JombangBanget.id - Pengasuh Pondok Pesantren Zainur Rosyid, Tapen, Kudu, Jombang Dr H Agus Sholahuddin, menjelaskan tentang cara pandang orang beriman terhadap kematian.
’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Almautu tuhfatul mukmin, kematian itu hadiah bagi orang mukmin,’’ tuturnya, saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Kamis (4/6).
Karena selama hidupnya ia telah mempersiapkan diri untuk bertemu Allah Ta’ala. Ada beberapa tanda yang tampak pada dirinya.
Pertama, segala sesuatu menjadikannya ingat kepada Allah. Allah berfirman di QS Surat Al-Muzzammil ayat 19.
Baca Juga: Pilkades Serentak Jombang 2027 Diusulkan Rp 25 Miliar, DPRD Minta Dipangkas
Sesungguhnya ini suatu peringatan. Maka barangsiapa yang menghendaki niscaya ia menempuh jalan (yang menyampaikannya) kepada Tuhannya.
Orang yang sempurna imannya selalu menemukan jalan menuju Allah dari segala sesuatu yang ia lihat. Melihat hujan mengingatkannya pada rahmat Allah. Melihat sakit mengingatkannya pada ujian Allah.
Melihat kematian mengingatkannya pada akhirat. Melihat nikmat mengingatkannya pada syukur. Melihat dosa mengingatkannya pada istighfar.
Karena itu, seluruh alam semesta menjadi guru yang mengajarinya tentang Allah.
Imam Al-Ghazali berkata; Orang yang mengenal Allah akan melihat bukti kekuasaan-Nya pada segala sesuatu.
Rabi' bin Khutsaim, seorang tabi'in besar, dikenal sangat gemar mengambil pelajaran dari setiap kejadian. Ketika melihat jenazah lewat, ia menangis dan berkata: ’’Kelak aku juga akan dibawa seperti itu.’’
Ketika melihat orang sakit, ia teringat sakitnya sakaratul maut. Ketika melihat kuburan, ia teringat rumah terakhirnya di dunia. Karena itulah hatinya selalu hidup dan dekat dengan Allah.
Kedua, istiqamah dalam beramal.
Allah berfirman di QS Fussilat 30. Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ’’Tuhan kami adalah Allah,’’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat turun kepada mereka seraya berkata: Jangan takut dan jangan bersedih.
Di antara waktu turunnya kabar gembira malaikat itu adalah saat menjelang kematian. Rasulullah bersabda: Amal yang paling dicintai Allah yang terus-menerus walaupun sedikit.
Baca Juga: Efisiensi Anggaran, Dinas Perkim Jombang Pangkas Dana Pemeliharaan Trotoar hingga Segini
Orang yang istiqamah tidak menunggu semangat. Ia tetap salat meski lelah. Tetap mengaji meski sibuk. Tetap bersedekah meski sedikit. Tetap berzikir meski tidak dilihat orang.
Menjelang wafat, Imam Ahmad masih berzikir kepada Allah. Ketika putranya berkata: ’’Wahai Ayah, istirahatlah.’’ Beliau menjawab: ’’Belum, belum, sampai kaki ini masuk surga.’’
Ketiga, menjadikan dunia sebagai ladang beramal untuk akhirat.
Nabi bersabda; Dunia ladang bagi akhirat.
Orang beriman memandang umur sebagai modal. Hari-hari sebagai kesempatan. Harta sebagai amanah. Jabatan sebagai sarana ibadah. Kesulitan sebagai ladang pahala.
Petani yang rajin menanam tidak takut datangnya musim panen. Justru ia menunggu-nunggunya.
Demikian pula orang yang menjadikan dunia sebagai ladang amal. Kematian bukan ancaman baginya, melainkan saat memetik hasil.
Baca Juga: Curi Motor Honda Vario Milik Tetangga, Dua Remaja Asal Kesamben Jombang Ditangkap Polisi
Hari ini (15/6) kita memasuki akhir tahun hijriah dan besok (16/6) tahun baru hijriah.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Barang siapa berpuasa pada hari terakhir bulan Dzulhijjah dan hari pertama bulan Muharram, maka ia telah menutup tahun yang lalu dan membuka tahun yang baru dengan puasa.
Allah menjadikannya sebagai kafarah (penghapus dosa) selama lima puluh tahun. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz