Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Binrohtal: Ini Rahasia Salat yang Mencegah Dosa dan Kemaksiatan

Rojiful Mamduh • Kamis, 14 Mei 2026 | 06:42 WIB
Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang.
Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang.

JombangBanget.id - Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Ampel 3 Kecamatan Gudo, Jombang H Fauzi, menjelaskan pentingnya memperbaiki salat.

’’Kualitas salat yang baik membuat kita terhindar dari perbuatan keji dan mungkar,’’ tuturnya, saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Selasa (12/5).

Sebagaimana disebutkan di Surat Al-‘Ankabut 45. Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.

Agar salat benar-benar mencegah kemungkaran, maka harus menerapkan ilmu fikih dan tasawuf.

Baca Juga: Profil Ely Novito Sari, Jadi Guru Karena Menjaga Wasiat Ibu

Fikih mengajarkan tata cara salat yang benar sesuai syariat. Mulai dari bersuci, wudu, syarat sah salat, rukun salat, hingga hal-hal yang membatalkan salat. Tanpa fikih, ibadah bisa rusak atau tidak sah.

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Salatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku salat.

Orang muslim wajib belajar ilmu fikih agar ibadahnya benar. Imam Malik berkata: Barang siapa belajar fikih tanpa tasawuf, ia bisa menjadi fasik. Barang siapa belajar tasawuf tanpa fikih, ia bisa menjadi zindik.

Dan barang siapa menggabungkan keduanya, maka ia akan mencapai kebenaran.

Ini menunjukkan pentingnya keseimbangan antara syariat lahir dan kebersihan batin.

Tasawuf mengajarkan keikhlasan, kekhusyukan, adab, dan penyucian hati.

Banyak orang mampu berdiri lama dalam salat, tetapi pikirannya ke mana-mana. Lisannya membaca ayat, tetapi hatinya sibuk memikirkan dunia.

Allah Ta’ala berfirman di Surat Al-Mukminun 1–2. Sungguh beruntung orang-orang beriman, yaitu mereka yang khusyuk dalam salatnya.

Khusyuk inilah ruh salat. Tanpa kekhusyukan, salat hanya menjadi gerakan tubuh tanpa bekas dalam hati.

Hasan Al-Bashri berkata: Setiap salat yang tidak dihadiri hati, maka salat itu lebih dekat kepada hukuman daripada pahala.

Baca Juga: Siswa Kelas Akhir Wajib Tahu! Ujian Madrasah Jadi Penentu Kelulusan

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menjelaskan, salat sejati menghadirkan hati, rasa takut kepada Allah, dan pengagungan kepada-Nya.

Tanda salat diterima, berubahnya perilaku menjadi lebih baik. Jika seseorang selesai salat tetapi masih ringan melakukan dosa, berarti ada yang perlu diperbaiki dalam salatnya.

Sahabat Abdullah bin Mas‘ud radiyallahu anhu berkata: Barang siapa salatnya tidak mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar, maka ia tidak mendapatkan apa-apa dari salatnya selain semakin jauh dari Allah. 

Dikisahkan ada seorang pemuda yang rajin salat berjamaah di masjid, tetapi ia masih sering melakukan dosa.

Para sahabat mengadukan hal itu kepada Rasulullah. Beliau bersabda: Sesungguhnya salatnya suatu saat akan mencegah dirinya.

Beberapa waktu kemudian, pemuda itu benar-benar bertobat dan meninggalkan kemaksiatan.

Kisah ini mengajarkan bahwa salat yang terus dijaga perlahan akan membersihkan hati dan mengalahkan hawa nafsu.

Ada pula kisah para ulama salaf yang sangat menjaga kualitas salatnya.

Imam Ali Zainal Abidin ketika berwudu wajahnya berubah pucat. Saat ditanya sebabnya, beliau menjawab, ’’Tahukah kalian di hadapan siapa aku akan berdiri?’’

Begitulah rasa takut dan pengagungan para wali kepada Allah. Salat bagi mereka bukan beban, melainkan perjumpaan hati dengan Sang Pencipta. (jif/naz)

Editor : Ainul Hafidz
#rahasia salat #kemungkaran #Polres Jombang #Binrohtal #Jombang