JombangBanget.id - Pengasuh Pondok Pesantren Al Aqobah, Kwaron, Diwek, sekaligus Wakil Ketua MUI Jombang, KH Junaidi Hidayat, menjelaskan pentingnya niat.
’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Betapa banyak amal yang berbentuk amal dunia tetapi menjadi amal akhirat karena baiknya niat. Dan betapa banyak amal yang berbentuk amal akhirat tetapi jadi amal dunia belaka karena jeleknya niat,’’ tuturnya, saat khotbah di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Jumat (12/6).
Niat dapat mengubah kebiasaan menjadi ibadah, dan dapat pula mengubah ibadah menjadi sekadar kebiasaan.
’’Cuci muka dan wudu itu bedanya di niat,’’ terangnya.
Baca Juga: Akhir Juni Cair, 186 Guru Madrasah Jombang Terima Insentif Rp 1,5 Juta
Salat dan olahrga bedanya juga di niat.
Rasulullah bersabda; Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.
Sebab turunnya hadis ini berkaitan dengan seseorang yang berhijrah bukan karena Allah dan Rasul-Nya, tetapi karena ingin menikahi seorang wanita yang dikenal dengan nama Ummu Qais.
Maka ia dikenal sebagai Muhajir Ummu Qais.
Ibadah bukan hanya salat, puasa, zikir, dan membaca Alquran.
Islam mengajarkan, pekerjaan duniawi pun dapat bernilai ibadah apabila diniatkan untuk mencari rida Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman di QS Al-An'am 162. Katakanlah, sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam.
Ayat ini menunjukkan, seluruh kehidupan seorang mukmin dapat menjadi ibadah.
Bekerja pun bisa berpahala ibadah.
Rasulullah bersabda: Engkau tidaklah memberikan suatu nafkah dengan mengharap wajah Allah kecuali engkau akan diberi pahala karenanya, bahkan sampai suapan yang engkau masukkan ke mulut istrimu.
Baca Juga: Urus Paspor di CFD Jombang, Layanan Imigrasi Kediri Diserbu Warga
Suatu ketika, para sahabat melihat seorang lelaki bekerja sangat keras.
Mereka berkata: ’’Seandainya kekuatan ini digunakan di jalan Allah.’’
Lalu Rasulullah bersabda: Jika ia keluar bekerja untuk anak-anaknya yang masih kecil maka ia berada di jalan Allah.
Kebiasaan-kebiasaan dapat berubah menjadi ibadah karena niat yang tulus.
Tidur, makan, bekerja, belajar, berdagang, bertani, bahkan olahraga dapat menjadi ibadah apabila diniatkan untuk menguatkan diri dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala.
Imam Ahmad bin Hanbal selalu berniat dalam segala hal, bahkan saat tidur.
Ketika ditanya tentang tidur beliau menjawab; Tidur diperlukan agar kuat melakukan salat malam dan menuntut ilmu.
Tidur yang mubah berubah menjadi ibadah karena niat yang benar.
Sebaliknya, amal akhirat bisa menjadi amal dunia karena buruknya niat.
Allah berfirman di QS Al-Kahfi 104. Orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka telah berbuat sebaik-baiknya.
Baca Juga: Kecelakaan Maut di Mojoagung Jombang, Pemotor Asal Bangkalan Tewas Terseret Truk
Ayat ini mencakup orang yang beramal tetapi amalnya tidak sesuai dengan petunjuk Allah atau tidak dilakukan dengan ikhlas sehingga menjadi sia-sia.
Rasulullah bersabda, pada Hari Kiamat ada tiga orang yang pertama kali diadili: Orang alim.
Orang kaya yang dermawan. Orang yang mati dalam peperangan.
Secara lahiriah mereka melakukan amal besar. Namun Allah menyingkap niat mereka:
Yang alim ingin disebut ulama. Yang kaya ingin disebut dermawan. Yang berperang ingin disebut pemberani.
Maka dikatakan kepada mereka: ’’Engkau telah mendapatkan apa yang engkau inginkan di dunia.’’
Lalu mereka diseret ke neraka. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz