Binrohtal: Maksiat Memikat, tapi Ini Tiga Keuntungan Menjauhinya

Rojiful Mamduh • Dipublikasikan Sabtu, 4 April 2026 | 07:08 WIB

 

Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang
Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang

 

JombangBanget.id - Sekretaris Pergunu Jatim dari PP Al Aqobah, Kwaron, Diwek, Jombang, H Ahmad Faqih, menjelaskan keutamaan meninggalkan maksiat.

’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Barangsiapa yang meninggalkan kehinaan maksiat, lalu melaksanakan kemuliaan taat, maka Allah akan menjadikannya sebagai orang yang kaya tanpa harta, kuat tanpa pasukan, dan menang tanpa bala bantuan,’’ tuturnya, saat ngaji usai salat Duha di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Rabu (1/4).

Manusia sering tertipu oleh kenikmatan sesaat dari maksiat. Padahal, kemuliaan sejati justru lahir dari ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Baca Juga: Student Journalism: Nilai Manusia Ditentukan Akhirnya

Meninggalkan maksiat adalah awal kemuliaan. Allah Ta’ala berfirman di Surat At-Talaq 2. 

Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar.

Meninggalkan maksiat adalah bentuk nyata dari takwa.

Saat seseorang berani meninggalkan dosa, sebenarnya ia sedang membuka pintu pertolongan Allah Ta’ala.

Baca Juga: Hilang Konsentrasi, HR-V Tabrak Truk Tangki hingga Terpental di Tol Jombang-Mojokerto

Hasan al-Basri berkata: Mereka (para ahli maksiat) dimuliakan oleh dunia, padahal dalam hati mereka penuh kehinaan.

Ada pemuda yang selalu tergoda untuk berbuat zina. Suatu hari, ia hampir melakukannya, namun ia teringat bahwa Allah selalu melihatnya.

Ia pun mengurungkan niatnya dan pergi.

Beberapa waktu kemudian, Allah menggantinya dengan kemudahan hidup dan ketenangan hati yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Ia berkata, ’’Aku meninggalkan sesuatu karena Allah, dan Allah menggantinya dengan yang lebih baik.’’

Ketaatan melahirkan kekayaan tanpa harta. Rasulullah bersabda: Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya hati.

Ketaatan menjadikan hati merasa cukup (qana’ah), sehingga seseorang tidak bergantung pada dunia.

Baca Juga: Tafsir Aktual: Quraisy (6)

Ali bin Abi Thalib berkata: Sesungguhnya kekayaan dan kemiskinan itu setelah dihisab.

Seorang ulama besar, Imam Ahmad bin Hanbal, hidup dalam kesederhanaan.

Namun, ketika beliau diuji dan ditawari kekayaan agar meninggalkan kebenaran, beliau menolak.

Namanya pun harum sepanjang zaman, sementara para penguasa yang menawarinya harta justru dilupakan. Inilah kekayaan sejati—bukan pada harta, tapi pada kemuliaan hati.

Ketaatan menjadikan kuat tanpa pasukan. Allah Ta’ala berfirman di Surat Ali Imran 160. 

Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkan kamu.

Kekuatan sejati bukan pada jumlah, tetapi pada pertolongan Allah Ta’ala.

Ibn Taymiyyah berkata: Apa yang bisa dilakukan musuh terhadapku? Surgaku ada di dalam hatiku.

Saat Ibn Taymiyyah dipenjara, beliau tetap tenang dan bahkan menjadikan penjara sebagai tempat ibadah.

Murid-muridnya berkata bahwa beliau terlihat lebih bahagia di dalam penjara daripada di luar.

Baca Juga: 11 Desa di Jombang Mulai Proses KDAW, Dua Desa Siap Jaring Bacalon Kades

Ini menunjukkan bahwa kekuatan sejati berasal dari hubungan dengan Allah, bukan dari kekuatan fisik atau pasukan.

Ketaatan membawa kemenangan tanpa bala bantuan. Allah Ta’ala berfirman di Surat Al-Baqarah 249.

Berapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.

Kemenangan bukan soal jumlah, tetapi keberkahan.

Peristiwa Perang Badar menjadi bukti nyata. Kaum Muslimin yang hanya 313 orang mampu mengalahkan pasukan Quraisy berjumlah seribu lebih.

Umar bin Khattab berkata; Kita adalah kaum yang dimuliakan oleh Islam. Jika kita mencari kemuliaan selain dari itu, Allah akan menghinakan kita.

Ada dai di sebuah desa terpencil yang berdakwah sendirian.

Awalnya ia ditolak, bahkan dicemooh. Namun karena keistiqamahannya, perlahan masyarakat berubah.

Tanpa kekuatan besar, tanpa dukungan luas, ia berhasil mengubah banyak hati. Inilah kemenangan tanpa bala bantuan.

Hidup ini pilihan: Antara maksiat yang tampak nikmat namun berujung kehinaan.

Atau ketaatan yang mungkin berat namun berujung kemuliaan. (jif/naz)

Editor : Ainul Hafidz
menjauhi maksiat Polres Jombang Binrohtal Jombang maksiat