JombangBanget.id – Penelusuran jejak masa kecil Presiden pertama Indonesia, Soekarno, terus bergulir.
Komisi D DPRD Jombang bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P&K) Jombang turun langsung ke Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso, Rabu (20/5), untuk meninjau lokasi yang disebut sebagai titik nol Bung Karno.
Kedatangan rombongan legislatif itu bukan sekadar kunjungan biasa.
Mereka ingin melihat langsung kondisi lapangan sekaligus menggali informasi dari masyarakat sekitar dan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) yang selama ini melakukan kajian mengenai jejak sejarah Bung Karno di Jombang.
Baca Juga: Binrohtal: Tiga Tanda Ahli Ibadah Sejati, Salah Satunya Membenci Hawa Nafsu
Sekretaris Komisi D DPRD Jombang Rahmad Agung Saputra mengatakan, peninjauan lapangan dilakukan sebagai bagian dari upaya pendalaman data sebelum penetapan lebih lanjut dilakukan oleh pemerintah pusat.
”Kami Komisi D bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan melihat langsung kondisi di titik nol Bung Karno. Kami juga menggali informasi dari masyarakat sekitar serta mendengar penjelasan dari TACB bahwa masa kecil Bung Karno berada di Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso,” ujarnya.
Menurut Agung, hasil penelusuran di lapangan masih membutuhkan kajian lanjutan. Sebab, berbagai data dan dokumen yang ada perlu dikaji secara menyeluruh agar tidak menimbulkan perdebatan di kemudian hari.
”DPRD Jombang akan mengawal proses tersebut hingga ke tingkat kementerian,” bebernya.
Agung menilai persoalan tersebut harus diselesaikan berdasarkan bukti sejarah, bukan asumsi.
”Kami berharap nanti bisa ditetapkan sebagai titik nol Bung Karno. Kami secara konstitusi akan membantu memfasilitasi untuk mendorong itu. Yakin atau tidak, biar data yang berbicara," katanya.
Politikus tersebut menambahkan, DPRD telah mendorong Disdikbud Jombang agar segera melakukan audiensi dengan kementerian maupun balai kebudayaan guna memperkuat hasil kajian yang sudah dilakukan.
Selain itu, koordinasi juga dinilai perlu dilakukan dengan pemerintah provinsi agar tidak terjadi simpang siur informasi mengenai sejarah Bung Karno.
”Kami juga akan mengawal hasil audiensi tersebut. Harapannya semua bisa terbuka dan dibahas berdasarkan fakta-fakta yang ada," tandasnya.
Baca Juga: Tingkatkan Profesionalisme, Dinas P dan K Jombang Bina Ratusan Kepala Sekolah
Sementara itu, Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Jombang Nasrullah mengatakan, kajian mengenai lokasi lahir Bung Karno di Jombang sebenarnya telah berjalan cukup panjang.
Awalnya, isu tersebut berkembang di masyarakat hingga kemudian menarik perhatian untuk ditelusuri lebih dalam.
Dia mengungkapkan, pada 1985 dirinya pernah mendengar pengakuan seorang warga saat terlibat dalam pembangunan Monumen Perang Sebani di Sumobito.
Saat itu terdapat warga lanjut usia yang mengaku pernah merawat Bung Karno semasa kecil.
Namun saat itu informasi tersebut belum diyakini sepenuhnya. Hingga pada 2017 kajian mulai dilakukan lebih serius bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jombang.
”Kami mencari saksi-saksi mata sampai cucu cicitnya, dan keterangannya mengarah pada hal yang sama," katanya.
Dari hasil penelusuran yang dilakukan, TACB menemukan sejumlah dokumen yang dinilai memperkuat dugaan Bung Karno lahir di wilayah Ploso dan tinggal di kawasan tersebut hingga usia lima tahun.
Salah satu dokumen yang menjadi perhatian adalah data pendaftaran kuliah Bung Karno yang mencantumkan tahun kelahiran 1902.
Selain itu, terdapat pula dokumen perpindahan ayah Bung Karno ke Ploso pada 1901 yang dianggap menjadi bagian dari rangkaian bukti sejarah.
Baca Juga: Tanggul Afvoer Ndero Kedungbetik Jombang Rusak Usai Normalisasi, Kini Diperkuat Bronjong
Menurut Nasrullah, penyebutan Surabaya dalam sejumlah dokumen lama juga dimungkinkan karena pada masa itu wilayah Jombang masih masuk dalam Karesidenan Surabaya.
”Karena saat itu belum ada Kabupaten Jombang seperti sekarang, sehingga penyebutan Surabaya bisa jadi merujuk wilayah administratif pada masa itu,” pungkasnya.(yan/naz)
Editor : Ainul Hafidz