Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Tafsir Aktual: Victory (1)

Rojiful Mamduh • Sabtu, 18 April 2026 | 06:31 WIB

 

Rubrik opini KH Mustain Syafii. (Radar Jombang)
Rubrik opini KH Mustain Syafii. (Radar Jombang)

IDZA ja’a nashr Allah wa al-fath.

Perlu sekali, kata-kata pada awal surah ini dipreteli, meski tidak detail. Idza, artinya  jika, apabila, ketika.

Begitu juga lafadz  ’’in’’, terjemah Indonesianya sama.

Ya, tapi bahasa Alquran membedakan.  Idza itu untuk pengandaian atas terjadinya sesuatu yang sifatnya biasa dan memang lazim terjadi.

Kata ’’idza’’ pada ayat ini dirangkai dengan kata ’’nashr Allah’’, (bantuan Tuhan) sebagai predikat atau al-fa’il. Ya, memangnya begitu.

Baca Juga: Tambalan Aspal Tak Bertahan Lama, Jalan Jombang-Ploso Kembali Rusak

Bantuan Tuhan itu sering sekali terjadi dan kita nikmati. Cuma kita sendiri yang kadang abai.

Rezeki lancar, terus menerus dan kebutuhan sehari-hari tercukupi. Badan sehat-sehat saja meski cuaca ekstrim. Bisa bangun pagi dalam keadaan sehat, lalu beribadah dan beraktivitas.

Sementara yang bangun pagi dan kakinya kreyeng-kreyeng, leher kaku juga banyak. Bahkan ada yang tak bangun selamanya.

Makanya, kok sampai ada manusia tidak bersyukur ketika bisa bangun pagi itu kebacut and kebangetan..puoll..

Sedangkan kata  ’’In’’ dipakai sebagai bahasa pengandaian untuk hal-hal yang jarang terjadi atau insidental.

Wa in kuntum junuba fattahharu. Kalau kamu dalam keadaan junub, hadas besar, seperti bersetubuh dengan istrit.

Hubungan suami istri itu kan insidental, lebih jarang terjadi ketimbang makan dan minum.

Ja’a (idza ja’a nashr Allah wa al-fath), artinya datang. Seri terjemah Indonesia identik dengan kata ata, hadlara, qadima.

Ada beda:  Ja’a, datang, tiba, terjadi. Kata ja’a biasa dipakai untuk membahasakan kejadian yang monumental.

Baca Juga: Kondisi Pasar Perak Jombang Ternyata Sudah Separah Ini, Begini Curhatan Para Pedagang

Sesuatu yang dicapai malalui usaha keras, jerih payah dan perjuangan.

Seperti pada surah ini, yakni: Kemenangan umat Islam (al-nashr) dalam menghadapi musuh.

Juga ’’al-Fath’’, penaklukan kota Makkah menjadi wilayah dibawah kekuasaan umat Islam.

Sebelumnya, Makkah kejam sekali dan tega mengusir Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam.

Padahal beliau lahir di situ, putra negeri itu.

Aneh lagi, kata ja’a di dalam Alquran hanya dipakai khusus fi’il madly-nya saja, bentuk lampau saja.

Ya, pokoknya hanya fi’il madly saja, baik mabni ma’lum-nya seperti pada ayat kaji ini. Maupun mabni majhul-nya.

(Simak secara seksama pada al-Fajr 22 dan 23). Selain madly-nya, baik mudlari’ maupun seluruh derivasinya tak dipakai, tak ada dalam Alquran.

Sementara kata ’’ata’’, untuk membahasakan sesuatu yang biasa, yang sering, mudah terjadi.

Makanya, baik fi’il madly, mudlari’ dan semua derivasi-nya ada dalam Alquran.

Baca Juga: Koper Haji di Jombang Mulai Dibagikan, Ini Jadwal Lengkap Pengumpulan Sesuai Kloter

Inilah kehebatan Alquran, di mana penggunaan kata disesuaikan dengan kondisi obyektif yang mengitari.

Artinya, Alquran berpesan agar orang beriman tidak ngawur kala berbicara.

Dilihat dan diperhatikan konteksnya. Lalu dipilih bahasa yang tepat. Juga kepada pemerintah yang punya kebijakan.

Seperti MBG yang sudah jelas gak genah dan banyak masalah. Wong goblok saja mengerti itu.

Baca Juga: Koper Haji di Jombang Mulai Dibagikan, Ini Jadwal Lengkap Pengumpulan Sesuai Kloter

Mbok yo segera dihentikan dan diganti dengan kebijakan yang lebih manfaat. Seperti pendidikan gratis dan lain-lain. (bersambung, in sya’ Allah). (*)

Penulis:

KH Mustain Syafii

Editor : Ainul Hafidz
#victory #Tebuireng #KH Mustain Syafii #Jombang #Tafsir Aktual