JombangBanget.id - Dampak kerusakan pintu nomor enam Dam Karet Jatimlerek di Kecamatan Plandaan, Jombang mulai dirasakan petani di wilayah utara Sungai Brantas.
Selain mengancam penurunan hasil panen, petani kini harus mengeluarkan biaya tambahan untuk pengairan dan pemupukan karena suplai air dari intake Sungai Brantas terhenti.
Kondisi tersebut dirasakan Suwaji, petani di Dusun Tambakrejo, Desa Karangmojo, Kecamatan Plandaan. Minimnya pasokan air membuat lahan sawah mulai mengering. Retakan tampak di sejumlah petak sawah yang ditanami padi.
’’Airnya kurang, tanah banyak yang merekah,’’ katanya.
Baca Juga: Pilkades Serentak Jombang 2027 Diusulkan Rp 25 Miliar, DPRD Minta Dipangkas
Sebagian besar tanaman padi di wilayah tersebut telah berumur lebih dari satu bulan.
Bahkan, ada yang memasuki usia 50 hingga 60 hari setelah tanam. Pada fase itu, kebutuhan air cukup tinggi untuk menunjang pertumbuhan tanaman.
Menurut Suwaji, kekurangan air hampir pasti berdampak pada produktivitas panen. Pertumbuhan tanaman tidak maksimal sehingga hasil panen diperkirakan turun dibanding kondisi normal.
’’Biasanya banon 100 (sekitar 1.400 meter persegi) bisa panen 1,2 ton. Kalau seperti ini kemungkinan nanti hanya sekitar 8 kuintal,” sebutnya.
Untuk menyelamatkan tanaman, petani mengandalkan sumur bor dengan bantuan mesin diesel. Namun, debit air yang dihasilkan masih belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh lahan.
’’Selama ini irigasi lancar. Karena sekarang seret, tanaman tidak bisa tumbuh seperti biasanya meski sudah dibantu disel,’’ imbuhnya.
Beban petani tidak berhenti pada biaya pengairan. Mereka juga harus menambah frekuensi pemupukan untuk menjaga kondisi tanaman. Jika biasanya pemupukan dilakukan dua kali, kini menjadi tiga kali dengan tambahan pupuk penyubur.
’’Harapannya tanaman tetap subur meski air kurang,’’ ucapnya.
Suwaji mengaku sudah lima kali mengoperasikan mesin diesel untuk mengairi lahan seluas 1.400 meter persegi dan tiga kali untuk lahan seluas 2.800 meter persegi. Setiap kali pengoperasian membutuhkan bahan bakar senilai Rp 92 ribu hingga Rp 100 ribu.
Baca Juga: Efisiensi Anggaran, Dinas Perkim Jombang Pangkas Dana Pemeliharaan Trotoar hingga Segini
’’Kalau dihitung tinggal dikalikan saja. Ada juga yang memakai gas elpiji melon, tergantung luas sawah dan kondisi tanamannya,’’ tuturnya.
Karena itu, petani berharap perbaikan pintu Dam Karet Jatimlerek bisa segera tuntas. Mereka menilai keberhasilan penanganan darurat menjadi kunci kembalinya pasokan air ke areal persawahan.
’’Petani berharap banyak dari perbaikan dam ini. Tiap sore banyak yang melihat perkembangan pemasangan jumbo bag,’’ katanya. (fid/naz)
Editor : Ainul Hafidz