Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

BBWS Brantas Janjikan Percepat Penanganan Kebocoran Dam Karet Jatimlerek, Target Rampung Tiga Pekan

Ainul Hafidz • Sabtu, 30 Mei 2026 | 07:35 WIB
Kondisi pintu enam Dam Karet Jatimlerek, Plandaan, Jombang yang jebol. (Ainul Hafidz/Radar Jombang)
Kondisi pintu enam Dam Karet Jatimlerek, Plandaan, Jombang yang jebol. (Ainul Hafidz/Radar Jombang)

JombangBanget.id - Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas menjanjikan percepatan penanganan kebocoran pintu nomor enam Bendung Jatimlerek, Kecamatan Plandaan, Jombang.

Meski terkendala derasnya arus Sungai Brantas, pemasangan kisdam atau bendungan sementara ditargetkan bisa rampung dalam dua hingga tiga minggu ke depan.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Irigasi dan Rawa BBWS Brantas Agung Purnayudha mengatakan, percepatan dilakukan agar dampak penghentian suplai irigasi ke lahan pertanian tidak berlangsung terlalu lama.

”Kami usahakan lebih cepat supaya dampaknya ke petani tidak terlalu lama,” ujarnya usai sosialisasi bersama petani dan pemerintah desa di Balai Desa Jatimlerek, Kecamatan Plandaan, Jombang, Jumat (29/5).

Baca Juga: Arus Sungai Brantas Terlalu Deras, Upaya Penutupan Kebocoran Dam Karet Jatimlerek Jombang Gagal

Menurut Agung, kisdam yang dibangun hanya bersifat penanganan darurat sebelum proyek rehabilitasi Bendung Jatimlerek dilakukan secara penuh.

”Jadi kisdam ini hanya penanganan sementara sebelum pekerjaan utama berjalan,” katanya.

Pekerjaan awal sebenarnya sudah dimulai di sisi selatan Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh. Pengisian jumbo bag bahkan telah dilakukan selama sepekan terakhir.

Namun pemasangan di aliran sungai belum bisa maksimal karena debit Sungai Brantas masih tinggi.

”Harusnya mulai hari ini (kemarin) sudah dipasang, tetapi kami masih melihat kondisi debit air,” imbuhnya.

Dia menjelaskan, kondisi Sungai Brantas berbeda dengan saluran irigasi biasa karena sangat dipengaruhi curah hujan di wilayah hulu.

”Kalau di saluran bisa ditutup pintunya. Kalau di sungai ini tergantung cuaca. Meski di Jombang tidak hujan, kalau Malang atau Blitar hujan tetap memengaruhi debit Sungai Brantas,” jelasnya.

BBWS Brantas sebelumnya memperkirakan penanganan membutuhkan waktu sekitar 57 hari.

Namun target tersebut kini dipercepat agar distribusi air ke lahan pertanian segera kembali normal. Kendala utama saat ini adalah kuatnya arus sungai yang berpotensi menghanyutkan material jumbo bag saat dipasang di dalam aliran air.

”Pasir di dalam jumbo bag bisa hilang kalau hanyut. Karena itu kami masih mencari metode yang paling aman untuk pemasangan,” ungkapnya.

Baca Juga: Jombang Beratap Buah Sejalan dengan Program Penghijauan Pemkab Jombang

Untuk penanganan darurat tersebut, BBWS Brantas menyiapkan sekitar 3.200 jumbo bag. Jumlah itu meningkat dari desain awal sekitar 1.200 jumbo bag setelah dilakukan evaluasi kebutuhan lapangan.

”Karena juga dipakai untuk jalur alat masuk. Lebarnya sekitar 6 sampai 9 meter dengan tinggi tiga meter atau tiga lapis jumbo bag,” katanya. 

Menurutnya, kisdam sengaja dibuat lebih tebal agar material pasir tidak mudah tergerus derasnya arus Sungai Brantas.

”Kalau dibuat tipis kami khawatir pasirnya hilang,” katanya. (fid/naz)

Editor : Ainul Hafidz
#bendung jatimlerek #dam karet jatimlerek #BBWS Brantas #Jombang