JombangBanget.id – Pemkab Jombang menghadapi pekerjaan rumah besar (PR) dalam penataan pasar daerah.
Salah satunya terjadi di Pasar Pon Jombang yang belum genap empat tahun direhab, namun sudah banyak lapak ditinggalkan pedagang.
Pantauan di lokasi menunjukkan sedikitnya terdapat 48 lapak berbentuk meja berada di bagian belakang kios berpintu rolling door.
Dari jumlah tersebut, hanya sekira 20 lapak yang masih ditempati pedagang. Selebihnya kosong dan tidak terawat.
Baca Juga: Student Journalism Jombang: Juara Lomba Olimpiade PAI SMK se-Kabupaten Jombang
Kondisi lapak yang ditinggalkan memprihatinkan. Banyak di antaranya kotor, dipenuhi sarang laba-laba, serta terdapat sisa potongan kayu bekas berjualan.
Bahkan, satu lapak digunakan sebagai tempat penampungan sementara (TPS) sampah karena lokasinya berdekatan dengan TPS.
Imam Ghozali, salah satu pedagang sayur Pasar Pon mengungkapkan, sebagian besar lapak memang sudah lama tidak ditempati.
”Yang jualan di sini tinggal sedikit. Banyak yang kosong, kelihatan kotor semua, beda dengan yang masih dipakai,” katanya.
Ia memperkirakan, dari total 48 lapak yang dibangun, hanya sekitar 20 pedagang yang masih bertahan, mulai dari pedagang daging ayam hingga sayur-sayuran.
Menurutnya, banyak pedagang memilih pindah ke pasar induk yang berada di bagian dalam karena dinilai lebih ramai pembeli.
”Entah ke mana semuanya, tapi banyak yang jualan di pasar induknya. Di sini sepi,” imbuh warga Desa Mayangan, Kecamatan Jogoroto ini.
Dia mengaku tetap bertahan berjualan di lapak baru tersebut. Meski istrinya memilih berjualan di pasar induk.
”Saya tetap di sini, tapi istri saya jualan di dalam. Di sana lebih ramai, walaupun cuma pakai meja kecil,” ujarnya.
Baca Juga: Kokurikuler SDN Jombang 2 Angkat Budaya Nusantara, Siswa Belajar Tari hingga Wayang
Hal senada disampaikan Taufiqurrahman, pedagang daging ayam yang masih bertahan di lapak baru sejak selesai dibangun 2023 lalu.
Ia menyebut, sebagian pedagang hanya bertahan sebentar sebelum akhirnya pindah.
”Dulu sempat ditempati, ada yang cuma satu minggu. Karena sepi, akhirnya pindah jualan ke dalam,” ungkapnya.
Ia juga mengeluhkan penurunan penjualan yang cukup drastis. Jika sebelumnya mampu menjual 70–80 kilogram daging ayam, kini hanya sekitar 45 kilogram dan itu pun tidak menentu.
”Sekarang nggak sampai seperempatnya. Ya bertahan saja, entah sampai kapan,” ujarnya.
Para pedagang sebelumnya juga sudah menyampaikan keluhan kepada pengelola pasar agar dilakukan penataan ulang. Namun hingga kini, kondisi di lapangan belum banyak berubah.
”Banyak pedagang itu sekarang jualannya menyebar kembali ke area pasar lama,” katanya.
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagrin) Jombang Anjik Eko Saputro sebelumnya mengatakan, pihaknya kini aktif melakukan pendekatan langsung kepada pedagang untuk mengetahui kendala yang dihadapi.
”Kami mulai turun dan berkomunikasi dengan pedagang. Kami ingin tahu apa yang menjadi kendala mereka, termasuk alasan meninggalkan lapak,” ujarnya.
Dari hasil komunikasi sementara, minimnya pembeli menjadi faktor utama yang dikeluhkan pedagang.
Baca Juga: Meski Sudah Diterima, Truk KDKMP di Jombang Belum Difungsikan
Kondisi tersebut berdampak langsung pada menurunnya pendapatan. Meski demikian, pihaknya tetap mengimbau pedagang untuk kembali menempati lapak yang telah disediakan pemerintah.
”Kami harap pedagang bisa kembali berjualan di lapak yang sudah ada. Kalau memang ada kekurangan, khususnya sarana dan prasarana, tentu akan kami evaluasi,” tegasnya.
Sebagai informasi, proyek pembangunan Pasar Pon dilaksanakan pada 2022 dengan anggaran sebesar Rp 3,9 miliar.
Proyek tersebut semula ditargetkan selesai 15 Desember 2022, namun mengalami perpanjangan waktu hingga 3 Februari 2023 melalui adendum kepada rekanan pelaksana, CV Satu Jaya Trenggalek. (fid/naz)
Editor : Ainul Hafidz