JombangBanget.id - Dampak jebolnya pintu nomor enam Bendung Karet Jatimlerek, Kecamatan Plandaan, Jombang mulai dirasakan petani di kawasan utara Sungai Brantas.
Saluran irigasi yang selama ini menjadi sumber utama pengairan sawah kini kering total sejak dua pekan terakhir.
Sebagian petani terpaksa mengandalkan sumur bor, sementara lainnya memilih menunda tanam karena kesulitan air.
Di Desa Karangmojo, Kecamatan Plandaan, aliran irigasi sudah berhenti total. Sebagian petani sudah memulai tanam, ada juga yang baru mempersiapkan lahan.
Baca Juga: BGN Ambil Sampel untuk Uji Lab, soal Telur Busuk MBG di Jombang
”Di salurannya sudah tidak ada air. Ada yang baru tanam, ada juga yang baru olah lahan. Karena kurang air akhirnya dibiarkan,” ujar Karsiman, salah seorang petani.
Musim tanam kali ini disebut menjadi yang paling berat. Lahan milik Karsiman termasuk yang terakhir ditanami padi dan kini mulai mengalami kekeringan.
”Sekarang mengandalkan sumur bor, itu pun terbatas,” imbuhnya.
Kondisi serupa terjadi di Desa Tanggungkramat, Kecamatan Plandaan. Sedikitnya 145 hektare sawah padi di desa itu ikut terdampak tersendatnya suplai air dari intake Bendung Jatimlerek.
Kepala Desa Tanggungkramat Widha Dwi Priyanto mengatakan, sebagian petani baru memasuki masa tanam. Namun minimnya debit air membuat petani waswas terhadap keberlangsungan tanaman mereka.
”Di sini semuanya padi. Sekarang sebagian sudah tanam dan lainnya baru mulai.” ujarnya.
Widha menyebut selama ini kebutuhan air pertanian di desanya sangat bergantung pada irigasi Jatimlerek. Sementara alternatif lain hanya sumur bor dengan kapasitas terbatas.
”Kalau hujan masih bisa membantu melanjutkan traktor dan tanam. Tapi jangka panjangnya belum tahu bagaimana kalau belum ada solusi,” tuturnya.
Pihak desa bersama sejumlah kepala desa lain sudah berkoordinasi dengan Dinas PUPR terkait kondisi tersebut.
Mereka berharap ada langkah cepat mengingat proyek rehabilitasi Bendung Jatimlerek dikabarkan masih berlangsung hingga tahun depan.
Baca Juga: Server Sempat Ngadat, TKA Susulan 700 Siswa SMP di Jombang Tetap Berjalan
Sebelumnya, pintu nomor enam Bendung Karet Jatimlerek mengalami kerusakan parah di tengah proyek rehabilitasi bendung.
Akibatnya, aliran air menuju intake irigasi terhenti total dan sedikitnya 1.816 hektare sawah di wilayah utara Brantas terancam kekeringan.
Sementara itu, proyek rehabilitasi Bendung Jatimlerek senilai Rp 268,33 miliar belum masuk tahap struktur utama.
Hingga awal Mei, pekerjaan masih berkutat pada penggalian saluran pengelak sementara di sisi selatan Sungai Brantas, Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh, serta pembangunan intake sementara di sisi utara.
Proyek rehabilitasi Bendung Jatimlerek merupakan program Kementerian PU melalui BBWS Brantas. Pekerjaan dilaksanakan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk dengan masa kontrak 720 hari kalender, terhitung sejak 15 Desember 2025 hingga 4 Desember 2027. (fid/naz)
Editor : Ainul Hafidz