JombangBanget.id - Pengasuh PP Al-Fathimiyah Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, KH Abdulloh Rif'an Nasir LC, menjelaskan pentingnya ibadah proporsional dan mengikuti Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam.
’’Nabi pernah menegur sahabat yang ibadah berlebihan,’’ tuturnya, saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Rabu (8/4).
Tiga orang sahabat datang kepada istri-istri Nabi untuk menanyakan bagaimana ibadah beliau. Mereka terkejut ketika mengetahui bahwa ibadah Nabi tidak ’’seberat” yang mereka bayangkan.
Mereka kemudian bertekad: Ada yang ingin salat malam terus tanpa henti. Ada yang ingin berpuasa setiap hari. Ada yang ingin tidak menikah agar fokus ibadah.
Baca Juga: Maju Muscab, Kartiyono Bawa Misi Besar: PKB Jombang Digdaya
Ketika hal ini sampai kepada Rasulullah, beliau bersabda: Demi Allah, aku adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian.
Namun aku berpuasa dan berbuka, aku salat dan tidur, dan aku menikahi wanita.
Maka barang siapa yang tidak menyukai sunahku, ia bukan termasuk golonganku.
Allah Ta’ala berfirman di Surat Al-Baqarah 286. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
Rasulullah mengajarkan bahwa keseimbangan adalah bagian dari agama. Dalam hadis lain disebutkan: Sesungguhnya agama ini mudah, dan tidaklah seseorang mempersulit agama kecuali ia akan dikalahkan olehnya.
Ibadah yang berlebihan akan menimbulkan kebosanan. Sedangkan ibadah yang dilakukan secara proporsional akan melahirkan konsistensi (istiqamah).
Seorang tabi’in bernama Hasan al-Bashri melihat seseorang yang beribadah sangat keras hingga meninggalkan keluarganya.
Ia berkata, ’’Agamamu bukan untuk merusak duniamu.’’
Orang itu pun kembali menata hidupnya dan menjadi lebih seimbang—ibadahnya justru menjadi lebih lama bertahan.
Rasulullah bersabda: Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling istiqamah meskipun sedikit.
Baca Juga: Cermin yang Gagal Memantul
Abdullah bin Mas’ud radiyallahu ‘anhu berkata: Sesungguhnya hati itu memiliki semangat dan kejenuhan.
Maka ambillah ia saat semangatnya, dan biarkan saat jenuhnya.
Seorang wali pernah ditanya, ’’Mengapa engkau tidak memperbanyak ibadah seperti si fulan?’’
Ia menjawab, ’’Aku memilih ibadah yang membuatku sampai ke akhir, bukan yang membuatku berhenti di tengah jalan.’’
Dan benar, ia dikenal sebagai orang yang istiqamah hingga wafatnya.
Berlebihan (ghuluw) dalam agama bisa membawa dampak buruk: Kelelahan, kebosanan, bahkan meninggalkan ibadah itu sendiri.
Rasulullah bersabda: ’’Celakalah orang-orang yang berlebihan.’’
Allah Ta’ala berfirman di Surat An-Nisa 171. Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan dalam agamamu.
Ibadah dalam Islam bukan perlombaan ekstremitas, melainkan perjalanan panjang menuju Allah dengan penuh keseimbangan.
Mengikuti sunnah Nabi berarti meneladani cara beliau beribadah: Tidak malas, namun juga tidak berlebihan.
Baca Juga: 17 Karateka Jombang Dipanggil Inkanas Jatim, Siap Tempur di Seleknas
Jalan terbaik adalah ikhlas dalam niat. Sesuai dengan tuntunan Nabi. Dilakukan secara konsisten. Serta tidak membebani diri di luar kemampuan.
Bahkan dalam sedekah pun kita dianjurkan tidak berlebihan. Sebagaimana disebutkan di Surat Alfurqon 67.
Dan orang-orang yang apabila berinfak, mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz