JombangBanget.id - Ustad Muhammad Nur Iskandar dari Pondok Pesantren Al Muhsinin, Tugu, Kepatihan, Jombang, menjelaskan pentingnya cinta dengan sesama manusia.
’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya sendiri,’’ tuturnya, saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Selasa (7/4).
Ini menjadi fondasi utama dalam membangun hubungan sosial dalam Islam.
Baca Juga: Auto2000 Jombang Luncurkan New Veloz Hybrid, Ini Keunggulan dan Promo Menariknya
Iman bukan sekadar ibadah pribadi, tetapi juga tercermin dalam sikap sosial. Allah Ta’ala berfirman di Surat Alhujurat 10.
Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Keimanan menuntut kita untuk merasakan apa yang dirasakan saudara kita.
Abdullah bin Umar radiyallahu ‘anhuma pernah diberi hadiah seekor kambing. Beliau justru berkata; ’’Saudaraku si fulan lebih membutuhkan ini.’’
Hadiah itu pun berpindah dari satu rumah ke rumah lain hingga kembali lagi kepadanya.
Ini menunjukkan bahwa para sahabat tidak hanya memahami hadis, tetapi menghidupkannya dalam keseharian.
Ini juga menunjukkan pentingnya mendahulukan orang lain dalam hal dunia. Allah memuji kaum Ansor di Surat Alhasyr 9.
Dan mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri, meskipun mereka dalam kesusahan.
Sikap ini disebut itsar, mendahulukan kepentingan orang lain daripada diri sendiri.
Ada tiga orang yang terluka parah di medan perang. Ketika salah satu diberi air, ia berkata, ’’Berikan kepada saudaraku.”
Ketika air diberikan orang kedua, dia juga berkata; ’’Berikan kepada saudaraku.”
Orang ketiga ketika diberi juga berkata; ’’Berikan kepada saudaraku.”
Hingga akhirnya kembali ke orang pertama—namun semuanya telah wafat tanpa sempat minum.
Baca Juga: Honda PCX atau Yamaha NMAX? Ini Drama Pemilihan Motor Baru untuk Kades di Jombang
Rasulullah lalu bersabda; Ketiganya masuk surga karena mengutamakan orang lain mengalahkan dirinya sendiri. Inilah puncak cinta karena iman.
Hadis di atas juga menunjukkan pentingnya menghilangkan hasad dan dengki. Mencintai kebaikan untuk orang lain berarti membersihkan hati dari iri dan dengki.
Ketika orang lain memiliki sesuatu yang kita senang memilikinya, maka kita harus ikut merasa senang.
Rasulullah bersabda: Jauhilah hasad, karena hasad memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.
Seorang tabi’in bernama Hasan Al-Bashri pernah ditanya; Apakah seorang mukmin bisa dengki?
Beliau menjawab; ’’Lupa kah engkau pada kisah saudara-saudara Nabi Yusuf?’’
Penyakit hati bisa muncul, tetapi iman menuntut kita untuk melawannya. Hadis di atas juga mengajarkan empati, merasakan kesusahan orang lain.
Rasulullah bersabda: Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kasih sayang seperti satu tubuh.
Jika satu anggota sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.
Seorang wali Allah melihat tetangganya kelaparan. Ia tidak bisa tidur sepanjang malam karena memikirkan kondisi tetangganya, hingga akhirnya ia memberikan seluruh makanan yang dimilikinya.
Inilah iman yang hidup—bukan sekadar teori. Mencintai orang lain seperti diri sendiri membutuhkan latihan: Menghilangkan ego.
Membiasakan berbagi. Serta mendoakan kebaikan untuk orang lain.
Seorang ulama salaf berkata: Aku lebih suka mendoakan kebaikan untuk saudaraku, karena malaikat akan mendoakan hal yang sama untukku.
Ini menunjukkan bahwa mencintai orang lain justru membawa kebaikan kembali kepada diri sendiri. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz