JombangBanget.id - Ustad Hambali, menjelaskan pentingnya meneleadani Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam di masa ekonomi sulit.
’’Ketika ekonomi sulit, Rasulullah mengajarkan takwa, kesabaran, kebersamaan, kesederhanaan, ikhtiar, dan tawakal,’’ tuturnya, saat khotbah di Masjid Annur Satlantas Polres Jombang, Jumat (12/6).
Pertama, takwa merupakan jalan keluar dan pembuka rezeki.
Allah memberikan janji yang luar biasa kepada orang-orang bertakwa. Sebagaimana disebutkan di QS At-Thalaq 2-3.
Baca Juga: Platform Talenta Disnaker Jombang Bikin Layanan Makin Mudah, Pendapatan Daerah Ikut Naik
Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.
Ketika kesulitan datang, banyak orang hanya sibuk mencari solusi duniawi. Padahal Allah mengajarkan, solusi pertama memperbaiki hubungan dengan-Nya.
Rasulullah bersabda: Barang siapa memperbanyak istighfar, Allah akan memberikan jalan keluar dari setiap kesedihan, kelapangan dari setiap kesempitan, dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.
Abdullah bin Mas'ud radiyallahu 'anhu berkata: Sesungguhnya ayat yang paling memberi harapan dalam Alquran; Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar.
Seorang lelaki mengadu kepada Hasan Al-Bashri tentang kemiskinan. Hasan berkata, ’’Perbanyaklah istighfar.’’
Orang lain mengadu tentang kekeringan, beliau menjawab, ’’Perbanyaklah istighfar.’’
Yang lain mengadu belum memiliki keturunan, beliau juga menjawab, ’’Perbanyaklah istighfar.’’
Murid-murid bertanya mengapa jawabannya sama, Hasan membaca firman Allah dalam QS. Nuh ayat 10-12 yang menjelaskan, istighfar mendatangkan hujan, harta, dan keturunan.
Pelajarannya, ikhtiar spiritual sering kali menjadi pintu datangnya solusi material.
Kedua, sabar, kebersamaan, dan optimisme dalam menghadapi kesulitan.
Rasulullah dan para sahabat pernah mengalami masa yang sangat berat. Saat menggali parit pada Perang Khandaq, mereka menahan lapar hingga mengikat batu di perut.
Jabir radiyallahu 'anhu melihat Nabi mengikat dua batu di perut beliau karena lapar. Meski demikian, Rasulullah tidak mengajarkan kepanikan, melainkan kesabaran dan kebersamaan.
Rasulullah bersabda: Makanan satu orang cukup untuk dua orang, makanan dua orang cukup untuk empat orang.
Hadis ini mengajarkan pentingnya berbagi ketika keadaan sulit.
Ketiga, jangan putus silaturahim.
Nabi bersabda; Siapa yang ingin ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahim.
Keempat, jujur berdagang.
Nabi bersabda: Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, orang-orang yang benar, dan para syuhada.
Di masa sulit, jangan menimbun barang, jangan curang timbangan, jangan mengambil keuntungan secara zalim.
Pada tahun Ramadah, masa paceklik besar di zaman Khalifah Umar bin Khattab, makanan sangat sulit diperoleh. Umar tidak mau hidup mewah sementara rakyatnya kelaparan.
Baca Juga: Sopir Truk Gandeng Jadi Tersangka, Kasus Kecelakaan Maut di Jogoroto Jombang
Beliau hanya makan minyak hingga wajahnya berubah kehitaman.
Umar berkata: ’’Bagaimana aku bisa peduli kepada rakyat jika aku tidak merasakan apa yang mereka rasakan?’’
Inilah pemimpin yang menghadapi krisis dengan empati, bukan kemewahan.
Keenam, hidup sederhana dan mendahulukan kebutuhan. Rasulullah pemimpin terbesar, tetapi kehidupan beliau sangat sederhana.
Aisyah radiyallahu 'anha berkata: Keluarga Muhammad tidak pernah kenyang makan roti gandum selama tiga hari berturut-turut hingga beliau wafat.
Ketujuh, melihat yang di bawah pada urusan dunia.
Rasulullah bersabda: Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian. Dengan cara kita akan lebih mudah bersyukur.
Kedelapan, jangan berlebihan. Allah berfirman: Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan (QS Al-A'raf: 31).
Kesembilan, hiduplah seperti musafir.
Rasulullah bersabda: Tidaklah harta anak Adam kecuali yang ia makan lalu habis, yang ia pakai lalu usang, atau yang ia sedekahkan lalu kekal pahalanya.
Baca Juga: Kecelakaan Beruntun di Mojoagung Jombang, Supeltas Tewas Ditabrak Truk
Khalifah Umar bin Abdul Aziz ketika menjadi pemimpin kaum muslimin hanya memiliki pakaian yang sangat sederhana.
Bahkan istrinya pernah mengeluhkan keadaan rumah yang tidak semewah pejabat lain.
Umar berkata, kenikmatan sesaat dunia tidak sebanding dengan kebahagiaan akhirat.
Dia wafat dengan meninggalkan harta yang sangat sedikit, tetapi meninggalkan nama yang harum sepanjang sejarah. Kesederhanaannya menjadi sebab keberkahan pemerintahannya.
Ikhtiar dan tawakal harus berjalan bersama.
Menghadapi ekonomi sulit harus dengan bekerja, berdagang, bertani, mencari peluang usaha, menghemat pengeluaran, memperbanyak doa, dan tetap bertawakal kepada Allah Ta’ala. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz