur 100:2.
Pernahkah kita mengalami satu keadaan dimana kita berat untuk datang beribadah.
Seperti ada satu keadaan bahwa ibadah hanya menjadi rutinitas yang membosankan. Tidak sedikit orang yang beribadah ditentukan suasana atau keadaan hatinya sehingga beribadah menjadi terpaksa.
Baca Juga: WFH ASN di Tiga OPD Jombang Dicabut, Mulai 1 Juli Wajib Ngantor Penuh
Tidak lagi didasarkan atas kerinduan untuk mengalami perjumpaan dengan Tuhan.
Ayat di atas merupakan ajakan untuk beribadah dengan sukacita, datang ke hadapan Tuhan dengan sorak-sorai.
Penekanannya bahwa "ibadah harus dilakukan dengan hati yang penuh sukacita sebagai respons atas kebaikan dan kesetiaan Tuhan".
Beribadah kepada Tuhan seharusnya tidak dianggap sebagai beban, melainkan sebagai suatu kerinduan, kesenangan dan kegembiraan.
Datang beribadah dengan menunjukkan semangat dan kegembiraan yang mendalam.
Mazmur ini dimulai dengan seruan agar seluruh bumi bersorak-sorai kepada Tuhan.
Ini merupakan panggilan untuk datang kepada Tuhan dengan perasaan penuh syukur dan kebahagiaan karena Ia adalah Allah yang telah menciptakan kita dan kita adalah milik kepunyaan-Nya.
Betapa pentingnya ibadah yang dilakukan dengan sukacita, "bukan karena kewajiban".
Dalam ibadah, seharusnya kita melayani dan menyembah Tuhan dengan sukacita dan semangat, bahkan di tengah kesulitan atau pergumulan hidup, "karena rasa sukacita itu datang dari perjumpaan dan hubungan dengan Tuhan sendiri."
Baca Juga: Perubahan Iklim Ancam Pertanian, Pemkab Jombang Tambah Kuota Asuransi Petani
Kita diajak untuk hidup dalam kesadaran akan kebaikan Tuhan sehingga ibadah menjadi ekspresi syukur dan kesenangan, bukan beban.
Ibadah sejati bukan hanya sekadar rutinitas, tetapi ekspresi hati yang gembira karena mengenali siapa Tuhan yang kepadanya kita datang beribadah.
Meskipun dalam suka maupun duka, kita diajak untuk tetap datang kepada Tuhan dengan sukacita karena Ia adalah sumber kekuatan dan penghiburan.
Tuhan mau kita beribadah sebagai gaya hidup dalam keadaan baik atau tidak baik.
’’Pastikan setiap kita memiliki kerinduan untuk tetap beribadah dengan sukacita dalam keadaan apapun karena perjumpaan dengan Tuhan adalah dasar kekuatan dan sukacita hidup kita. Tuhan Yesus memberkati,’’ ungkapnya. (jif/ang)
Editor : Ainul Hafidz