JombangBanget.id - Pengasuh PP Hidayatul Quran, Sentul, Tembelang, Jombang, Ustad Yusuf Hidayat Alhafiz, menjelaskan tanda zaman akhir.
’’Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Kondisi umat di akhir zaman, kemaksiatan merajalela, amar makruf nahi mungkar ditinggalkan, hingga akhirnya manusia terbalik dalam menilai. Yang baik dianggap buruk, dan yang buruk dianggap baik. Bahkan lebih parah, manusia justru mengajak kepada kemungkaran dan melarang kebaikan. Lalu Allah menimpakan fitnah yang membuat orang-orang bijak pun kebingungan,’’ tuturnya, saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Selasa (14/4).
Pertama, awal kerusakan ketika kemaksiatan dianggap biasa.
Ketika dosa dianggap hal biasa, hati perlahan menjadi mati.
Abdullah bin Mas'ud radiyallahu anhu berkata: Kebinasaan itu ketika seseorang tidak lagi merasa bersalah atas dosa yang ia lakukan.
Baca Juga: Jauh di Atas HPP, Harga Gabah di Jombang Naik Signifikan Capai Segini
Rusaknya hati dimulai saat dosa tidak lagi terasa sebagai kesalahan. Seorang tabi’in melihat seseorang tertawa setelah berbuat dosa.
Ia berkata, ’’Engkau tertawa, padahal engkau baru saja bermaksiat? Demi Allah, dosa itu lebih pantas membuatmu menangis.’’ Orang itu pun tersentak dan bertobat.
Kedua, hilangnya amar makruf nahi mungkar.
Allah Ta’ala berfirman di Surat Ali ‘Imran 104. Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan.
Nabi bersabda; Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu maka dengan lisannya. Jika tidak mampu ingkarlah dalam hati dan itulah selemah-lemahnya iman.
Ketika kewajiban ini ditinggalkan, maka kerusakan akan merata.
Diam terhadap kemungkaran bisa menjadi sebab tersebarnya keburukan.
Pada masa Hasan al-Basri, beliau melihat seseorang diam terhadap kemungkaran.
Hasan berkata: ’’Engkau diam, padahal engkau mampu menegur? Ketahuilah, diammu itu adalah bagian dari dosa.’’
Orang itu pun menangis dan mulai memperbaiki diri.
Ketiga, terbaliknya nilai: Makruf jadi mungkar, mungkar jadi makruf.
Inilah fase yang paling berbahaya.
Ketika hati sudah tertutup, seseorang tidak lagi mampu membedakan kebenaran.
Allah Ta’ala mengingatkan di Surat Fatir 8. Orang yang dijadikan (setan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk, lalu dia meyakini pekerjaan itu baik.
Kebanggaan terhadap dosa adalah tanda terbaliknya fitrah.
Seorang wali, Ibrahim bin Adham, melihat suatu kaum bangga dengan kemaksiatan mereka.
Beliau berkata: ’’Dahulu kalian berdosa lalu malu. Kini kalian berdosa lalu bangga. Itu tanda hati telah mati.’’
Keempat, mengajak kepada kemungkaran, melarang kebaikan.
Ini adalah puncak fitnah yang disebut dalam hadis tersebut. Allah Ta’ala berfirman di Surat Ibrahim 28.
Baca Juga: Identitas Mayat Tanpa Busana di Megaluh Jombang Terungkap, Ternyata Warga Kediri
Tidakkah engkau melihat orang-orang yang menukar nikmat Allah dengan kekufuran.
Dalam kondisi ini, kebenaran dianggap ancaman, dan kebatilan dianggap kebebasan.
Ketika kebenaran tidak disuarakan, kebatilan akan mengambil tempat. Seorang ulama besar, Imam Malik, pernah ditanya: ’’Kapan kehancuran umat terjadi?’’
Beliau menjawab: ’’Ketika orang bodoh berbicara dalam urusan agama, dan orang berilmu memilih diam.’’
Kelima, Allah Ta’ala akan menurunkan fitnah yang membuat orang bijak pun bingung.
Rasulullah bersabda: Akan datang fitnah seperti potongan malam yang gelap.
Di tengah kebingungan, ukuran utama adalah kebenaran, bukan mayoritas.
Pada masa fitnah besar, Ali bin Abi Thalib radiyallahu anu berkata: ’’Kenalilah kebenaran, niscaya engkau akan mengenal siapa yang benar.’’ (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz