KENAIKAN harga plastik merupakan efek domino dari dinamika global yang langsung melanda pasar dan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dalam negeri.
Harga bahan pokok naik. Terutama plastik yang harganya naik drastis hingga 80% di Indonesia.
Salah satu penyebab melonjaknya harga plastik adalah konflik geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu rantai pasok energi global.
Ini karena Indonesia ketergantungan impor bahan baku.
Baca Juga: Kinjera Moncer, Pemkab Jombang Tembus Empat Besar Nasional EPPD 2025
Industri petrokimia Indonesia masih sangat bergantung (sekitar 60-70%) pada pasokan bahan baku plastik impor, terutama dari kawasan timur tengah.
Dari sisi domestik kenaikan biaya produksi bahan baku plastik naik hingga 30-50%.
Ini memaksa produsen di Indonesia menaikkan harga jual produk. Termasuk kemasan makanan dan kebutuhan pokok lainnya.
Pedagang kecil dan UMKM tertekan karena biaya kemasan plastik meningkat drastis, menggerus pendapatan mereka.
Kenaikan ini berpotensi memicu inflasi dan menurunkan daya beli masyarakat secara domestik.
Pemerintah sendiri sedang menyiapkan strategi untuk menghadapi dampak kenaikan harga plastik bagi UMKM.
Menghadapi situasi tersebut, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan menyiapkan langkah jangka pendek dan jangka panjang.
Untuk jangka pendek, pemerintah membuka alternatif pasokan nafta dari kawasan yang relatif stabil seperti Afrika, India, dan Amerika.
Proses administrasi sedang disiapkan agar distribusi bahan baku dapat segera berjalan.
Dari sisi lain, pemerintah juga mendorong transformasi menuju penggunaan bahan baku alternatif yang lebih ramah lingkungan dan berbasis sumber daya domestik.
Baca Juga: Akhir Pelarian Sopir Truk Nakal, Jual Muatan Lalu Tinggalkan Truk di Jombang
Sejumlah bahan seperti bambu, rumput laut, dan singkong dinilai memiliki potensi besar diolah menjadi bioplastik sebagai alternatif kemasan yang menggantikan nafta.
Kementerian UMKM terus berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait serta pemerintah daerah untuk merumuskan langkah strategis yang berkelanjutan dalam menjaga stabilitas rantai pasok bahan baku plastik nasional.
Pemerintah juga sedang mengkaji berbagai kebijakan pendukung.
Antara lain subsidi penggunaan bioplastik. Penguatan rumah kemasan bersama. Penerapan prinsip pengurangan penggunaan plastik.
Serta pelatihan dan pendampingan untuk mendorong gaya hidup ramah lingkungan.
Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk berperan aktif dengan mengurangi penggunaan plastik dan meningkatkan praktik daur ulang sebagai bagian dari upaya bersama menjaga lingkungan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor.
Penulis:
Lustania Septi Anjani, Mahasiswa Prodi Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu politik Universitas Muhammadiyah Malang
Editor : Ainul Hafidz