Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Wereng Hijau Ancam 60 Hektare Sawah di Mojowarno Jombang, Petani Diminta Waspada

Azmy endiyana Zuhri • Minggu, 21 Juni 2026 | 06:43 WIB
RAWAN: Disperta Jombang melakukan pengecekan ke sawah di Desa latsari, Kecamatan Mojowarno. (Azmy Endiyana/Radar Jombang)
RAWAN: Disperta Jombang melakukan pengecekan ke sawah di Desa latsari, Kecamatan Mojowarno. (Azmy Endiyana/Radar Jombang)

JombangBanget.id Puluhan hektare sawah di Kecamatan Mojowarno, Jombang terancam penyakit tungro akibat wereng hijau.

Di Desa Latsari Kecamatan Mojowarno, Jombang saja ada 60 hektare sawah yang terancam diserang.

’’Cuaca yang berubah-ubah membuat petani harus waspada. Sosialisasi dan pendampingan akan terus kami lakukan untuk menjaga produktivitas padi sekaligus mendukung ketahanan pangan di Kabupaten Jombang,’’ kata  Kepala Dinas Pertanian Jombang Moch Rony melalui Kabid Perlindungan, Pascapanen, dan Pemasaran Hasil Pertanian, Ahmad Jani Masyhudi.

Perubahan cuaca yang terjadi belakangan ini menjadi faktor yang perlu diwaspadai.

Baca Juga: Porkab Jombang 2026 Ubah Sistem, Atlet Kini Akan Wakili Kecamatan Bukan Klub

Kondisi tersebut sangat mendukung perkembangan organisme pengganggu tanaman (OPT), termasuk wereng hijau sebagai vektor virus tungro.

Ancaman tungro cukup tinggi di Desa Latsari yang memiliki hamparan sawah sekitar 60 hektare.

Risiko tersebut meningkat setelah petani mulai menerapkan pola tanam padi tiga kali dalam setahun atau padi-padi-padi sejak 2025.

Sebelumnya, pola tanam yang diterapkan adalah padi-padi-jagung, padi-padi-kedelai maupun padi-padi-bero.

’’Pola tanam yang terus menerus ditanami padi membuat siklus hama dan penyakit semakin mudah berkembang. Karena itu perlu pengelolaan budidaya yang lebih baik,’’ terangnya.

Tingginya serangan tungro juga dipengaruhi penggunaan pupuk nitrogen yang berlebihan.

Pemupukan yang tidak berimbang justru dapat meningkatkan populasi wereng hijau sehingga risiko penularan virus tungro semakin besar.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Disperta terus memperkuat penerapan Budidaya Tanaman Sehat (BTS) dan pengembangan jaringan Pos Pelayanan Agens Hayati (PPAH) di berbagai wilayah.

Program tersebut mendorong petani mengurangi ketergantungan pada bahan kimia serta mengoptimalkan pemanfaatan pupuk organik dan agens hayati.

Baca Juga: Renungan Minggu: Saat Doa Belum Dijawab, Jangan Jemu-Jemu Berdoa

Penyakit yang ditularkan oleh wereng hijau itu berpotensi menurunkan produktivitas hingga menyebabkan gagal panen jika tidak segera diantisipasi.

Karena itu Disperta Jombang menggencarkan sosialisasi kepada petani di sejumlah wilayah rawan.

Di antaranya Desa Latsari, Kecamatan Mojowarno, serta Kecamatan Mojoagung dan Sumobito.

Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya deteksi dini sekaligus mencegah meluasnya serangan penyakit pada tanaman padi.

Puluhan petani dan kelompok tani mengikuti sosialisasi yang digelar di areal persawahan Desa Latsari dan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) setempat.

Dalam kegiatan tersebut, petani diberikan pemahaman mengenai gejala serangan wereng hijau, siklus hidup hama, hingga teknik pengendalian yang efektif dan ramah lingkungan.

Disperta juga memasang banner edukasi di sejumlah titik strategis di Kecamatan Mojoagung dan Sumobito agar informasi mengenai bahaya tungro semakin luas diterima petani.

Dalam pertemuan itu, para petani juga diajak mengembalikan kesuburan tanah melalui penggunaan pupuk organik, mikroorganisme lokal (MOL), serta pelestarian musuh alami hama.

Salah satunya dengan memanfaatkan pias trichograma untuk menekan serangan penggerek batang padi.

Disperta juga mengimbau petani agar memperkuat koordinasi dengan kelompok tani dan petugas lapangan.

Baca Juga: Binrohtal: Empat Bekal Hidup yang Sering Dilupakan, Mulai Jujur hingga Akhlak Baik

Menggunakan benih berlabel, menerapkan tanam serempak, melakukan pengamatan rutin, hingga mengoptimalkan pengendalian hama terpadu (PHT).

’’Jangan membakar jerami setelah panen. Manfaatkan sebagai pupuk organik untuk memperbaiki kesuburan tanah. Dengan budidaya yang sehat, produktivitas dapat meningkat dan serangan hama penyakit bisa ditekan,’’ ungkapnya. (yan/jif)

Editor : Ainul Hafidz
#padi #Wereng #Jombang #disperta jombang #Petani