JombangBanget.id - Mudir Ma'had Aly Tebuireng, Jombang, Dr KH Achmad Roziqi, menjelaskan manfaat halalbihalal.
’’Halalbihalal itu mengembalikan fitrah, menyempurnakan ampunan,’’ tuturnya, saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Kamis (9/4).
Manusia pada hakikatnya diciptakan dalam keadaan suci.
Baca Juga: 12 Kursi Kades di Jombang Kosong, Ini Daftar Desa dan Penyebabnya
Dalam sebuah hadis qudsi Allah Ta’ala berfirman: Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku semuanya dalam keadaan lurus (hanif), kemudian setan-setan datang kepada mereka lalu memalingkan mereka dari agama mereka.
Kata hunafa-a merupakan bentuk jamak dari hanif. Sosok yang condong kepada kebenaran dan berpaling dari kebatilan.
Maknanya, manusia diciptakan di atas fitrah Islam: Bersih dari dosa, lurus, dan siap menerima kebenaran.
Namun realitas kehidupan menunjukkan, godaan setan kerap menggelincirkan manusia dari jalan tersebut—mengaburkan yang hak, menghias kebatilan, bahkan mendorong pada kesyirikan tanpa dasar hujjah.
Di sinilah Ramadhan hadir sebagai momentum proses penyucian.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Barang siapa berpuasa Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni baginya dosa-dosanya yang telah lalu.
Dan barang siapa menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni baginya dosa-dosanya yang telah lalu.
Imam Izzuddin bin Abdussalam menjelaskan, puasa menjadi sebab keselamatan dari api neraka. Puasa menjadi sarana menghapus dosa-dosa.
Ampunan yang diperoleh melalui ibadah-ibadah tersebut berkaitan dengan dosa-dosa yang berhubungan dengan hak Allah, khususnya dosa-dosa kecil.
Sedangkan dosa dengan sesama manusia harus diselesaikan dengan sesama manusia.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Barang siapa memiliki kezaliman terhadap saudaranya, baik menyangkut kehormatannya (nama baik) atau sesuatu yang lain, maka hendaklah ia meminta kehalalan darinya hari ini, sebelum datang suatu hari yang tidak ada lagi dinar dan dirham.
Baca Juga: DPRD Jombang Apresiasi Langkah Tegas Pemkan, Hentikan Pembangunan Pabrik Pengolahan Ayam Ilegal
Jika ia memiliki amal saleh, maka akan diambil darinya sesuai kadar kezalimannya.
Dan jika ia tidak memiliki kebaikan, maka akan diambil dari keburukan saudaranya lalu dibebankan kepadanya.
Dosa sosial tidak cukup ditebus dengan ibadah personal.
Harus diselesaikan langsung dengan permohonan maaf, pengembalian hak, atau kerelaan dari pihak yang dizalimi.
Tanpa itu, pahala kebaikan dapat berpindah kepada pihak yang dizalimi. Bahkan dosa mereka ditimpakan kepada pelaku kezaliman.
Dalam konteks inilah tradisi halalbihalal menjadi penting.
Bukan sekadar budaya saling bermaafan pasca-Idul Fitri, melainkan manifestasi konkret dari ajaran Islam dalam menyelesaikan hak Adami.
Halalbihalal menjadi jembatan untuk mengembalikan relasi sosial yang retak. Sekaligus menyempurnakan penyucian diri yang telah ditempa selama Ramadan.
Halalbihalal juga menjadi ajang silaturahmi. Rasulullah bersabda: Bukanlah orang yang menyambung (silaturahmi) itu orang yang hanya membalas kebaikan.
Tetapi orang yang benar-benar menyambung adalah yang tetap menyambung hubungan ketika tali kekerabatannya diputus.
Baca Juga: Santri PKPPS Ulya Ikuti UAN di Jombang, Ini Syarat Kelulusannya
Halalbihalal bukan hanya tentang meminta maaf kepada mereka yang kita sakiti, tetapi juga tentang membuka pintu maaf bagi mereka yang pernah menyakiti kita.
Ini menjadi penyempurna dari seluruh rangkaian ibadah Ramadan.
Puasa dan qiyam menghapus dosa vertikal, maka silaturahim dan saling memaafkan menghapus dosa horizontal.
Keduanya berpadu untuk mengembalikan manusia pada fitrah awalnya: suci, bersih, dan dekat dengan Allah Ta’ala. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz